SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Ilustrasi petugas melakukan tes swab./ANTARA FOTO-Asprilla Dwi Adha\n
Harianjogja.com, SLEMAN--Pemkab Sleman akan membeli alat Real Time Polymerase Chain Reaction (RT PCR) untuk memeriksa spesimen suspec Covid-19. Alat ini diharapkan mampu mengatasi tingginya antrean di sejumlah laboratorium uji yang menyebabkan lambannya hasil uji swab diketahui.
Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan Pemkab mengupayakan untuk membeli sendiri alat pemeriksaan spesimen Covid-19 atau RT PCR secara mandiri. Dengan memiliki alat sendiri, katanya, maka Pemkab akan mengetahui lebih cepat hasil sampel uji swab sehingga upaya tracing bagi suspec Covid-19 bisa segera dilakukan.
BACA JUGA : Ini Penyebab Antrean di Laboratorium Uji Swab Covid-19
Sri optimistis, dengan memiliki alat uji spesimen secara mandiri tersebut maka Pemkab bisa mengatasi lebih cepat penyebaran virus Corona. Selama ini, Pemkab hanya baru mengetahui hasil uji swab setelah beberapa hari diperiksa di sejumlah laboratorium.
"Kalau punya alat sendiri, pagi diswab maka sore atau malam hasilnya sudah keluar," kata Sri usai menggelar rapat koordinasi (Rakor) terkait penanganan Covid-19, Senin (3/8/2020).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan alat untuk memeriksa sampel swab tersebut diharapkan terbeli pada pertengahan Agustus ini. Alat ini, kata Joko mampu memeriksa hingga 200 spesimen dalam waktu sehari. Saat ini, Pemkab masih mencari spesifikasi RT PCR yang akan dioperasikan di laboratorium milik Pemkab Sleman.
"Yang dibeli satu alat saja. Harganya sekitar Rp750 juta. Satu saja sudah mahal. Nanti akan ditempatkan di laboratorium kami yang ada di Kentungan," katanya.
BACA JUGA : Tangani Antrean Uji Swab, Gugus Tugas Covid-19 DIY
Diakui Joko, selama ini untuk mengetahui hasil uji swab Pemkab masih tergantung dengan hasil pemeriksaan swab salah satunya di laboratorium FKKMK UGM. Kondisi tersebut menyebabkan lamanya hasil uji swab untuk diketahui.
"Untuk mengetahui hasil pemeriksaan spesimen kemarin saja membutuhkan waktu tujuh sampai 10 hari," katanya.
Dia mencontohkan terjadinya lonjakan kasus positif Covid-19 di Sleman dalam empat hari terakhir. Meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di Sleman disebabkan akibat terlambatnya hasil pemeriksaan spesimen swab diketahui.
"Kasus yang sampai puluhan itu sebenarnya hasil pemeriksaan spesimen beberapa hari lalu. Bukan kasus pada hari itu dan dimungkinkan sudah terjadi penularan," katanya.
Disinggung soal sumberdaya untuk operasional alat tersebut, Joko mengaku tidak ada persoalan. Sebab alat pemeriksaan spesimen swab yang dibeli hanya dioperasikan oleh tiga petugas saja. "SDM kami tidak ada masalah. Tidak sulit mengoperasikan alat canggih ini dan tidak banyak membutuhkan banyak tenaga [petugas]," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.