73.363 BPJS Dinonaktifkan, Gunungkidul Aktivasi Ulang 32.845 Peserta
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Kesehatan Gunungkidul mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, saat musim hujan ada tren kenaikan kasus warga yang terjangkit.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan DBD merupakan penyakit musiman yang sering terjadi saat musim hujan. Hal ini tak lepas adanya genangan air yang bisa menjadi sarang nyamuk untuk berkembangbiak sehingga potensi serangan menjadi semakin tinggi.
“Penyakit ini banyak menyerang saat musim hujan. Jadi, harus diwaspadai,” katanya kepada wartawan, Kamis (20/10/2022).
Menurut dia, kewaspadaan sangat penting karena sepanjang 2022 sudah ada tiga warga Gunungkidul yang meninggal dunia karena terjangkit DBD. Pencegahan DBD bisa dilakukan dengan berbagai cara dan tahapan.
BACA JUGA: TRAGEDI KANJURUHAN: Pengawas Pertandingan Diam Saja Tahu Polisi Bawa Benda Terlarang, Kenapa?
Hal paling lazim dilaksanakan dengan menutup, menguras dan mengubur benda-benda yang bisa menjadi sarang kembang biak nyamuk. Selain itu, agar pencegahan dapat optimal harus ada satu orang pemantau jentik nyamuk.
“Kami akan terus lakukan sosialiasi dalam pencegahan agar penyakit DBD tidak terus bertambah,” katanya.
Dia menambahkan, agar upaya pencegahan maksimal, masyarakat diminta terus menjalankan pola hidup bersih dan sehat serta makan-makanan bergizi. Selain itu, juga rutin berolahraga untuk kesehatan.
“Kalau tubuh selalu bugar, maka potensi terserang penyakit menjadi berkurang,” katanya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Zoonosis, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas kesehatan Gunungkidul, Yuyun Ika Pratiwi mengatakan, tren penyebaran DBD mengalami kenaikan. Sebagai gambaran, tahun lalu hanya ada 189 kasus, sedangkan di 2022 ada 417 warga terjangkit.
“Naik dua kali lipat dibandingkan dengan kejadian di 2021. Sekarang masih bisa bertambah karena mulai memasuki musim hujan,” katanya.
Menurut Yuyun, berdasarkan kasus yang ada, pada saat musim hujan merupakan puncak dari serangan DBD. Sebagai contohnya, pada Januari lalu ada 139 kasus sehingga menjadi bulan terbanyak adanya kasus DBD di Gunungkidul tahun ini.
Adapun memasuki Juli terlihat adaanya penurunan kasus yang signifikan karena telah masuk musim kemarau. “Juli ada 36 kasus. Sedangkan Agustus-September diakumulasikan hanya 37 kasus,” katanya.
Menurut dia, pencegahan DBD sangat butuh partisipasi dari masyarakat agar kasus tidak bertambah banyak. “Terus dilakukan sosialisasi ke warga. Tapi, agar optimal masyarakat diminta untuk berpartisipasi dalam pencegahan,” katanya.
Kasus DBD di Gunungkidul
Tahun Jumlah
2019 576 kasus
2020 975 kasus
2021 189 kasus
2022* 417 kasus
*) Sampai 20 Oktober 2022
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Perang Iran dilaporkan menguras stok rudal ATACMS dan PrSM milik AS. Simak perbedaan, kemampuan, dan tantangan produksinya.
DFSK E5 Plus hadir di GIIAS 2026 sebagai SUV PHEV premium dengan jarak tempuh hingga 1.400 km dan telah mengantongi lebih dari 1.100 SPK.
RSUP Dr Sardjito menghentikan stase dokter PPDS EPR usai komentar viral soal pasien BPJS. Rumah sakit menegaskan pasien tersebut bukan pasien Sardjito.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,29% pada kuartal II 2026 belum mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. BPS mencatat pekerja mandiri meningkat, sementara p
DPRD DIY meminta Raperda Pengelolaan Permuseuman melindungi museum rakyat agar tidak terbebani standar museum pemerintah.