THE 1O1 Yogyakarta Tugu dan Kelurahan Gowongan Perkuat Komitmen
Dalam rangka memperkuat sinergi yang telah terjalin selama lebih dari satu dekade, THE 1O1 Yogyakarta Tugu resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU)
Kampus UGM/Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Tim mahasiswa UGM yang dipimpin Aizizha Syeilla N., mahasiswa FK-KMK UGM berhasil mengembangkan Artificial Intelligence (AI) untuk melakukan analisis luka akibat penyakit diabetes.
Sedangkan tim lain yang diketuai Nayaka Bagus Wahyu Agung Hertanto menemukan metode skrining kanker usus besar (kolorektal) dengan memanfaatkan bakteri probiotik Escherichia coli Nissle 1917 (EcN) termodifikasi.
Sementara Tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada yang diketuai Rifkanisa Nur Faiza menciptakan pengembangan inovasi Ekstrak Nilam Aceh (Pogostemon Cablin benth) sebagai Anti-Aterosklerosis.
Nayaka Bagus mengatakan, penelitian dengan bakteri ejaan tersebut mampu digunakan untuk mendeteksi (skrining) sel kanker kolorektal. “Insidensi dan mortalitas akibat kanker usus besar [kolorektal] di Indonesia masih tergolong tinggi. Padahal skrining dan penanganan dini dapat menurunkan mortalitasnya. Beragam metode skrining untuk mendeteksi kanker tersebut telah banyak dilakukan,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Rabu (27/10/2021).
Pertama, metode skrining dengan mendeteksi darah melalui feses sebagai penanda adanya kanker usus besar. Namun permasalahannya adalah perdarahan baru terjadi pada kanker tahap lanjut dan belum terjadi pada kanker tahap awal sehingga dinilai kurang sensitif.
Selain itu, tidak semua darah yang terdeteksi tersebut merupakan penanda kanker. Darah tersebut bisa juga merupakan hasil perlukaan usus sehingga dinilai tim mahasiswa UGM ini sebagai penanda yang kurang spesifik. Kedua, skrining radiologi dengan menggunakan X-Ray yang justru disinyalir memicu mutasi.
Baca juga: Sepekan PPKM Level 2, Satpol PP Temukan Banyak Kafe Buka hingga Dinihari
Ketiga, skrinining dengan kolonoskopi yakni dengan memasukkan kamera dalam kolon. Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan justru akan melukai usus dan menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien. Keempat, skrining molekuler untuk mendeteksi DNA kanker juga dinilai cukup mahal.
“Ide awal penelitian ini sebenarnya terinspirasi dari seminar di Fakultas Biologi. Seminar tersebut memaparkan bahwa organisme, misal bakteri, bisa dimodifikasi untuk mengeluarkan protein tertentu. Selain itu, berdasarkan penelitian yang kami baca, bakteri probiotik Escherichia coli Nissle 1917 (EcN) mengalami menangani peningkatan pada pasien kanker usus besar. Akhirnya kami berpikir apa mungkin bakteri tersebut bisa dimodifikasi agar bisa dikembangan untuk mendeteksi kanker. Darisitulah penelitian ini mulai dilakukan,” papar Nayaka, Minggu (17/10/2021) saat dihubungi secara daring.
Penelitian dengan judul “Potensi Pemberian Bakteri Probiotik Escherichia coli Nissle 1917 (EcN) Termodifikasi sebagai Sarana Screening Kanker Kolorektal” ini telah berhasil membawa Tim Mahasiswa UGM melaju ke kompetisi PIMNAS 2021 pekan depan.
Terkait dengan diabetes, Aizizha mengatakan, saat melakukan praktik pengukuran luka mereka sering mengalami kendala karena menggunakan alat ukur manual untuk mengukur kedalaman luka hingga melihat jaringan nanah ataupun otot. Tentu ini kurang akurat dan tidak konsisten. Penggunaan pengukuran luka menggunakan alat ukur manual juga dapat menyebabkan kontaminasi silang yang berujung infeksi. Mereka kemudian tertarik untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan yang dinamakan “Mystic-Wound” sebagai alat analisis luka diabetik berbasis Artificial Intelligence (AI).
Saat dikonfirmasi mengenai keunggulan alat, Aizizha juga mengungkapkan bahwa sebenarnya telah terdapat prototipe serupa di Amerika, hanya bentuknya lebih besar daripada alat yang dikembangkan tim mahasiswa UGM ini. Namun yang perlu digarisbawahi adalah alat yang dikembangkan tim mahasiswa UGM ini adalah yang pertama di Indonesia, compact, efektif, murah dan memiliki tingkat keakuratan tinggi karena angka kesalahan sangat kecil yakni 0,5 cm.
Tim lain yang dipimpin Rifkanisa mengatakan, gagasan menciptakan pengembangan inovasi Ekstrak Nilam Aceh (Pogostemon Cablin benth) sebagai Anti-Aterosklerosis merespon maraknya penyakit yang berhubungan dengan Cardiovaskular Disease di Indonesia.
Awalnya mereka concern terhadap banyaknya penyakit yang terkait dengan cardiovascular disease atau penyakit pada pembuluh darah. Salah satu penyebabnya adalah penumpukan plak pada pembuluh darah. Penumpukannya plak tersebut berasal dari lemak, akhirnya mereka mencari tahu kira-kira senyawa apa yang bisa menekan penumpukan plak. Ternyata senyawa itu bernama Tilianin yang terdapat pada tanaman endemik di Asia Timur salah satunya Nilam Aceh. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dalam rangka memperkuat sinergi yang telah terjalin selama lebih dari satu dekade, THE 1O1 Yogyakarta Tugu resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU)
Sekda DIY soroti alih fungsi lahan dan pentingnya data dalam kebijakan untuk menjaga ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
Instalasi Sunflower Angel di Candi Prambanan viral, hadirkan wisata estetik dan pengalaman seni unik yang diserbu ribuan pengunjung.
BI DIY dan TPID luncurkan MRANTASI PKK 2026 untuk tekan inflasi lewat budidaya cabai dan ketahanan pangan rumah tangga.
Menag dorong kurikulum ekoteologi di pesantren untuk bangun kesadaran cinta alam, manusia, dan Tuhan secara utuh.
Pemerintah siapkan digital single ID berbasis AI untuk bansos lebih tepat sasaran dan kurangi kebocoran anggaran.