Kemarau Ancam Pakan Ternak, Guru Besar UGM Usulkan 3 Solusi

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Selasa, 18 Agustus 2026 20:47 WIB
Kemarau Ancam Pakan Ternak, Guru Besar UGM Usulkan 3 Solusi

Sapi - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Kelangkaan hijauan pakan ternak saat musim kemarau perlu diantisipasi dengan strategi berjenjang. Guru Besar Bioteknologi Hasil Ternak Universitas Gadjah Mada, Prof. Widodo Hadisaputro, menawarkan tiga solusi, mulai dari pengawetan pakan melalui silase, penyediaan lahan dengan pasokan air terjaga, hingga pembangunan infrastruktur pemompaan air.

Menurut Widodo, persoalan ketersediaan hijauan sangat berkaitan dengan air. Ketika pasokan air berkurang atau bahkan terhenti, ketersediaan pakan berbasis hijauan juga ikut terganggu.

Karena itu, pemenuhan pakan ternak pada musim kemarau menurutnya perlu dilakukan melalui strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Simpan Hijauan dalam Bentuk Silase

Untuk jangka pendek, Widodo menyarankan peternak melakukan pengawetan pakan agar bahan pakan memiliki masa pakai lebih panjang. Salah satu metode yang dapat digunakan ialah fermentasi pakan atau fermentasi silase.

Fermentasi tersebut dilakukan menggunakan kultur mikrobia penghasil asam, termasuk bakteri asam laktat.

"Biasanya fermentasinya, fermentasi asam laktat menggunakan beberapa kultur mikrobia penghasil asam. kayak bakteri asam laktat dan sebagainya," terang Widodo pada Selasa (18/8/2026).

Menurut Widodo, pengawetan melalui fermentasi memungkinkan hijauan yang tersedia melimpah disimpan untuk menghadapi kondisi ketika pakan di lapangan mulai sulit ditemukan.

"Artinya, apa yang dilakukan itu memperpanjang masa pakai dari suatu bahan pakan yang bisa disimpan untuk nanti jagani [berjaga-jaga] kalau suatu saat kondisi riil di lapangan hijauan sudah enggak ada," imbuh dia.

Namun, metode tersebut belum sepenuhnya menjadi kebiasaan peternak. Dari sisi budaya, peternak masih lebih sering menyimpan pakan dalam kondisi kering dibandingkan menggunakan metode fermentasi.

Padahal, Widodo menjelaskan fermentasi memiliki keunggulan lain selain memperpanjang masa simpan. Proses tersebut dapat meningkatkan nutrisi pakan dan memperkaya mikrobia dalam sistem pencernaan hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, dan kambing yang memiliki rumen.

"Fermentasi itu menggunakan mikrobia, mikrobia itu bisa memperkaya mikrobia pada sistem pencernaan hewan ruminansia. Ruminansia itu sapi, kerbau, kambing yang punya rumen. Sehingga pengawetan itu ada dua tujuan, selain bahan pakannya awet, nutrisinya bertambah," jelasnya.

"Kalau [penyimpanan pakan] kering itu bahan pakannya awet tapi nutrisinya tidak bertambah," imbuh Widodo.

Karena itu, hijauan yang tersedia dalam jumlah melimpah sebaiknya disimpan melalui pembuatan silase atau pakan fermentasi. Stok tersebut kemudian dapat dimanfaatkan ketika ketersediaan hijauan menurun selama musim kemarau.

Jangka Menengah, Siapkan Lahan dengan Pasokan Air

Untuk strategi jangka menengah, Widodo mendorong adanya penyiapan lahan khusus hijauan pakan ternak yang memiliki pasokan air terjaga meskipun musim kemarau berlangsung.

Ketersediaan air di lahan tersebut dapat didukung dengan mengoptimalkan saluran irigasi dan embung, terutama di daerah yang memiliki tingkat penyerapan atau pemanenan air tinggi.

Dengan demikian, lahan hijauan pakan ternak tetap memiliki dukungan air ketika pasokan alami mengalami penurunan selama kemarau.

Pemerintah Didorong Bangun Infrastruktur Air

Sementara itu, strategi jangka panjang dapat ditempuh melalui pemompaan air untuk penghijauan tanaman pangan dan tanaman pakan. Menurut Widodo, langkah tersebut semestinya menjadi bagian dari peran pemerintah.

Pemerintah dinilai perlu memfasilitasi petani agar tetap produktif melalui pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk saluran air dan sistem pemompaan.

"Jadi pemerintah memfasilitasi, melayani supaya petani itu bisa produktif, baik itu dalam bentuk infrastruktur saluran air, pemompaan air," tegasnya.

El Nino Godzilla Bayangi Musim Kemarau

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menerangkan fenomena El Nino tahun ini diprediksi berlangsung lebih kuat. Fenomena El Nino Godzilla yang membayangi musim kemarau tahun ini dapat memicu suhu lebih panas dan hawa kering yang lebih terasa.

Secara teoretis, Bayu menjelaskan El Nino terbagi dalam tiga kategori, yakni lemah, sedang, dan kuat. Sementara berdasarkan posisinya, El Nino Godzilla berada di tingkatan lebih atas dari kategori kuat.

Dengan tingkatan tersebut, dampak kekeringan dan suhu dari El Nino Godzilla diperkirakan bisa lebih besar dari kondisi biasanya.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan hijauan pakan ternak. Di sektor pertanian, El Nino juga dapat mengubah kalender tanam serta berpotensi memicu gagal tanam dan gagal panen.

Jika kondisi tersebut terjadi, produktivitas komoditas dapat merosot dan pada akhirnya berpengaruh terhadap jumlah stok bahan pangan.

"Tahun ini adalah El Nino Godzilla yang merupakan El Nino di atas dari [kategori] kuat, sehingga bisa dibayangkan bagaimana dampak kekeringan dan panasnya," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online