MTN Dorong Talenta Indonesia Tembus Level Global hingga 2045
Program Manajemen Talenta Nasional di ISI Jogja menyiapkan talenta seni, olahraga, riset, dan inovasi untuk berkontribusi pada ekonomi nasional.
Aktivitas di SDN 1 Sumberagung, Jetis, Bantul setelah puluhan murid dan guru mengalami keracunan akibat mengonsumsi MBG, Selasa (8/9/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL— Sebanyak 50 murid dan tiga guru SDN 1 Sumberagung, Jetis, Bantul, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Selasa (8/9/2026), dua murid dan satu guru masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul.
Gejala yang dialami mulai muncul pada Jumat (4/9/2026) malam, setelah para murid dan guru mengonsumsi MBG yang dibagikan pada hari yang sama. Keluhan yang muncul antara lain diare, pusing, dan sakit perut.
Persoalan tersebut bahkan masih berdampak pada kegiatan belajar mengajar pada Senin (7/9/2026). Sejumlah murid yang mengalami gejala sakit tetap datang ke sekolah, tetapi tidak mampu mengikuti pembelajaran hingga akhirnya diantar pulang oleh guru.
Kepala SDN 1 Sumberagung, Parjiyatmi, mengatakan pihak sekolah awalnya mengetahui adanya dugaan keracunan setelah seorang guru menyampaikan kondisi kesehatannya. Guru tersebut pada Minggu malam meminta izin tidak masuk sekolah pada Senin karena mengalami diare.
"Ketahuan pertama itu pas ada guru yang Minggu malam izin tidak masuk untuk hari Senin karena sakit diare, katanya mungkin karena MBG. Setelah dicek oleh wali kelas ke murid ternyata banyak juga yang keracunan," katanya, Selasa (8/9/2026).
Dari pengecekan tersebut diketahui sejumlah murid juga mengalami keluhan serupa. Kondisi itu kemudian membuat pihak sekolah melakukan penanganan terhadap murid yang datang dalam keadaan sakit.
Menurut Parjiyatmi, pada Senin masih terdapat banyak murid yang sudah terlanjur datang ke sekolah meskipun mengalami gejala. Karena tidak sanggup mengikuti kegiatan belajar, para guru kemudian mengantarkan murid-murid tersebut kembali ke rumah masing-masing.
Parjiyatmi menjelaskan MBG yang dibagikan pada Jumat tiba di sekolah dari SPPG Patalan 2 sekitar pukul 09.00 WIB. Makanan tersebut kemudian dikonsumsi murid dan guru sekitar pukul 09.30 WIB.
Menu yang diberikan terdiri atas potato wedges, buah semangka, sayur buncis wortel, tempe garit, dan bistik galantin.
Sebelum makanan dikonsumsi, pihak sekolah disebut telah melihat adanya makanan tertentu yang kondisinya tidak bagus. Salah satunya adalah bistik galantin yang terlihat lembek dan dinilai tidak layak dikonsumsi.
"Misalnya ya, salah satu ompreng itu isinya dua. Yang satu kondisinya teksturnya bagus, yang satu itu lembek," jelasnya.
Kondisi makanan tersebut menjadi perhatian pihak sekolah karena ditemukan perbedaan tekstur pada makanan dalam satu ompreng. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami murid dan guru masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan pihak terkait.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul, Hermawan Setiaji, meminta adanya langkah tegas dari Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap SPPG Patalan 2.
Desakan tersebut muncul karena kejadian dugaan keracunan yang berkaitan dengan dapur MBG tersebut disebut bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pada April lalu, kejadian serupa menimpa siswa SMP di wilayah Jetis.
"Kami maunya ya ada tindakan tegas dari BGN, kalau sudah dua kali kejadian keracunan ya harus ditutup," katanya.
Hermawan mengatakan saat ini operasional SPPG Patalan 2 masih dihentikan sementara. Pemerintah Kabupaten Bantul masih menunggu proses evaluasi yang dilakukan oleh BGN terhadap dapur penyedia MBG tersebut.
"Kalau bisa dihentikan dalam jangka waktu yang panjang untuk evaluasi total atau kalau bisa tutup permanen," ujarnya.
Dengan adanya penghentian sementara tersebut, evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan MBG di SPPG Patalan 2 menjadi perhatian. Terlebih, pemerintah daerah mencatat adanya kejadian yang disebut sudah berlangsung dua kali.
Parjiyatmi menambahkan, pihak SPPG Patalan 2 telah melakukan penanganan terhadap murid yang mengalami keluhan. Sejak Senin hingga Selasa, pihak SPPG mendatangkan dokter untuk melakukan kunjungan langsung ke rumah murid.
"Sejak kemarin dan hari ini dari SPPG sudah datang membawa dokter kunjungan ke rumah murid yang keracunan. Mereka diperiksa dan diberikan obat serta vitamin," jelasnya.
Hingga Selasa, dua murid dan satu guru masih mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan. Penanganan terhadap para korban menjadi bagian penting sembari menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut mengenai penyebab kejadian tersebut.
Sementara itu, SPPG Patalan 2 saat dikonfirmasi belum memberikan keterangan mengenai insiden tersebut. Petugas keamanan yang berjaga di lokasi mengatakan kepala SPPG sedang mengikuti rapat di luar sehingga belum dapat memberikan keterangan.
Insiden ini menambah perhatian terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya aspek keamanan pangan dalam proses pengolahan, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh penerima manfaat. Pemerintah daerah kini menunggu evaluasi BGN terhadap SPPG Patalan 2 setelah operasional dapur tersebut dihentikan sementara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program Manajemen Talenta Nasional di ISI Jogja menyiapkan talenta seni, olahraga, riset, dan inovasi untuk berkontribusi pada ekonomi nasional.
Wanita diduga mabuk mengamuk dan merusak gerobak penjual pukis di Babarsari, Sleman. Polisi mengamankan kedua pihak untuk mediasi.
Kemenhut menangkap LF alias BG, pemodal illegal logging di Kotawaringin Timur yang diburu selama tiga bulan dan kini ditetapkan sebagai tersangka.
Klinik P3DN di Kota Jogja memberi konsultasi gratis bagi IKM untuk mengurus SIINas, TKDN, hingga akses pengadaan pemerintah.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menyambut positif rencana pemanfaatan Gedung Menara Telkom (GMP) oleh Badan Gizi Nasional (BGN)
Regulasi PLTS 100 GWp masih dibahas antar-K/L. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit energi surya itu rampung dalam tiga tahun.