IGBF 2026 Hadir di Yogyakarta, Dorong Rumah dan Bangunan Indonesia Menuju Net Zero
IGBF 2026 di Jogja mendorong penerapan bangunan hijau dan menunjukkan konsep Net Zero yang dapat dimulai dari rumah.
Jamasan pusaka di Pemkot Jogja. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja kaya akan adat dan budaya yang hingga kini terus dilestarikan. Salah satunya terkait upacara Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti.
Masyarakat perlu memahami makna dan arti pelaksanaan Upacara Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan Kota Jogja menggelar kegiatan Sarasehan Adat dan Tradisi yang merupakan dalam melestarikan nilai-nilai adat dan tradisi di Kota Jogja, Kamis tanggal 8 Agustus 2023 di Hotel Gaia Cosmo.
Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari OPD di lingkungan Pemerintah Kota Jogja, Pametri Wiji serta Abdi Dalem Keprajan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
BACA JUGA : Begini Cara Pemkot Jogja Menjaga Kawasan Cagar Budaya
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja Yetti Martanti mengatakan, kegiatan ini menjadi salah satu wujud dari kecintaan dan kebanggaan bersama terhadap kebudayaan yang ada di Kota Jogja.
"Ini menjadi salah satu upaya kita bersama dalam mendukung pelestarian dan pengembangan budaya yang ada di Kota Jogja. Semoga apa yang kita lakukan bersama menjadi inset wawasan arti dan makna pentingnya Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti," ujar Yetti.
Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti menjadi tradisi setiap tahunnya dilakukan Pemkot Jogja yang diselenggarakan bulan suro. Namun jika pada bulan Suro di tahun itu tidak terdapat hari Selasa Kliwon, maka waktu pelaksanaan tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti bisa diganti menjadi hari Jumat Kliwon.
Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti merupakan Pusaka pemberian Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kepada Pemerintah Kota Jogja. Pusaka tersebut dibuat tahun 1921 pada era Hamengku Buwono ke VIII. Saat ini Pusaka tersebut bersemayam di ruang kerja Walikota Jogja.
"Keberadaan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti bagi Pemerintah Kota Jogja ini mengisyaratkan adanya pesan-pesan luhur/simbol kekuatan moral bagi pemimpin untuk selalu berusaha memakmurkan rakyatnya. Oleh karenanya upacara ini sangat kental akan adat dan tradisi," katanya.
Yetti mengatakan, sarasehan ini diharapkan menambah pemahaman bersama mengenai filosofi dan arti tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti yang akan dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Agustus 2023.
BACA JUGA : Enam Sekolah Cagar Budaya di Kota Jogja Dipugar
Sekretaris Daerah Kota Jogja Aman Yuriadijaya mengungkapkan, selain pentingnya pengetahuan arti dan makna Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti ini tidak lengkap jika masyarakat tidak ikut memahaminya.
Ia berharap, tidak hanya pemerintah saja yang berkontribusi saat pelaksanaan Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti tetapi masyarakat ikut serta di dalamnya.
"Tidak hanya pemerintah saja yang mengemban amanah ini tetapi arti dan maknanya juga harus dipahami masyarakat Kota Jogja," katanya.
Salah satu narasumber dari Akademisi UNY/Praktisi Adat dan Tradisi Suwardi mengungkapkan, kata 'Jamasan' berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil yang memiliki arti cuci/membersihkan atau mandi.
Sedangkan 'Pusaka' adalah sebutan bagi benda-benda yang dianggap keramat atau memiliki kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, perawatan keris sebagai salah satu pusaka tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
"Untuk merawat dan melaksanakan Upacara Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti ini benar-benar mereka yang konsen terhadap adat dan tradisi. Sebelum dilaksanakan biasanya melakukan puasa mutih selama tiga hari dan melalui beberapa tahap agar saat pelaksanaan, orang tersebut bersih atau suci," ungkapnya.
Langkah Upacara Jamasan Pusaka ini melalui beberapa tahap di mana pusaka terlebih dahulu dibersihkan dengan air perasan jeruk nipis. Tujuannya untuk membersihkan noda dan karat yang menempel pada pucuk tombak yang terbuat dari logam. Usai dicuci, pusaka dilap menggunakan serabut kayu.
BACA JUGA : Enam Sekolah Cagar Budaya di Kota Jogja Dipugar
Setelah itu, pusaka disiram dengan air bersih dan dikeringkan. Selanjutnya pusaka diberi warangan dengan cara dioles berkali-kali. Warangan ini terbuat dari arsenik yang bertujuan untuk melindungi pusaka agar tidak berkarat. Setelahnya pusaka diolesi minyak kelapa yang dicampur dengan minyak cendana.
"Semoga pada pelaksanaan nanti, semua dapat benar-benar memaknai arti dari Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti. Sehingga apa yang dilakukan dapat bermakna tidak hanya pemerintah saja tetapi untuk warga Kota Jogja," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IGBF 2026 di Jogja mendorong penerapan bangunan hijau dan menunjukkan konsep Net Zero yang dapat dimulai dari rumah.
Jajal LRT Jakarta bersama Prabowo, penyandang disabilitas, lansia, dan pelajar berbagi pengalaman soal aksesibilitas dan kenyamanan layanan.
Bansos DIY disiapkan digital mulai 2027. Pendataan warga berjalan, termasuk 128.000 warga Sleman dan proses sanggah penerima terindikasi judol.
Meta Description:Slemania, BCS, Brajamusti dan The Maident menandatangani komitmen bersama menjaga keamanan dan kondusivitas Super League 2026/2027.
JJLS Kelok 23 dinilai membuka peluang pengembangan wisata selatan DIY dengan mendorong kunjungan, okupansi hotel, dan belanja wisatawan.
Empat perwakilan Sleman masuk daftar sementara kontingen DIY untuk SEA Games 2026, terdiri atas atlet, pelatih, wasit, dan mekanik.