FHI DIY Bidik Tiket PON 2028, Siapkan Pembinaan Atlet Sejak Dini
FHI DIY menargetkan atlet lolos ke PON 2028 melalui pembinaan sejak dini, latihan rutin mandiri, dan peningkatan fasilitas latihan.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta saat meninjau penyaluran bantuan ayam petelur merah putih di Kelompok Ternak Ngudi Mulyo di Kalurahan Panjangrejo, Kapanewon Pundong beberapa waktu lalu. Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Bantuan 600 ekor ayam petelur melalui program Ayam Petelur Merah Putih belum membuat peternak di Bantul menikmati keuntungan. Tingginya harga pakan, sementara harga jual telur masih rendah, membuat hasil produksi belum cukup untuk membiayai operasional kandang hingga membayar upah anggota kelompok.
Kondisi tersebut dialami Kelompok Ternak Ngudi Mulyo di Kalurahan Panjangrejo, Kapanewon Pundong. Kelompok beranggotakan sekitar delapan orang itu menerima bantuan ayam petelur dalam dua tahap pada September hingga Oktober 2026.
Ketua Kelompok Ternak Ngudi Mulyo, Basri, mengatakan produksi telur sebenarnya sudah berjalan. Namun, pendapatan dari penjualan telur setiap hari masih harus dialokasikan untuk membeli pakan berikutnya sehingga belum ada keuntungan yang bisa dinikmati anggota.
"Kami bisa panen sebanyak 300 butir per hari. Sementara masih kami jual ke warga sekitar dengan harga sekitar Rp20.000 per kilogram dengan isi 22-24 butir. Kalau kotornya ya mungkin sekitar Rp300.000 pendapatan per hari. Namun ya masih belum untung karena harga pakan mahal," ujarnya, Rabu (4/11/2026).
Dari produksi sekitar 300 butir telur sehari, kelompok tersebut memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp300.000. Telur dijual kepada warga sekitar dengan harga Rp20.000 per kilogram, berisi sekitar 22-24 butir.
Biaya Pakan Belum Tertutup Penjualan Telur
Persoalan utama yang dihadapi peternak adalah tingginya biaya pakan. Basri menyebut satu sak pakan konsentrat dengan berat 50 kilogram dijual sekitar Rp450.000.
Jumlah tersebut bahkan belum mencukupi kebutuhan pakan 600 ekor ayam dalam sehari. Akibatnya, pendapatan penjualan telur belum bisa menutup seluruh pengeluaran peternakan.
"Kalau dikalkulasi, hasil penjualan telur belum mencukupi untuk kebutuhan pakan dan upah yang mengelola. Kami belum mendapatkan gaji sama sekali. Hasil penjualan ditabung untuk membeli pakan berikutnya," ujarnya.
Sekitar delapan anggota kelompok hingga kini masih mengandalkan gotong royong untuk mengurus ayam dan membersihkan kandang. Mereka belum memperoleh upah karena seluruh hasil penjualan telur diprioritaskan untuk menjaga operasional peternakan tetap berjalan.
Basri mengakui anggota kelompok harus menggunakan uang pribadi untuk menutup kekurangan biaya. Bantuan pakan dari pemerintah memang sudah diterima, tetapi penyalurannya dilakukan secara bertahap.
Kelompok Ngudi Mulyo tercatat telah dua kali menerima distribusi bantuan pakan. Masing-masing distribusi berjumlah 36 sak.
"Belum untung. Kebanyakan masih minus, kami banyak yang tombok dulu," katanya.
DKPP Bantul Akui Peternak Hadapi Persoalan Serupa
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bantul, Novriyeni, mengakui tingginya harga pakan dan rendahnya harga telur tidak hanya dialami Kelompok Ternak Ngudi Mulyo. Persoalan serupa juga dirasakan kelompok lain yang menerima bantuan program Ayam Merah Putih.
Menurut dia, kondisi tersebut berpengaruh terhadap kemampuan peternak menyisihkan pendapatan sebagai tabungan. Padahal, dana tersebut diperlukan untuk membeli ayam pengganti atau replacement setelah ayam melewati masa produktif sekitar dua tahun.
Novriyeni menjelaskan program bantuan tersebut berasal dari kementerian dan dilaksanakan berdasarkan pengajuan kelompok. Setiap kelompok penerima memperoleh satu unit kandang baterai, 600 ekor ayam pullet siap bertelur, bantuan pakan selama tiga bulan, obat-obatan, vitamin, serta pendampingan.
"Ini program dari kementerian berbasis pengajuan. Satu kelompok dapat satu unit kandang baterai, 600 ekor ayam pullet siap bertelur, pakan selama tiga bulan, obat-obatan, vitamin, serta pendampingan," jelasnya.
Bantuan Ayam Petelur Menjangkau 12 Kelompok pada 2025
Berdasarkan data DKPP Bantul, pada 2025 terdapat 12 kelompok yang menerima bantuan program ayam petelur. Sementara itu, pada 2026 terdapat 10 kelompok yang masuk daftar calon penerima dan calon lokasi (CPCL).
Dari jumlah tersebut, delapan kelompok telah menerima distribusi ayam. Adapun dua kelompok lainnya hingga kini belum mendapatkan distribusi.
Novriyeni menjelaskan bantuan pakan selama tiga bulan memang dirancang sebagai stimulan. Setelah periode bantuan berakhir, kelompok penerima diharapkan dapat melanjutkan kegiatan peternakan secara mandiri.
Dia menyebut sebagian besar kelompok sebenarnya sudah berhasil memproduksi telur. Namun, kenaikan harga pakan yang tidak diimbangi harga jual telur membuat tabungan peternak terus tergerus untuk memenuhi kebutuhan operasional.
"Rata-rata sebenarnya berhasil produksi telur. Hanya saja sekarang harga pakan melambung tinggi dan harga telur masih rendah. Tabungan mereka sedikit demi sedikit habis untuk menutupi pembelian pakan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
FHI DIY menargetkan atlet lolos ke PON 2028 melalui pembinaan sejak dini, latihan rutin mandiri, dan peningkatan fasilitas latihan.
Pakar UII Yudi Prayudi menjelaskan fungsi LIMS dan pentingnya pengawasan hukum serta audit forensik dalam penyadapan.
Menko Polkam Dudung Abdurachman menilai penetapan mantan petinggi Polri sebagai tersangka kasus penyadapan menjadi momentum pembenahan institusi.
Helikopter MI-17V5 jatuh saat menjalankan misi pemadaman karhutla di Tanjung Puting. Dua kru meninggal dunia dan satu masih dicari.
Kiai Kanjeng membawakan Fix You milik Coldplay dengan aransemen gamelan Jawa di Purawisata Amphitheater Jogja.
Iran mengklaim empat kapal tanker terbakar akibat ranjau laut dan dua kapal lainnya ditahan di tengah ketegangan Selat Hormuz.