Peneliti Temukan Resep Membuat Es Krim Anti Meleleh
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Sukarelawan P3S bermain bersama anak-anak di Karangwaru./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA--Sejak 2014, sejumlah anak muda membuat kegiatan pendampingan anak-anak di pinggir sungai. Lewat wadah yang dinamai Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai (P3S), mereka mendampingi warga tepi kali untuk mendapat akses pendidikan alternatif.
Paguyuban ini dirintis oleh sejumlah pemuda dari Jogja yang awalnya tergabung dalam sukarelawan saat Gunung Kelud meletus pada 14 Februari 2014 lalu. Kegiatan sosial di sana kemudian membuat para pemuda itu sering berkegiatan bersama.
BACA JUGA : Tutup! Sejak 27 Maret TPST Piyungan Sudah Tidak Bisa Lagi Menampung Sampah
Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah merealisasikan keinginan mendirikan komunitas yang berbasis di bidang pendidikan alternatif. Lantaran salah seorang kawan memiliki rumah di pinggir Kali Code di Dusun Blunyah, Sinduadi, Mlati, Sleman. Maka dipilih lah lokasi itu sebagai tempat komunitas berkegiatan.
"Awalnya dari mengobrol soal realitas pendidikan saat ini. Apalagi masyarakat pinggir kali dirasa memandang pendidikan enggak seperti masyarakat lainnya di Kota Jogja, mungkin mereka hanya ikut sekolah formal dan enggak mendapat akses pengetahuan yang lain. Para pendiri komunitas ini pun tertarik membuat ruang alternatif baru di sana," kata Koordinator P3S, Idha Nafiatul Aisyi kepada Harian Jogja, Jumat (25/3/2022).
Idha mulanya bergabung dengan P3S sebagai sukarelawan sejak empat tahun lalu. Kini, dia menjabat sebagai koordinator paguyuban ini. Di P3S, mereka menyebutnya sebagai “Kepala Sekolah”.
Para sukarelawan punya kegiatan mendampingi anak-anak pinggir sungai untuk belajar. Berbeda dengan bimbingan belajar, kegiatan ini gratis tanpa dipungut biaya.
"Selain itu, kami demokratis. Di sekolah formal, adik-adik di sana mungkin enggak punya kuasa untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari, karena sudah ditentukan sekolah. Kalau di P3S, kami ajak adik-adik untuk punya konsensus di awal mereka ingin belajar apa," jelasnya.
Bagi Idha, mereka sebagai sukarelawan bukan mengajar, melainkan belajar bersama anak-anak di pinggir kali. Oleh karena itu, P3S menerapkan kultur untuk tidak menggunakan diksi mengajar.
BACA JUGA : UMY Gerak Cepat Periksa Mahasiswa Terduga Pelaku Pelecehan Seksual
"Kami juga ingin membiasakan anak-anak dengan memberi informasi yang dekat dengan mereka, pembelajaran kami kontekskan dengan masyarakat pinggir sungai. Dengan begitu, mereka bisa menyadari apa yang ada di dekat mereka, supaya bisa menyelesaikan problemnya sendiri," kata Idha.
Meluas
Setelah di Blunyah, sukarelawan P3S memperluas titik kegiatan ke sejumlah tempat. Kini, ada empat lokasi belajar, yaitu di Blunyah, Sendowo, Karangwaru, dan Karangjati.
"Di Blunyah, kami ada taman baca dan menjadi pusat kegiatan literasi. Jadi setiap diskusi, bedah buku, itu di rumah baca," tutur Idha.
Tak hanya berkegiatan bersama anak-anak, Idha mengakui bahwa aktivitas P3S meluas. Lantaran bersinggungan langsung dengan masyarakat pinggir sungai, mereka pun harus menjalin hubungan dengan orang tua anak-anak di setiap wilayah belajar.
"Teman-teman penanggung jawab wilayah itu punya kegiatan silaturahmi door to door dengan orang tua adik-adik. Jadi kami bisa tahu situasi belajar adik-adik itu dipengaruhi apa saja," urainya.
Bahkan, P3S juga fokus mendukung kegiatan ekonomi warga. Mereka membuat jejaring yang mendukung ekonomi kreatif agar meningkatkan kesejahteraan warga, misalnya lewat lokakarya.
Kini, mereka mendampingi sekitar 40-50 anak-anak di empat titik. Sementara ini, sukarelawan P3S hanya mendampingi siswa jenjang sekolah dasar.
"Sebenarnya ada yang minta didampingi belajar dari jenjang SMP, tapi keterbatasan sumber daya kami jadi hanya mengajar SD," ujarnya.
BACA JUGA : Ini Penyebab Klithih Menurut Sosiolog UGM
Setelah tujuh tahun berkegiatan di pinggir kali, sukarelawan P3S berharap kegiatan itu bisa membuat masyarakat pinggir kali memahami identitasnya dan mampu memecahkan masalahnya sendiri.
"Bahkan kalau bisa mereka juga terpacu untuk ingin menciptakan hal-hal positif di lingkungannya. Menyadari apa yang mereka hadapi, sehingga bisa menyelesaikan problemnya sendiri," kata Idha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.
Perdagangan hewan kurban di Bantul naik jelang Iduladha 2026. Kambing paling diminati, omzet pedagang diprediksi melonjak.