Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Ilustrasi kekerasan./Pixabay
Harianjogja.com, SLEMAN—Kekerasan jalanan di Sleman menelan korban. Pada malam sebelum Lebaran, penganiayaan yang melibatkan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) mengakibatkan satu orang terluka luka dan satu korban meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Koordinator Lapangan Forum Jogja Rembug (FJR) macan Merapi, Heri Novianto, mengakui salah satu anggotanya menjadi salah satu korban dalam peristiwa tersebut. “Yang korban luka Tedy, anggota FJR,” katanya, Rabu (19/5).
BACA JUGA: Paduan Suara Nyanyi di Istiqlal Viral, Wagub DKI Bantah Ikut Terlibat
Ia menceritakan kejadian berawal dari adanya perselisihan antara dua orang. Keduanya sepakat menyelesaikan pertikaian dengan cara berkelahi di Lapangan Tritis, Padukuhan Ngepring, Kalurahan Purwobinangun, Pakem, pada Rabu (12/5/2021) lalu.
“Saat itu kedua pihak sudah setuju diselesaikan di situ. Tapi setelah ditunggu lama yang satu tidak datang dan setelah itu datang membawa temen beberapa orang. Pihak yang satu konfirmasi ke bapaknya dan bapaknya langsung minta bantuan ke organisasi Sanek [Santri Nekat] maupun PSHT [Persaudaraan Setia Hati Teratai],” katanya.
Adapun dari pihak satunya, kata dia, melibatkan masa dari ormas lain. Sempat memanas, massa yang telah berkumpul dapat didamaikan dengan mediasi dengan Dukuh Ngepring. Namun sepulang dari mediasi ini kericuhan terjadi.
Korban meninggal yang adalah anggota Sanek dan PSHT, Andi, yang waktu itu berboncengan dengan Tedy yang tertinggal dari rombongannya. “Belok arah enggak tahu ada apa, setelah itu mungkin ada senggolan, di situ banyak orang nongkrong, mereka diteriaki klithih. Lalu terjadi pengejaran,” ungkapnya.
BACA JUGA: Siswi Ini Dikeluarkan dari Sekolah karena Bikin TikTok Hina Palestina
Setelah tertangkap, keduanya lalu dikeroyok. Tedy mengalami luka patah kaki, sementara Andi mukanya lebam, patah tulang punggung dan di kakinya terdapat 11 titik seperti tusukan obeng. Andi sempat dibawa ke RSUD Sleman, yang kemudian dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito untuk dioperasi.
Namun nyawa Andi tak tertolong. Selasa (18/5/2021) pukul 17.30 WIB ia meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di tempat tinggalnya di wilayah mejing, kalurahan Ambarketawang, Gamping, pada Rabu (19/5) pukul 11.00 WIB.
Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Deni Irwansyah, mengakui kejadian tersebut dan saat ini tengah ditangani oleh Polres Sleman. “Sudah kami proses, dalam waktu dekat akan kami rilis,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Samsung Messages resmi dihentikan Juli 2026. Pengguna Galaxy wajib pindah ke Google Messages. Simak cara backup data dan jadwalnya.
Gerbang Tol Trihanggo Sleman usung siluet Ratu Boko dan aksara Jawa, jadi ikon budaya baru di Tol Jogja–Solo.
5 peluang kerja freelance bergaji dolar yang bisa dikerjakan dari rumah, mulai content writer hingga desainer grafis.