Asuransi Pertanian Belum Diminati

Dua orang petani di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, menanam padi, belum lama ini. Banyaknya sumber air membuat petani di wilayah Ponjong bisa menanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. - Harian Jogja/David Kurniawan
04 Juni 2020 21:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com,GUNUNGKIDUL–Antusiasme petani untuk ikut program asuransi pertanian masih minim. Pasalnya, hingga saat ini cakupan lahan yang diasuransikan tidak sebanding dengan luasan tanam yang ada.

 Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, di masa tanam kedua ini ada 8.748 hektare lahan yang ditanami padi. Namun dari jumlah ini, partisipasi terhadap asuransi pertanian hanya seluas 10 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan minat petani terhadap program asuransi pertanian masih kurang. Hal ini terlihat dari luasan lahan yang diasuransikan. “Belum semua mau ikut sehingga partisipasinya masih sedikit. Untuk masa tanam kedua hanya ada kelompok tani di Kecamatan Ngawen yang mengasuransikan lahan seluas 10 hektare,” katanya, Kamis (4/6/2020).

 Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat petani enggan ikut program asuransi pertanian, salah satunya kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas. Meski demikian, DPP terus menyosialisasikan program ini ke petani. “Dengan sosialisasi maka petani menjadi tahu pentingnya program ini, sebab dapat membantu saat terjadi gagal panen,” katanya.

 Untuk partisipasi program ini petani hanya diwajibkan membayar Rp36.000 per hektare yang berlaku satu kali masa tanam. “Apabila terjadi gagal panen, maka petani bisa mendapatkan biaya ganti rugi klaim sebesar Rp6 juta per hektare,” ungkap Raharjo.

Sesuai dengan karakteristik dan kondisi geogragfis di Gunungkidul, program asuransi pertanian paling cocok digunakan saat masa tanam pertama dan kedua karena lahan didominasi oleh sawah tadah hujan sehingga saat kemarau tidak banyak lahan yang bisa ditanami. “Hasil sosialisasi kami, di musim hujan mendatang sudah ada petani di Desa Candirejo, Kecamatan Semin yang mengasuransikan lahan seluas 20 hektare,” katanya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sedyo Makmur Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Sukaji, mengakui hingga saat ini belum ada petani di wilayahnya yang mengikuti program asuransi pertanian. Menurut dia, sosialisasi program ini sudah sering dilakukan, tetapi tetap saja belum ada petani yang berminat. “Mungkin karena petani belum terbiasa terhadap program asuransi sehingga belum berminat untuk ikut,” katanya.