Musim Hujan Mundur Akibat El Nino, Pakar UGM Imbau Penyesuaian Kalender Tanam

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Senin, 28 September 2026 19:17 WIB
Musim Hujan Mundur Akibat El Nino, Pakar UGM Imbau Penyesuaian Kalender Tanam

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific

Harianjogja.com, SLEMAN—Menghadapi ancaman kemunduran musim hujan akibat El Nino, petani didorong segera menyesuaikan kalender pertanian dan memperkuat diversifikasi pangan. Langkah tersebut dinilai krusial untuk mencegah penurunan produktivitas hasil pertanian dan meredam lonjakan harga pangan.

Guru Besar Bidang Agroklimatologi UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menyebut kemunduran musim hujan akan berdampak pada mundurnya jadwal tanam yang selanjutnya turut menggeser waktu panen. Oleh karena itu, Bayu menilai perubahan pola hujan perlu diikuti dengan penyesuaian kalender pertanian.

"Tentunya ini berpengaruh pada kalender dan jadwal tanam yang otomatis mundur, dan mundurnya jadwal tanam ini tentunya juga mengakibatkan mundurnya jadwal panen," kata Bayu pada Senin (28/9/2026).

Secara lebih jauh, pergeseran jadwal panen tentu, kata Bayu, juga dapat memengaruhi ketersediaan stok pangan. Selama menunggu masa panen berikutnya, ketahanan stok pangan yang telah tersedia dinilai Bayu sangat penting untuk memastikan segenap kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

"Dengan mundurnya jadwal panen tentu akan mempengaruhi stok pangan yang ada, dan ketergantungan dari stok sebelumnya menjadi kunci sambil kita menunggu musim panen yang mundur tadi," tuturnya.

Dari segi produksi, komoditas pangan yang membutuhkan banyak air seperti padi dan jagung menjadi komoditas yang perlu mendapat perhatian. Sebab, keterbatasan air selama masa pertumbuhan dapat meningkatkan risiko gagal tanam ataupun gagal panen yang kemudian berdampak pada produktivitas.

"Apabila ketersediaan airnya kurang, ya tentunya akan menyebabkan penurunan produktivitas, dan dengan turunnya produktivitas akan menyebabkan harga yang mahal dan berakibat pada perekonomian secara nasional," tandasnya.

Untuk mencegah hal itu, Bayu mendorong adanya pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan sekaligus penerapan metode pertanian yang lebih hemat air. Selain itu, Bayu juga menyarankan pengembangan diversifikasi pangan demi mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber pangan utama.

"Artinya kita tidak hanya menggantungkan saja dari beras, tetapi ada komoditas lain pengganti beras," tegasnya.

El Nino merupakan fenomena penyimpangan iklim global yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur secara signifikan.

Peningkatan suhu ini memicu perubahan pola aliran angin atmosfer, sehingga menggeser pembentukan awan hujan menjauhi sebagian besar wilayah Indonesia dan Pasifik Barat.

Dampaknya, pasokan curah hujan menurun drastis yang sering kali memicu kekeringan panjang, krisis air bersih, ancaman gagal panen di sektor pertanian, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Memahami dinamika El Nino sangat penting untuk memperkuat mitigasi bencana lingkungan dan ketahanan pangan nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online