PDI Perjuangan DIY Peringati 30 Tahun Kudatuli Lewat Panggung Rakyat
PDI Perjuangan DIY memperingati 30 tahun Kudatuli melalui Panggung Rakyat, doa lintas iman, dialog sejarah, dan pembagian 500 paket sembako.
Cabup Gunungkidul Sunaryanta (berdiri) saat bersama sejumlah peternak Gunungkidul ketika dialog bersama Reza Abdul Jabbar, peternak asal Pontianak yang sukses di Selandia Baru melalui zoom meeting, Senin (9/11) (Harian Jogja/David Kurniawan)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Kampanye unik diselenggarakan calon bupati (cabup) Gunungkidul nomor urut empat, Sunaryanta, Senin (9/11). Ia bersama-sama dengan puluhan peternak asal Gunungkidul menggelar zoom meting dan berdialog dengan Reza Abdul Jabbar, pengusaha ternak sapi sukses di Selandia Baru, asal Pontianak, Kalimantan Barat.
Dialog online ini diselenggarakan untuk memotivasi masyarakat untuk pengembangan peternakan di Gunungkidul. Menurut Sunaryanta, pangsa peternakan di Gunungkidul masih sangat luas karena belum digarap dengan baik. Pasalnya, kebutuhan daging masih banyak bergantung dari luar negeri sehingga ini jadi potensi yang bisa dikembangkan oleh masyarakat.
“Tidak usah banyak-banyak dengan pasokan daging 5.000 ton, nilainya sudah mencapai setengah triliun rupiah. Ini jadi peluang yang bisa dikembangkan dan menjadi salah satu visi misi saya,” kata Sunaryanta kepada wartawan, Senin.
Menurut dia, telekonferensi dengan Reza Abdul Jabar bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pengembangan ternak modern. Sunaryanta menyakini konsep pengembangan ternak yang dijalankan oleh pengusaha asal Pontianak ini bisa diterapkan dengan Gunungkidul. Keyakinan ini mengacu pada kondisi geografis antara Gunungkidul dengan Selandia Baru ada kesamaan. Yakni untuk mendapatkan air harus mengebor hingga ratusan meter.
“Tadi [kemarin] dipaparkan untuk mendapatkan air di Selandia Baru harus mengebor hingga mengebor 200 meter baru mendapatkan air. Saya pun yakin konsep peternakan modern, khususnya untuk pemotongan daging sapi bisa dikembangkan di Gunungkidul,” katanya.
Pendampingan
Salah seorang peserta yang hadir, Sukim mengaku senang dengan acara telekonferensi dengan peternak sapi sukses di Selandia Baru. Menurut dia, banyak ilmu yang didapatkan karena diberikan tata cara peternakan modern yang dikembangkan oleh pembicara. “Harapannya bisa didatangkan ke Gunungkidul untuk memberikan pelatihan dan pendampingan,” kata Sukim.
Menurut dia, peternakan sapi di Gunungkidul masih menggunakan cara-cara tradisional karena belum menjadi usaha. Sukim mengungkapkan ternak sapi masih bersifat tabungan oleh warga karena hasil yang diperoleh belum maksimal.
“Sekali jual harganya bisa mencapai Rp20 juta per ekor. Tetapi, untuk beli bibit harganya sudah mencapai Rp15 juta per ekor. Keuntungan Rp5 juta dihitung sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PDI Perjuangan DIY memperingati 30 tahun Kudatuli melalui Panggung Rakyat, doa lintas iman, dialog sejarah, dan pembagian 500 paket sembako.
Kelurahan Tegalrejo menggelar Tedhak Siten untuk melestarikan budaya Jawa dan mengenalkan nilai luhur kepada generasi muda.
Bantuan air bersih sudah disalurkan ke delapan kapanewon di Gunungkidul. BPBD mengalokasikan 1.150 tangki untuk warga terdampak kekeringan.
Ratusan ikan gurame mati di Sleman akibat kualitas air kolam menurun selama musim kemarau. DP3 menyediakan vitamin gratis bagi pembudidaya.
KAI Bandara YIA membagikan merchandise kepada penumpang anak dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun YIA.
Sebanyak 113 SPPG di Bantul telah beroperasi untuk program MBG, sementara 22 unit lainnya masih belum berjalan karena berbagai kendala.