Hujan Mulai Turun di Bantul, Pajangan Masih Hadapi Krisis Air

Yosef Leon
Yosef Leon Senin, 07 September 2026 20:07 WIB
Hujan Mulai Turun di Bantul, Pajangan Masih Hadapi Krisis Air

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific

Harianjogja.com, BANTUL— Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul pada Senin (7/9/2026) dini hari. Namun, hujan yang datang setelah berbulan-bulan kemarau masih sangat tipis sehingga belum banyak membantu warga yang menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.

Kapanewon Pajangan menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan dampak kemarau panjang. Wilayah di bagian barat Kabupaten Bantul itu disebut sudah tidak mendapatkan hujan berarti sejak Juni 2026.

Panewu Pajangan Anjar Arintaka Putra mengatakan hujan memang sempat turun di sejumlah titik pada Senin dini hari. Akan tetapi, intensitasnya sangat rendah dan berlangsung singkat.

"Hujannya mungkin sekitar tengah malam tadi tapi sangat sebentar dan hanya gemiris saja," kata Anjar, Senin (7/9/2026).

Menurut Anjar, kondisi tersebut membuat sejumlah padukuhan mulai menghadapi persoalan air. Sumur warga mengering, sementara pasokan air melalui jaringan PDAM juga beberapa kali mengalami gangguan.

Dampak kekeringan disebut sudah dirasakan di sejumlah kalurahan. Di Kalurahan Triwidadi, misalnya, terdapat sekitar tiga hingga empat dusun yang sumurnya mengering.

Kondisi serupa juga terjadi di Kalurahan Sendangsari dan Guwosari.

"Kalau kalurahan hampir semua kena, tapi kalau dusun ya ada beberapa. Di Triwidadi itu ada sekitar tiga, empat dusun yang sumurnya kering. Terus yang di Sendangsari dan Guwosari juga ada terdampak," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga telah meminta bantuan air bersih kepada BPBD. Bantuan tersebut menjadi penting karena hujan tipis yang turun belum mampu mengembalikan cadangan air tanah maupun mengisi kembali sumur warga.

Selain mengandalkan distribusi air bersih, pemerintah kapanewon juga berupaya mencari sumber air alternatif. Salah satunya dengan menggandeng sebuah perguruan tinggi untuk melakukan pencarian sumber mata air baru yang diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat.

"Semoga bisa jadi solusi sampai nanti musim penghujan tiba," ungkapnya.

Meski hampir empat bulan tidak diguyur hujan, Anjar menilai dampak kemarau tahun ini belum separah beberapa kejadian pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurut dia, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi perubahan pola pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Semakin banyak warga Pajangan yang kini menggunakan layanan PDAM dibandingkan hanya mengandalkan sumur.

"Namun yang langganan PDAM juga tidak sepenuhnya langsung tidak terdampak karena beberapa kali kadang juga macet, tapi tidak parah. Ya lumayan membantu juga," imbuhnya.

Di sisi lain, hujan yang muncul pada Senin pagi belum dapat menjadi penanda bahwa Bantul telah memasuki musim penghujan.

Kepala Bidang Kegawatdaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol membenarkan sejumlah wilayah Bantul sudah mengalami hujan pada dini hari hingga pagi.

"Memang tadi subuh dan pagi beberapa wilayah sudah ada yang turun hujan, sepertinya di selatan Bantul," katanya.

Antoni mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap hujan tersebut sebagai tanda berakhirnya musim kemarau. Menurut dia, belum ada informasi resmi yang menyatakan DIY, termasuk Bantul, telah memasuki musim penghujan.

"Untuk Bantul berdasarkan prakiraan dari BMKG akhir musim kemarau terjadi pada dasarian I November 2026," pungkasnya.

Dengan demikian, hujan yang turun saat ini masih perlu dilihat sebagai kejadian hujan lokal dan belum sebagai perubahan musim secara menyeluruh.

Data BMKG sebelumnya juga menunjukkan Pajangan termasuk wilayah dengan periode hari tanpa hujan yang panjang. Dalam pemantauan hingga akhir Agustus 2026, Pajangan tercatat mengalami 121 hari tanpa hujan dan masuk kategori kekeringan ekstrem.

BMKG Stasiun Klimatologi DIY memprakirakan sebagian besar wilayah DIY baru mengakhiri musim kemarau pada dasarian I November 2026. Untuk Bantul, prediksi tersebut menjadi alasan warga dan pemerintah daerah tetap perlu bersiap menghadapi kebutuhan air bersih dalam beberapa pekan ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online