Harga Jagung Rp6.500, Petani Bantul Raup Rp3 Juta Sekali Panen

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 10 September 2026 22:07 WIB
Harga Jagung Rp6.500, Petani Bantul Raup Rp3 Juta Sekali Panen

Seorang petani tengah mengupas jagung yang baru di panen di Padukuhan Ngentak, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Jetis, Kamis (10/9/2026). / Harian Jogja-Yosef Leon

Harianjogja.com, BANTUL—Jagung menjadi salah satu pilihan petani di Kabupaten Bantul saat memasuki musim kemarau. Dari lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, seorang petani di Kapanewon Jetis mengaku bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp3 juta dalam sekali panen.

Pendapatan tersebut berasal dari hasil penjualan jagung kepada perusahaan dengan harga sekitar Rp6.500 per kilogram. Harga itu menurut petani relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Pamuji, petani jagung di Padukuhan Ngentak, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Jetis, mengatakan pola tanam di lahan yang dikelolanya menyesuaikan musim.

Dalam setahun, lahan pertanian tersebut biasanya digunakan untuk menanam padi sebanyak dua kali. Setelah itu, petani menanam palawija, salah satunya jagung, ketika memasuki musim kemarau.

"Ya rata-rata Rp3 juta lah untungnya sekali panen bersih," kata Pamuji, Kamis (10/9/2026).

Harga Jagung Relatif Stabil

Jagung yang dibudidayakan Pamuji merupakan varietas khusus. Benih tanaman tersebut dipasok oleh perusahaan dari Jawa Timur yang juga membeli sebagian hasil panen petani.

Dalam proses budi daya, petani tidak hanya menanam satu jenis jagung. Pamuji menjelaskan terdapat jagung jantan dan betina yang harus ditanam dengan pola tertentu.

Untuk lahan sekitar 1.000 meter persegi, perusahaan memberikan sekitar 1 kilogram bibit jagung jantan dan 3 kilogram bibit jagung betina secara gratis.

Namun, terdapat perbedaan perlakuan terhadap hasil panen kedua jenis tanaman tersebut. Perusahaan hanya membeli jagung betina, sedangkan jagung jantan harus dijual sendiri oleh petani.

"Yang mau cuma yang betina. Yang jantan petani disuruh jual sendiri," ujarnya.

Pamuji mengatakan hasil panen jagung betina tersebut dibeli perusahaan dengan harga Rp6.500 per kilogram.

Menurut dia, harga tersebut cenderung stabil jika dibandingkan dengan harga pada tahun sebelumnya.

"Harganya stabil tidak naik dam turun," katanya.

Kepastian harga menjadi salah satu hal yang diperhatikan petani dalam memilih komoditas yang ditanam pada musim kemarau. Selain mendapatkan bibit, petani juga memperoleh dukungan pembiayaan untuk kebutuhan pupuk.

Petani Dapat Pinjaman untuk Pupuk

Pamuji mengatakan perusahaan memberikan pinjaman sekitar Rp300.000 untuk setiap lahan seluas 1.000 meter persegi.

Dana tersebut digunakan untuk membeli pupuk selama proses budi daya jagung. Pinjaman kemudian tidak perlu dibayarkan secara terpisah oleh petani karena dipotong dari hasil penjualan jagung ketika panen.

Skema tersebut membuat kebutuhan bibit dan sebagian pembiayaan pupuk diperoleh petani melalui kerja sama dengan perusahaan.

Dalam satu siklus tanam, petani kemudian mendapatkan hasil dari jagung betina yang dibeli perusahaan. Sementara hasil jagung jantan harus dipasarkan sendiri oleh petani.

Bagi Pamuji, budi daya jagung menjadi salah satu pilihan untuk mengisi lahan pertanian setelah dua kali musim tanam padi dalam setahun.

Luas Panen Jagung Bantul Capai 5.000 Hektare

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo mengatakan jagung merupakan salah satu komoditas palawija yang cukup banyak dibudidayakan petani di Bantul.

Dalam setahun, rata-rata luas panen jagung di Bantul mencapai sekitar 4.000-5.000 hektare.

Lahan tersebut tidak hanya berada di area persawahan yang selama ini menjadi lahan pertanian utama. Budi daya jagung juga dilakukan di lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

"Luasan tanaman jagung tersebut tersebar di seluruh Bantul, baik yang terdapat di lahan baku sawah maupun bukan lahan baku sawah," katanya.

Sebaran lahan tersebut membuat jagung menjadi salah satu komoditas palawija yang turut mengisi aktivitas pertanian Bantul di luar komoditas padi.

Joko mengatakan apabila target luasan tanam jagung tahun ini dapat tercapai, produksi jagung Bantul diperkirakan bisa menembus lebih dari 40.000 ton.

Perkiraan tersebut menggunakan asumsi produktivitas jagung sekitar 7-9 ton per hektare.

Dengan demikian, angka produksi tersebut masih berupa perkiraan berdasarkan target luasan tanam dan asumsi produktivitas, bukan angka realisasi produksi jagung Bantul sepanjang 2026.

Jagung Jadi Alternatif Saat Kemarau

Bagi petani seperti Pamuji, jagung menjadi salah satu pilihan untuk memanfaatkan lahan ketika musim berganti dari padi menuju palawija.

Pola tersebut juga memperlihatkan bagaimana petani menyesuaikan komoditas dengan kondisi musim sekaligus peluang pasar. Dalam kasus Pamuji, jagung betina memiliki pasar yang telah disiapkan melalui kerja sama dengan perusahaan.

Dari lahan sekitar 1.000 meter persegi, Pamuji menyebut keuntungan bersih yang diperolehnya bisa mencapai sekitar Rp3 juta sekali panen.

Sementara itu, dari sisi pemerintah daerah, jagung masih menjadi komoditas yang memiliki cakupan budi daya cukup luas di Bantul. Dengan rata-rata luas panen 4.000-5.000 hektare per tahun dan asumsi produktivitas 7-9 ton per hektare, DKPP Bantul memperkirakan produksi tahun ini dapat menembus lebih dari 40.000 ton apabila target luas tanam tercapai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online