Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN - Mutasi D614G virus SARS-CoV-2 (Corona) penyebab Covid-19 yang disebut 10 kali lebih menular dari tipe virus sebelumnya masih berpotensi menyebabkan orang yang terpapar virus ini tidak menunjukkan gejala atau asimtomatik.
Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Gunadi menuturkan riset ini tidak menunjukkan hubungan antara mutasi virus ini dengan gejala keparahan, tetapi berhubungan dengan jumlah virus pada tipe mutasinya.
"Orang yang terpapar bisa tanpa gejala. Karena dari penelitian ini ketika dihubungkan dengan derajat gejala, ternyata tidak berhubungan dengan derajat gejala keparahan pasien. Bisa saja pasien tidak bergejala. Namun, bisa jadi menunjukkan gejala ringan, sedang, berat, bahkan kritis," tutur Gunadi dalam jumpa pers di UGM pada Rabu (2/9/2020).
Ia menjelaskan mutasi D614G ini pada mulanya sudah ditemukan di Eropa sejak Februari 2020 lalu. Kemudian, pada Agustus 2020, mutasi virus sudah mencapai lebih dari 77,5% menjadi tipe DG614.
"Februari sudah ditemukan mutasi di Eropa, padahal virus asalnya dari Wuhan. Pergerakan manusia yang tidak bisa dibatasi seperti saat ini, sehingga bisa jadi penyebab mutasi," kata dia.
Soal mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2 yang disebut 10 kali lebih menular dari tipe virus sebelumnya, Gunadi menekankan bahwa penularan itu baru ditemukan pada tingkat sel, bukan pada manusia maupun komunitas. Sebab, jumlah virus yang ditemukan pada mutasi D614G ini lebih banyak dibandingkan tipe sebelumnya sehingga bisa lebih menular.
"Kalau dilogika, karena jumlah virus lebih banyak, wajar pada percobaan sel dia lebih infeksius. Karena jumlah virus di dalam saluran hidung maupun tenggorokan pada pasien yang diteliti di Inggris lebih banyak virus pada jenis mutasi D614G," terangnya.
Kendati demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait bagaimana jenis mutasi ini berdampak pada populasi di Indonesia lantaran tak menutup kemungkinan ada temuan yang berbeda. Untuk menghindari penularan virus, ia menyarankan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan.
Dekan FKKMK UGM, Prof. Ova Emilia mengungkapkan, penelitian dari UGM soal mutasi virus ini terbilang masih awal. Ia berharap riset dapat dilanjutkan untuk pengembangan vaksin ke depan. "Ditemukannya mutasi dan angka persentase virus yang bermutasi diharapkan dapat berdampak pada strategi kesehatan masyarakat maupun di rumah sakit," ungkapnya.
Kendati pengembangan vaksin masih terus dilakukan, Ova menyebut hal itu bisa saja tidak terlalu efektif karena virus terus bermutasi. Oleh karena itu, imbauan pemerintah untuk senantiasa menaati protokol kesehatan dinilai lebih efektif untuk menghindari penularan Covid-29.
"Vaksin masih dalam pengembangan. Karena itu, semua harus mawas diri mengubah cara kita sehari-hari menaati protokol kesehatan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Sebanyak 1.021 warga Sleman gagal donor darah awal 2026, mayoritas karena Hb rendah. PMI pastikan stok aman.
Keributan misa GMS Bantul dipicu izin belum lengkap. Polisi mediasi kedua pihak, situasi kini kondusif dan tetap jaga toleransi.
Tawuran remaja di Magelang dipicu tantangan Instagram. Dua pelajar luka parah, lima pelaku diamankan polisi.
Polemik GMS Bantul berujung kesepakatan. Ibadah tetap boleh, namun wajib lengkapi izin. Polisi siap tindak pelaku intimidasi.
Survei Abacus Data: 80% warga Kanada nilai AS di jalur salah. Faktor Trump dan kondisi global jadi pemicu kekhawatiran.