Pembahasan Raperda Gunungkidul Dikebut, 3 Draf Segera Dibahas
DPRD Gunungkidul mengebut pembahasan Propemperda 2026. Tiga raperda baru siap dibahas, termasuk KTR dan Ripparda 2026-2035.
Ilustrasi warga sedang melintas di crossway di aliran Kali Oya di Kalurahan Pundungsari, Semin, Jumat (16/6/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Heboh penemuan mortir di daerah aliran sungai (DAS) Oya hanya menjadi segelintir temuan di kali tersebut. Pasalnya, sungai yang mengalir dari Wonogiri, Gunungkidul hingga Bantul ini disinyalir memiliki jejak peradaban purba.
Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indah Asikin Nurani mengatakan sudah beberapa kali melakukan penilitian di DAS Oya. Meski demikian, hasilnya belum signifikan dikarenakan masih menjadi misteri hingga sekarang. “Masih butuh kajian yang mendalam untuk mengungkap jejak purba di Kali Oya,” kata Indah saat dihubungi, Minggu (18/6/2023).
Dia menjelaskan hasil dari penelitian pada 2016 yang menyusuri sungai dari Playen sampai Semin memperlihatkan bahan baku maupun artefak yang mendukung adanya bekas hunian dan aktivitas manusia di masa paleolitikum (Zaman Batu Tua) di Kali Oya.
Beberapa alat ini seperti kapak perimbas, kapak penetak hingga alat serut untuk menguliti binatang yang terbuat dari batu. “Semakin ke arah timur, banyak sekali bahan baku [batu pembuat kapak] maupun artefak yang menunjukkan adanya tempat okupansi,” katanya.
BACA JUGA: Kali Oya Gunungkidul Jadi Tempat Berburu Perhiasan saat Kemarau
Indah menekankan, temuan-temuan yang berhasil didapatkan belum bisa mengungkap secara menyeluruh berkaitan dengan jejak purba di Kali Oya. Hal ini dikarenakan, belum ada temuan fosil yang insitu seperti manusia maupun fauna sama sekali tidak ditemukan.
“Temuan alat-alat batu sangat banyak. Tapi, tinggalan organik dalam hal ini fosil-fosil manusia maupn fauna sama sekali tidak ditemukan. Jadi, untuk mengungkapnya butuh penelitian yang lebih tajam [mendalam],” kata Indah.
Sebelumnya diberitakan, pada Rabu (14/6/2023) warga yang sedang beraktivitas mencari benda berharga di alirahan Kali Oya di Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen menemukan mortir aktif. Carik Watusigar, Karsimin mengatakan, aktivitas pencarian benda berharga seperti perhiasan emas, cincin dan lainnya merupakan hal yang biasa saat kemarau. “Kebetulan saja menemukan mortir. Kalau sebelum-sebelumnya ada yang menemukan perhiasan seperti cincin, ali-ali hingga liontin dari emas,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Gunungkidul, Choirul Agus Mantara mengatakan, terkait dengan peradaban di Kali Oya masih membutuhkan penelitian. Menurut dia, sudah banyak temuan yang diperoleh di sepanjang aliran sungai ini. “Pernah ditemukan koin uang kuno di zaman VOC. Tapi, memang untuk benar-benar mengetahuinya maka butuh penelitian yang mendalam,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mengebut pembahasan Propemperda 2026. Tiga raperda baru siap dibahas, termasuk KTR dan Ripparda 2026-2035.
Komisi XI DPR menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031. Ia membawa visi 3I+1S untuk arah kebijakan bank sentral.
AS belum berencana melancarkan serangan baru ke Iran dalam waktu dekat, tetapi tetap membuka opsi militer jika Iran menyerang lebih dulu.
Praperadilan Febrie Adriansyah ditolak PN Jaksel. Tim hukum segera berdiskusi dengan klien untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.
Igor Tolic meminta Persib Bandung tampil tanpa celah saat menghadapi Manila Digger pada play-off ACL II, Senin (31/8).
Damkar Gunungkidul mencatat 49 karhutla sepanjang Mei-Agustus 2026. Luas lahan terdampak ditaksir mencapai 49,5 hektare.