Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA--Meski banyak sektor terpuruk akibat pandemi covid-19, sektor pertanian ternyata tidak terganggu oleh bencana non alam global ini. Momen pandemi diharapkan dapat menjadi saat yang tepat untuk kebangkitan sektor pertanian lokal.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Tri Saktiyana, menjelaskan sektor pertanian pada masa pandemi justru tumbuh positif di semua provinsi.
“Harapan kita untuk tetap bergerak maju [sektor pertanian] menutup sektor yang negatif sehingga pertumbuhan PDRB [Produk Domestik Regional Bruto] kita bisa lebih sehat,” ujarnya, Rabu (19/8/2020).
BACA JUGA : Asuransi Pertanian Belum Diminati
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kata dia, sektor pertanian DIY tumbuh sebesar 0,3%. Meski kecil, pertumbuhan ini menunjukkan sektor pertanian relatif tidak terganggu oleh pandemic covid-19. Beberapa faktor yang mempengaruhi seperti produksi tetap memungkinkan untuk jaga jarak, pabrik terbuka, energi langsung dari alam, serta konsumsi pangan stabil.
Hal ini perlu dimanfaatkan sebagai momen kebangkitan pertanian lokal. Pihaknya berharap antar kabupaten dan kota di DIY perlu memperkuat dan memperluas jaringan perputaran produk pertanian. “Supaya produksi di Sleman segera bisa dikonsumsi di Bantul, produksi di Bantul bisa segera dikonsumsi di Sleman dan seterusnya,” ungkapnya.
Untuk mendorong sektor pertanian ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY akan kembali menggelar Pasar Tani, yang sebelumnya biasa digelar setiap Jumat di depan kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY. Karena covid-19 Pasar Tani ini sempat tutup, ke depan rencananya akan ditambah lokasinya.
Dalam upaya penguatan sektor pertanian ini, Pemda DIY juga mendorong masyarakat untuk difersivikasi pangan lokal, yakni dengan tidak bergantung pada beras saja sebagai bahan makanan pokok, tapi juga sumber karbohidrat lainnya seperti umbu-umbian, jagung dan lainnya.
BACA JUGA : Dongkrak Produktivitas Pertanian, Pemkab Gunungkidul
“Selama ini yang tidak makan beras dianggap warga nergara kelas dua, seperti gaplek atau jagung. Tapi tren terakhir justru menunjukkan makanan non beras lebih sehat karena gulanya rendah sehingga jadi gaya hidup baru, gaya hidup sehat,” ujarnya.
Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Syam Arjayanti, menuturkan meski produksi bahan pokok non beras surplus, namun tingkat konsumsinya masih kecil. Ia mencontohkan produksi ubi kayu yang produksinya sekitar 800.000 ton per tahun, tingkat konsumsinya hanya sebesar 12 Kg per kapita pertahun.
Ubi kayu justru banyak dimanfaatkan bukan untuk bahan makanan melainkan untuk pakan ternak. “Karena teknologi penyimpanan masih perlu dikembangkan, kami mendorong petanI agar bisa memproduksi dari bahan mentah mejadi produk yang lebih menguntungkan. Olahan berubah wujud menaikan harga produk,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Apple rilis iOS 26.6 dengan 75 perbaikan keamanan, persiapan Spotlight untuk iOS 27, dan notifikasi kontak. Update iPhone Anda sekarang!
LinkedIn diselidiki otoritas Texas atas dugaan menampilkan lowongan kerja palsu atau ghost jobs yang disebut dapat merugikan pelanggan layanan Premium.
China menghadapi tekanan menjelang Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 setelah gagal menempatkan wakil putra di final China Open 2026.
Bank Jateng Syariah kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi digital di lingkungan pondok pesantren
Rupiah melemah ke Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Selasa 28 Juli 2026. Investor mencermati sentimen domestik dan perkembangan kebijakan global yang memen