Layanan PDAM Kota Jogja Masih 30 Persen, Sanitasi Jadi Tantangan
Cakupan layanan PDAM Kota Jogja baru mencapai 30 persen. Air tanah yang masih dianggap baik dan persoalan sanitasi menjadi tantangan.
Sampah - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY mendorong pengolahan sampah dilakukan melalui 64 Tempat Pembuangan Sampah Reuse, Reduce dan Recycle (TPS3R) seiring dengan penutupan TPST Piyungan selama 1,5 bulan. Namun sebaiknya warga melakukan pemilahan sampah di rumah sebelum disetor ke TPS3R.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kuncoro Cahyo Aji meminta agar masyarakat dapat mengelola sampah mulai dari sumber sampahnya. Menurutnya, persoalan sampah yang telah melebihi kapasitas harus segera diatasi masyarakat dengan melakukan pengolahan sampah mulai dari hulu atau dari yang memproduksi sampah. Dia pun mendorong pengolahan sampah dapat diselesaikan melalui 64 TPS3R yang telah dibentuk.
“Kita memang harus siapkan melalui optimalisasi [pengelolaan sampah] melalui TPS3R,” katanya.
Menurut Kuncoro melalui TPS3R tersebut, maka pengelolaan sampah yang dihasilkan dalam satu kalurahan dapat dioptimalkan. Kemudian menurut Kuncoro sisa sampah yang tidak dapat diolah oleh TPS3R, maka akan dibantu pengolahannya oleh DLHK DIY dengan pemberian alat pengolahan sampah dan alat transportasi untuk mengangkut sampah. Dengan begitu, diharapkan kalurahan yang memiliki TPS3R dapat mengolah sampahnya secara mandiri.
Baca juga: TPA Piyungan Ditutup 1,5 Bulan, Ini Data Lengkap Volume Sampah 10 Tahun Terakhir
Dia pun berharap agar warga dapat memilah sampah sebelum sampah rumah tangga yang akan disetorkan ke TPS3R. Sehingga dengan mekanisme tersebut, diharapkan sampah dapat tertangani di setiap kalurahan.
“Prosesnya adalah desa/kalurahan mempunyai kewajiban mengeluarkan sampah dari dapur ke depan pintu masing-masing rumah tangga secara terpihah. Kemudian akan kami bantu untuk ke TPS3R, nanti akan selesai di TPS3R,” katanya.
Menurut Kuncoro pengolahan sampah yang dilakukan melalui TPS3R dapat pula dikoordinasikan dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) atau Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal). Sehingga dengan manajemen yang padu, pengolahan sampah dapat optimal.
Saat ini menurut Kuncoro, TPS3R yang telah terbentuk dapat mengelola 30 persen tonase sampah yang dihasilkan di wilayahnya. Kuncoro pun terus berupaya agar persentase tersebut dapat meningkat. “Yang mampu dikelola [sampah] TPS3R 30 persen, sisanya kami upayakan dikelola di BUMKal,” katanya.
Dia pun menyampaikan untuk Kota Jogja selama TPST Piyungan ditutup hingga 5 September 2023, Pemkot Jogja telah menyetujui untuk menyetorkan sampahnya di TPS3R di Gunungkidul.
“Karena kapasitas TPS di Gunungkidul masih bisa ditingkatkan, maka 2 minggu sampah di Kota akan dialihkan ke TPS3R di Gunungkidul. Berapapun biayanya nanti kota [Jogja] sudah sanggup.” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cakupan layanan PDAM Kota Jogja baru mencapai 30 persen. Air tanah yang masih dianggap baik dan persoalan sanitasi menjadi tantangan.
Pemkab Gunungkidul mengambil alih pengelolaan retribusi wisata di TPR Kemadang setelah ditemukan kebocoran penarikan retribusi.
Harga ayam dan telur mulai naik seiring program MBG kembali berjalan. Dapur SPPG diminta membeli bahan baku langsung dari peternak.
Kemenkeu menyiapkan pertemuan dengan pimpinan BI usai Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Pemkab Kulonprogo mengeluhkan minimnya keterlibatan dalam program MBG dan menyoroti sebaran SPPG yang belum merata di wilayahnya.
Kabupaten Bantul akan memasok 250 ton sampah per hari untuk mendukung operasional PSEL Piyungan yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2028.