Antusiasme Tinggi, Nobar Final PSS Dipindah ke Lapangan Denggung
Pemkab Sleman gelar nobar final PSS vs Garudayaksa di Lapangan Denggung. Harda Kiswaya juga imbau kapanewon mengadakan nobar.
Pedagang Pasar Bantul menjemur cabai karena sulit laku di tengah harga cabai yang murah pada Senin (30/8/2021)/Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, BANTUL - Harga komoditas cabai yang murah di pasaran membuat Dinas Perdagangan Bantul berupaya mengenalkan alternatif cabai kering dan cabai bubuk. Mengolah cabai segar ke cabai kering atau cabai bubuk menjadi solusi melimpahnya stok cabai saat ini.
Kepala Seksi Distribusi dan Harga Barang Kebutuhan Pokok, Dinas Perdagangan Bantul, Zuhriyatun Nur Handayani menjelaskan bila Pemkab Bantul baru saja menggelar kajian analisis ekonomi termasuk di dalamnya cabai dan bawang merah. Pasalnya dua komoditas tersebut kerap mengalami kenaikan dan penurunan harga yang fluktuatif. "Ini baru dirumuskan, baru dalam proses kajian," tuturnya pada Jumat (3/9/2021).
Perempuan yang akrab disapa Nani itu menjelaskan bila kenaikan dan penurunan cabai hampir terjadi setiap tahun. "Nanti satu saat pas awal januari sampai dengan pertengahan Maret-April itu harga cenderung tinggi. Tapi setelah itu di musim kemarau nanti harga turun lagi bahkan sampai saat ini di tingkat pasar sampai Rp8000-10.000 per kilogram," ujarnya
Pengenalan cabai kering maupun cabai bubuk dinilai Nani penting, terutama soal rasa. Menurut Nani, rasa cabai kering pun cukup enak saat dijadikan campuran bahan masak. Sehingga bila saat stok cabai melimpah, cabai yang hendak busuk bisa segera dikeringkan agar bisa dipakai dalam jangka waktu yang lebih lama. Terlebih bila diolah menjadi cabai bubuk.
Baca juga: Data Diperbaiki, Dinsos Sleman Usulkan 49.330 Jiwa Penerima Bansos Dihapus
"Karena masyarakat sekarang cenderung suka cabai yang segar. Lha nanti diarahkan juga bisa mula sedikit-sedikit mencoba cabai kering atau cabai bubuk," ungkapnya.
Dijelaskan Nani, untuk pembuatan cabai kering terbilang sederhana yakni cabai hanya perlu dijemur. Hal itu berbeda dengan cabai bubuk yang perlu melewati beberapa macam proses penggilingan dan beberala proses lainnya.
"Kalau enggak dijemur kan busuk [cabainya]. Eman [sayang], kalau dijemur kan lumayan. Cabai kering bisa dibuat masakan, sama aja sebenarnya. Cuma karena kita kan belum terbiasa, biasanya menggunakan cabai yang segar," tandasnya.
Harapan Nani, sistem pengolahan cabai kering dan cabai bubuk bisa mengatasi persoalan murahnya harga cabai saat panen raya. "Ya harapannya ke depan seperti itu. Karena kalau cabai kering dan cabai bubuk bisa lebih tahan lama. Karena memang cabai yang segar rentan sekali terhadap pembusukan," pungkasnya.
Sebelumnya salah satu pedagang Bantul, Ami menuturkan harga berbagai jenis cabai paling mentok di harga Rp12.000 per kilogram. Saking lamanya di los pasar, Ami memilah cabai yang sudah berubah warna memerah karena tak kunjung laku. "Kadang dijual Rp10.000 per kilogram pun enggak laku [bakbuk]. Karena saking banyaknya cabai enggak ada yang beli. Itu cabai lalapan saya enggak laku, cuma satu kilogram masih segini [banyak] kaya masih utuh," tuturnya. (Catur Dwi Janati)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman gelar nobar final PSS vs Garudayaksa di Lapangan Denggung. Harda Kiswaya juga imbau kapanewon mengadakan nobar.
Kemenkop mempercepat operasional 37 ribu Kopdes Merah Putih dan menyiapkan Inpres untuk penguatan ekonomi desa.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 14 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta, tersedia keberangkatan pagi sampai malam hari.
Siswa kelas II SD meninggal dunia usai tertimpa patung di Museum Ronggowarsita Semarang saat mengikuti wisata rombongan sekolah.
PP Tunas memungkinkan perubahan status risiko TikTok, Roblox, dan YouTube jika lolos evaluasi perlindungan anak digital.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menegaskan akan menindak tegas pengusaha tambang yang merusak lingkungan dan melanggar aturan konservasi.