Taru Martani Bantah Tak Terapkan SUSU, Ini Hasil Pemeriksaan Disnakertrans DIY
PT Taru Martani membantah tak menerapkan SUSU. Manajemen menyebut pemeriksaan Disnakertrans DIY tak menemukan pelanggaran norma ketenagakerjaan.
Subardi saat sosialisasi 4 pilar di hadapan warga dari kapanewon Berbah dan Depok, di Gedung Teater Ramayana, Prambanan, Sleman, Rabu (18/11/2020). Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, SLEMAN- Anggota MPR Fraksi NasDem, Subardi menilai belakangan ini populisme politik kembali mencuat, seiring terjadinya berbagai acara kerumunan di DKI Jakarta. Populisme politik dikhawatirkan meluas menjadi sebuah gelombang besar dan masif, dari sebelumnya sebagai gerakan atau aksi protes.
Politisi yang akrab disapa Mbah Bardi ini menyebut paham populisme menjadi ancaman bagi persatuan bangsa, karena menggunakan narasi fanatisme ekstrim dan arogansi golongan. Ia pun mengajak masyarakat melawan populisme politik dengan ajaran Nasionalisme.
“Mari kita bersama-sama membangkitkan semangat nasionalisme untuk melawan populisme. Tanpa Nasionalisme, paham ini akan semakin kuat karena fanatisme yang ekstim dan arogasi kelompok. Ini dapat berakibat fatal bagi persatuan bangsa,” kata Mbah Bardi, sapaan akrabnya, Kamis (19/11/2020).
Baca juga: Alhamdulillah, 50% Warga Ponpes di Bantul Sembuh Dari Covid-19
Gerakan populisme politik kian berkembang sejak tahun 2016 silam, menjelang Pilkada DKI Jakarta. Hingga saat ini, lanjut Subardi, gerakan populisme dimanfaatkan oleh elit politik untuk mendulang suara.
“Harus diakui, gerakan ini sulit dihentikan karena dimanfaatkan oleh elit politik. Mereka para elit politik yang rakus kekuasaan dan minim gagasan itu, menjadikan basis massa yang besar sebagai komoditasnya,” terangnya.
Populisme di Indonesia cenderung identik dengan narasi penindasan maupun pembelaan terhadap agama. Berbeda dengan populisme di banyak negara luar seperti Perancis dan Australia yang pernah mengalami gelombang populisme dengan gerakan anti-Imigran. Namun pada intinya, populisme adalah paham yang anti plural. Efeknya, paham ini akan mengancam nilai persatuan dan kesatuan, termasuk nilai kesetaraan dan kemanusiaan.
Baca juga: Indonesia Siapkan 3 Opsi untuk Penyelenggaraan Haji 2021
Bagi Subardi, pentingnya Nasionalisme dapat ditinjau dari perspektif sejarah. Para pendiri bangsa mengunakan doktrin Nasionalisme sebagai pengikat segala perbedaan (pandangan ataupun kedaerahan) hingga menjadi sebuah bangsa merdeka. Melalui semangat itulah seluruh komponen 4 pilar bangsa (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika) memuat ajaran Nasionalisme.
“Nasionalisme adalah ajaran yang digunakan para sesepuh kita mendirikan bangsa. Hanya dengan Nasionalisme kita semua terikat menjadi sebuah bangsa. Ini harus dirawat. Kalau muncul gerakan-gerakan anti-nasionalisme termasuk yang sekarang marak populisme, solusinya ya harus dilawan. Bangkitkan lagi semangat Kebhinekaan itu,” tutup Subardi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PT Taru Martani membantah tak menerapkan SUSU. Manajemen menyebut pemeriksaan Disnakertrans DIY tak menemukan pelanggaran norma ketenagakerjaan.
PT Virgo Karya Shipping memastikan operasi salvage KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa dilaksanakan Oktober 2026.
Penggunaan QRIS parkir di Sleman belum mencapai 1%. Dishub Sleman bertahap melakukan digitalisasi dan menata kantong parkir.
Basarnas menghentikan penyelaman KM Virgo Transport 8 karena kondisi jasad korban berubah. Pencarian 55 korban tetap dilanjutkan.
Inggris mengalahkan Kroasia 7-0 di UEFA Nations League 2026/27. Harry Kane dan Bukayo Saka masing-masing mencetak dua gol.
Kementerian Pariwisata mencatat makanan lokal mulai langka dan 45% berpotensi punah. Sego golong hingga dawet sambel perlu dilestarikan.