Anak Sapi Berkaki Dua Lahir di Imogiri, Bantul, Disusui Pakai Dot

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 25 September 2026 22:47 WIB
Anak Sapi Berkaki Dua Lahir di Imogiri, Bantul, Disusui Pakai Dot

Penampakan anak sapi berkaki dua milik warga Kedungjati, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Kamis (24/9/2026)./Harian Jogja-Yosef Leon

Harianjogja.com, BANTUL— Pemandangan tak biasa terjadi di kandang milik Adi Wiyono, 60, warga Kedungjati, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Seekor anak sapi berjenis metal lahir hanya dengan dua kaki yang berada di bagian belakang tubuhnya.

Anak sapi tersebut lahir pada Senin dini hari sekitar pukul 00.00 WIB. Proses kelahirannya berlangsung normal tanpa kendala sehingga Adi sempat tidak menyadari adanya kondisi berbeda pada anak sapi tersebut.

“Saya kira biasa saja lahirnya. Minggu jam 12 itu induknya sudah menghadap duduk, seperti mau melahirkan. Saya tunggu sampai lahir, setelah itu saya bersihkan,” kata Adi, Kamis (24/9/2026).

Kaki Depan Anak Sapi Tidak Ada

Setelah dilahirkan, anak sapi masih dalam kondisi terbungkus selaput. Adi kemudian membersihkannya seperti proses kelahiran sapi pada umumnya dan membantu induknya merawat anak yang baru lahir tersebut.

Keanehan baru diketahui beberapa jam kemudian. Saat anak Adi pulang dari bekerja sekitar pukul 04.00 WIB, anak sapi tersebut diangkat.

Saat itulah mereka menyadari bahwa bagian kaki depan anak sapi tidak ada.

“Anak saya bilang, kok tidak ada kakinya. Saya lihat ternyata memang tidak ada, hanya halus begitu,” ujarnya.

Adi mengatakan induk sapi tersebut baru pertama kali melahirkan. Selama masa kebuntingan, perawatan induk sapi juga dilakukan seperti biasa.

Kebuntingan sapi diperoleh melalui inseminasi buatan sebanyak dua kali. Menurut Adi, kondisi induk sapi juga sehat ketika mendekati proses melahirkan.

“Perawatannya biasa saja. Sehat sekali waktu mau melahirkan,” katanya.

Harus Diangkat Saat Menyusu

Kondisi fisik anak sapi membuat Adi harus memberikan perhatian lebih, terutama untuk memastikan kebutuhan susu tetap terpenuhi.

Anak sapi tersebut tidak dapat menyusu secara normal karena tidak memiliki kaki bagian depan. Jika ingin menyusu langsung kepada induknya, Adi harus mengangkat tubuh anak sapi tersebut.

Namun, cara itu tidak selalu mudah karena induk sapi terkadang rewel. Adi akhirnya memilih memerah susu induknya terlebih dahulu untuk kemudian diberikan kepada anak sapi menggunakan dot.

“Kalau mau menyusu saya angkat, tapi karena susah dan induknya rewel jadi susunya saya perah, kemudian saya masukkan ke dot,” katanya.

Cara tersebut kini dilakukan agar anak sapi tetap memperoleh asupan susu meski memiliki keterbatasan pada bagian kaki.

Belum Diberi Nama

Meski memiliki kondisi berbeda dibandingkan sapi pada umumnya, anak sapi tersebut hingga kini belum diberikan nama khusus oleh Adi.

Adi juga belum menentukan sepenuhnya bagaimana nasib anak sapi tersebut ke depan. Jika kondisinya memungkinkan untuk terus hidup dan dirawat, ia berencana mempertahankannya.

Namun, jika kondisi anak sapi tersebut tidak memungkinkan untuk dipelihara, Adi mengaku akan menyerahkan keputusan sesuai dengan keadaan.

“Kalau bisa hidup ya saya pelihara. Pokoknya sebisanya diupayakan,” ujarnya.

Kelainan Bawaan yang Jarang Terjadi

Secara ilmiah, kelahiran sapi dengan hanya dua kaki merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi. Kondisi tersebut dapat termasuk dalam defek kongenital atau kelainan bawaan yang terjadi ketika perkembangan embrio mengalami gangguan.

Dalam kondisi tertentu, pertumbuhan tungkai dapat gagal berkembang secara normal sejak masa awal kebuntingan. Sejumlah faktor dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan embrio, antara lain faktor genetik, gangguan nutrisi, infeksi selama kebuntingan maupun paparan zat tertentu.

Sapi secara normal merupakan mamalia berkaki empat. Karena itu, anak sapi yang lahir hanya dengan dua kaki merupakan anomali perkembangan anatomi, bukan jenis atau spesies sapi baru.

Bagi Adi, kelahiran anak sapi tersebut menjadi pengalaman yang tidak biasa selama memelihara sapi. Kini, perhatian lebih banyak diberikan untuk mengawasi kondisi anak sapi, terutama memastikan kebutuhan susu tetap terpenuhi agar dapat bertahan hidup.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online