Harga Telur Anjlok, Peternak Jogja Bagikan Ribuan Ayam di Malioboro

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Senin, 10 Agustus 2026 13:37 WIB
Harga Telur Anjlok, Peternak Jogja Bagikan Ribuan Ayam di Malioboro

Suasana peternakan ayam petelur di Karangsari, Pengasih pada Selasa (23/8/2022)/Harian Jogja - Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, JOGJA—Harga telur ayam petelur yang bertahan di bawah Rp20.000 per kilogram selama sekitar sebulan terakhir membuat peternak petelur di DIY terus mengalami kerugian. Di tengah harga pakan yang sudah mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram, peternak memperkirakan kerugian mencapai sekitar Rp6.000 untuk setiap kilogram telur yang diproduksi.

Kondisi tersebut disuarakan Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y) melalui aksi damai pada Senin (10/8/2026). Dalam aksi tersebut, lebih dari 1.000 ekor ayam petelur dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Aksi dimulai dari halaman Gedung DPRD DIY sebelum berlanjut ke kawasan Malioboro. Ayam-ayam tersebut dibagikan kepada masyarakat hingga wisatawan yang berada di kawasan tersebut.

Koordinator aksi, Andry Patra, mengatakan harga telur saat ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus ditanggung peternak. Menurutnya, harga telur setidaknya perlu mencapai Rp26.000 per kilogram agar usaha peternakan masih dapat berjalan secara layak.

"Harga telur hari ini di bawah Rp20.000, sementara harga pakan sekitar Rp8.000. Kalau pakan Rp8.000, minimal harga telur sekitar Rp26.000, itu baru cukup untuk regenerasi ayam dan menghidupi ayam-ayam yang lain," kata Andry, Senin (10/8/2026).

Harga Telur di Bawah Rp20.000 Bertahan Sebulan

Andry menyebut harga telur di bawah Rp20.000 per kilogram telah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Kondisi tersebut semakin membebani peternak karena harga pakan disebut terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

"Peternak hari ini mengalami banyak kerugian. Kerugian ini setiap hari kami alami sudah tiga sampai empat bulan, sementara harga pakan setiap minggu mengalami kenaikan," ujarnya.

Menurut Andry, kondisi tersebut membuat persoalan peternak bukan hanya terkait harga jual telur, tetapi juga tingginya biaya produksi. Pakan menjadi salah satu beban utama karena harganya terus mengalami kenaikan.

Ribuan Ayam Petelur Dibagikan Gratis

Ayam yang dibagikan P3Y bukan sekadar simbol aksi. Menurut Andry, ayam tersebut merupakan ayam petelur berusia sekitar 90 minggu atau lebih yang produksinya mulai menurun sehingga semestinya masuk kategori ayam afkir.

Peternak sebenarnya berharap ayam afkir dapat terserap pasar dengan harga yang lebih baik. Namun, harga ayam afkir saat ini hanya sekitar Rp13.000-Rp14.000 per kilogram.

Situasi tersebut membuat peternak memilih mengurangi populasi ayam secara mandiri. Pembagian ayam gratis sekaligus menjadi cara peternak menunjukkan kondisi yang mereka alami kepada masyarakat.

"Kalau dibagikan telur, nanti harga telurnya terserap, tetapi orang tidak beli telur. Kami membagikan ayam karena memang dalam rangka mengurangi populasi ayam yang hari ini cukup tinggi," katanya.

Andry mengatakan harga telur saat ini membuat peternak harus melakukan afkir lebih dini. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara populasi ayam dan kebutuhan pasar.

Bagi peternak yang tidak mampu bertahan, tekanan usaha bahkan membuat sebagian dari mereka terpaksa menjadikan aset seperti sertifikat atau BPKB sebagai jaminan untuk mendapatkan modal.

P3Y Sampaikan Enam Tuntutan

Dalam aksi tersebut, P3Y membawa enam tuntutan kepada pemerintah. Salah satu tuntutan utama ialah penurunan harga pakan yang menjadi komponen penting dalam biaya produksi telur.

Peternak juga meminta adanya harga telur yang adil bagi peternak, pedagang, dan konsumen. Selain itu, mereka meminta tata niaga bahan baku pakan yang sehat dan transparan.

Tuntutan lainnya berkaitan dengan ketersediaan jagung sebagai salah satu bahan utama pakan. P3Y meminta pemerintah menjamin ketersediaan komoditas tersebut.

Peternak juga meminta pemerintah memperkuat kelembagaan dan perhatian terhadap sektor peternakan. Mereka meminta bantuan pemerintah untuk menyerap ayam afkir melalui industri pemotongan ayam maupun pihak lain.

DPRD DIY Soroti Harga Pakan

Anggota Komisi A DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, mengatakan aspirasi peternak akan ditindaklanjuti. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian ialah tingginya biaya pakan sebagai komponen utama dalam Harga Pokok Produksi (HPP) telur.

"Bagaimana pakan bisa turun? Salah satunya dengan ketersediaan bahan baku yang lebih terjangkau. Mungkin peluang yang paling memungkinkan adalah jagung, ketika produksinya ditingkatkan sehingga harga jagung menjadi lebih terjangkau," kata Sofyan.

Menurut Sofyan, pemerintah perlu memperkuat intervensi terhadap ketersediaan bahan baku pakan. Salah satunya melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung.

Jumlah peternak yang menerima program tersebut juga dinilai perlu diperluas. Saat ini, baru sekitar 79 peternak yang menerima SPHP jagung.

"SPHP jagung ini tugas Bulog karena melalui APBN. Nanti kami minta dikaji di sektor pertanian sejauh mana kita bisa mengintervensi produksi jagung," ujarnya.

HPP Telur Dinilai Perlu Ditekan

Sofyan menilai persoalan harga telur tidak dapat diselesaikan hanya dengan menaikkan harga di tingkat konsumen. Sebab, kenaikan harga telur berpotensi kembali membebani masyarakat.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menekan HPP telur melalui komponen biaya produksi yang paling besar, terutama pakan. Dengan cara tersebut, harga telur tetap dapat dijaga pada tingkat yang terjangkau konsumen sekaligus memberi ruang bagi peternak memperoleh keuntungan.

"Kalau harga telur yang dinaikkan, nanti tentu masyarakat yang teriak. Sepanjang telur ini sudah ada di harga keekonomian yang terjangkau, harus dipertahankan. Tugas berikutnya adalah bagaimana HPP-nya diturunkan," katanya.

Aksi pembagian lebih dari 1.000 ayam petelur di Malioboro menjadi gambaran tekanan yang sedang dihadapi peternak petelur DIY. Di satu sisi harga telur berada di bawah tingkat yang dinilai layak oleh peternak, sementara di sisi lain biaya pakan terus meningkat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online