Gerakan Pangan Murah Digelar di Bantul, Beras Premium Dijual Rp14.000

Kiki Luqman
Kiki Luqman Jum'at, 23 Oktober 2026 21:57 WIB
Gerakan Pangan Murah Digelar di Bantul, Beras Premium Dijual Rp14.000

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengunjungi pasar murah di Pendopo II Pemda Manding./harian Jogja- Kiki Luqman

Harianjogja.com, BANTUL—Gerakan Pangan Murah (GPM) menjadi upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menjaga daya beli masyarakat di tengah perubahan harga bahan pokok. Melalui program ini, warga dapat membeli beras premium seharga Rp14.000 per kilogram, lebih murah dibandingkan harga pasaran yang telah melampaui Rp16.000 per kilogram.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul di Pendopo II Pemda Manding, Jumat (23/10/2026), itu menyediakan beragam kebutuhan pangan. Selain beras, masyarakat bisa mendapatkan minyak goreng, gula pasir, telur, dan sayuran dengan harga di bawah pasaran.

Sejak kegiatan dibuka pada pagi hari, warga mulai berdatangan untuk berbelanja. Selisih harga menjadi daya tarik bagi masyarakat yang ingin menekan pengeluaran rumah tangga tanpa mengurangi pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan GPM merupakan salah satu langkah pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.

Menurut Aris, program tersebut juga melibatkan kelompok tani dari berbagai kalurahan di Bantul. Keterlibatan petani lokal menambah pilihan bahan pangan yang tersedia bagi masyarakat sekaligus mendukung peran mereka dalam penyediaan kebutuhan pangan.

"Yang patut kita apresiasi yang jualan sembako itu tidak hanya pedagang namun ada dari kelompok tani dari berbagai kalurahan di Bantul dengan harga yang lebih murah dari harga di pasaran," ungkapnya.

Aris mencontohkan beras premium merek Mapan yang dijual Rp14.000 per kilogram dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, harga beras yang sama di pasaran telah berada di atas Rp16.000 per kilogram.

Selain beras, sejumlah komoditas lain juga ditawarkan dengan harga lebih rendah. Komoditas tersebut meliputi minyak goreng, cabai, bawang merah, bawang putih, tepung terigu, dan telur.

Ia menegaskan Pemkab Bantul akan terus berupaya memastikan masyarakat memiliki akses terhadap bahan pangan dengan harga yang wajar. Menurutnya, kebutuhan pangan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat sehingga menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah.

"Pemkab Bantul akan terus hadir untuk masyarakat, apalagi ini menyangkut perut warga. Saya pastikan Pemkab Bantul hadir dan memberikan solusinya," katanya.

Harga Telur Lebih Murah Rp3.000 per Kilogram

Perbedaan harga dalam GPM juga dirasakan pedagang dan pembeli. Jaya, 65, pedagang telur ayam negeri yang ikut berjualan dalam kegiatan tersebut, mengatakan telur menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari warga.

Dalam GPM Bantul, telur dijual Rp22.000 per kilogram. Harga itu lebih rendah Rp3.000 dibandingkan harga di pasaran yang masih mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram, sehingga pembeli dapat menghemat pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga.

"Ya hari banyak warga yang menyerbu membeli telur ayam negeri dengan harga Rp22 ribu perkilogram, sedangkan harga di pasaran saat ini masih Rp25 ribu perkilogram," kata Jaya.

Jaya menjelaskan harga telur yang lebih murah dimungkinkan karena adanya subsidi pemerintah untuk sejumlah komoditas yang dijual dalam GPM.

"Saya jualan telur dengan harga Rp22 ribu perkilogram karena dapat subsidi Rp3 ribu dari pemerintah. Yang jualan beras jenis premium seperti Mapan hanya dijual Rp14 ribu perkilogram karena disubsidi pemerintah perkilogram Rp2 ribu," ungkapnya.

Stok Beras Bantul Dipastikan Aman

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, memastikan persediaan pangan di Kabupaten Bantul masih aman. Meski demikian, pemerintah tetap memantau perkembangan harga sejumlah komoditas yang cenderung mengalami perubahan.

Joko menyebut harga cabai masih cukup fluktuatif, sedangkan harga beras dan minyak goreng relatif stabil. Kondisi musim kemarau panjang yang berlangsung saat ini juga menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam menjaga keberlanjutan pasokan pangan bagi masyarakat.

"Meski saat ini ada musim kemarau panjang namun untuk stok beras kita pastikan aman dan harga stabil. Jika memang ada lonjakan maka kita akan gelar operasi pasar dengan beras SPHP atau Beras Kita dari Bulog," ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi apabila terjadi lonjakan harga, pemerintah menyiapkan operasi pasar menggunakan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau Beras Kita dari Bulog. Langkah tersebut menjadi pilihan intervensi selain pelaksanaan GPM untuk membantu menjaga keterjangkauan harga bahan pokok.

Melalui program ini, Pemkab Bantul berupaya menjaga agar kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang terjangkau. Pemerintah tidak hanya memperhatikan kecukupan stok, tetapi juga kemampuan warga membeli bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online