Sultan Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Perguruan Tinggi
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan PKJ untuk perguruan tinggi dan mendorong ilmu lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ilustrasi wisuda perguruan tinggi/Antara
Harianjogja.com, SLEMAN–Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyebut lebih dari separuh lulusan SMA/SMK di Kabupaten Sleman tidak melanjutkan kuliah. Faktor ekonomi menjadi penyebab utamanya.
Dia menyebut setiap tahunya ada 20.000-an lulusan SMA/SMK di Sleman. Sementara, kurang dari 10.000 lulusan yang melanjutkan kuliah. "Setiap tahun 20.000 ini yang lulus sekolah dan tidak ada separuhnya [melanjutkan kuliah] karena kurang mampu," kata Kustini pekan lalu.
Kustini berharap semakin banyak anak-anak dari Sleman yang bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menurutnya punya program mengkuliahkan warga kurang mampu. Pada 2022 lalu ada 172 anak Sleman yang bisa masuk kuliah ke Universitas Amikom Yogyakarta.
"2023 kami anggarkan setidaknya Rp4 miliar untuk sekolah anak-anak kita. Kerja sama Unisa [Universitas 'Aisyiyah] dan nanti yang vokasi-vokasi," ucapnya.
Melalui pendidikan diharapkan bisa memutus mata rantai kemiskinan di Sleman. Kustini menyebut, jika ada satu orang miskin di Sleman dan punya dua orang anak maka akan ada tiga orang miskin. Oleh karena itu anak-anak tersebut harus mengenyam pendidikan tinggi.
"Tanpa memotong mata rantai dengan pendidikan gak bisa maksimal [tekan kemiskinan]. Saya punya program untuk memotong mata rantai kemiskinan yakni dengan pendidikan, tapi sasarannya warga miskin, rentan miskin, dan PKH."
DIY, kata Kustini, memang tercatat sebagai provinsi termiskin. Tapi angka harapan hidup di DIY khususnya Sleman tinggi sampai usia sekitar 75-76 tahun.
BACA JUGA: Sultan Singgung Perajin UMKM Malioboro yang Diupah Rendah
"Sehingga angka harapan hidup yang tinggi, pendidikan terbaik tapi paling senang hidupnya di DIY," ucapnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat DIY menjadi provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Jawa per September 2022. Menanggapi hal ini, Kepala Dinsos Sleman, Eko Suhargono menyampaikan budaya warga Jogja tidak konsumtif. Masyarakat lebih suka menabung daripada untuk belanja konsumtif.
"Orang DIY lebih baik menyimpan tidak untuk konsumtif makan, pakaian secukupnya. IPM [Indeks Pembangunan Manusia] juga tinggi, angka harapan hidup juga tinggi."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan PKJ untuk perguruan tinggi dan mendorong ilmu lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Film Laut Bercerita melibatkan dua fotografer khusus untuk menghidupkan detail visual tragedi penghilangan aktivis 1998.
Portal UGM AI Tech4Disaster telah menghimpun sekitar 1.400 laporan warga untuk membantu pemetaan kebutuhan logistik pascabencana NTT.
Pria 40 tahun ditemukan tewas penuh luka di rumah warga Pajangan Bantul. Polisi masih menyelidiki penyebab kematiannya.
Jet tempur Sukhoi TNI AU tergelincir di runway 13 Bandara Sultan Hasanuddin. Operasional penerbangan tetap berjalan normal.
Kondisi siswa SMPN 6 Boyolali membaik setelah dugaan keracunan MBG. Sebanyak 26 siswa yang sempat absen kini kembali sekolah.