Kuota Transmigrasi Belum Jelas, Gunungkidul Masih Menunggu Pusat
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Foto ilustrasi Malaria. /Freepik.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul memiliki tugas berat untuk mempertahankan status bebas malaria. Hal ini tak lepas adanya hasil pemetaan daerah reseptif yang menemukan adanya larva nyamuk anopheles yang bisa membawa vektor penyebab penyakit malaria.
Survei dan pemetaan daerah reseptif malaria terlaksana pada 1-18 Oktober 2023 dengan melibatkan 30 puskesmas di Gunungkidul. Kegiatan terlaksana atas kerja sama Dinas Kesehatan DIY dengan Dinas Kesehatan Gunungkidul.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sidiq Heru Sukoco mengatakan, hasil serro survei vektor daerah reseptif malaria sudah keluar. Adapun hasilnya ada temuan larva anopheles yang berpotensi menyebarkan penyakit malaria.
BACA JUGA : Waspada! Cuaca Panas Waktu Favorit Nyamuk Malaria Berkembang Biak
“Benar sesuai dengan hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan DIY,” kata Sidiq saat dihubungi wartawan, Minggu (29/10/2023).
Dia menjelaskan, pemetaan daerah reseptif merupakan langkah pencegahan sejak dini. Adanya temuan ini maka kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit malaria harus terus ditingkatkan.
Meski demikian, untuk langkah-langkah pencegahan secara efektif dan efisien akan dikoordinasikan lebih lanjut. “Besok hasil survei akan kami laporkan ke Kepala Dinas Kesehatan. Yang jelas, kami komitmen untuk mencegah dan mengendalikan potensi penyebaran penyakit,” katanya.
Kepala Dinkes Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, wilayah Gunungkidul sudah bebas malaria sejak 2014 lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya sertifikat eliminasi malaria dan Kementerian Kesehatan.
Meski demikian, ia tidak menampik sebagai daerah bebas, namun tetap ada potensi munculnya kasus baru lagi sehingga diperlukan langkah-langkah guna mempertahakan status eliminasi malaria. “Jangan sampai muncul kasus malaria indigenous,” katanya.
Menurut dia, upaya pencegaahan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan upaya kewaspadaan dini dengan melakukan kegiatan pemantauan vektor dengan pemetaan daerah reseptif malaria.
“Meski sudah bebas, tapi tetap ada langkah-langkah agar kasus malaria tidak muncul kembali,” katanya.
Entomolog Kesehatan Dinas Kesehatan DIY, Rega Darmawan sudah melakukan pemetaan daerah reseptif malaria di Gunungkidul. Kegiatan dilakukan dengan pencidukan identifikasi larva nyamuk anopheles di 100 titik lokasi terpilih dengan pendokumentasian titik koordinat lokasi.
Menurut dia, tempat survei larva nyamuk anopheles meliputi lokasi perairan yang jernih di alam terbuka. Lokasi ini meliputi saluran irigasi, embung, cekungan sungai, kolam, sawah, telaga, laguna Pantai dan lain sebagainya.
BACA JUGA : 12 Hal Tentang Penyakit Malaria yang Harus Diketahui
“Ada temuan larva anopheles di Gunungkidul seperti beberapa kapanewon seperti Playen, Karangmojo, Gedangsari yang dilakukan pemantau secara rutin,” katanya
Menurut dia, langkah termudah dan cara penanggulangan paling awal dengan cara pembersihan atau pengeringan. Namun apabila lokasi temuan luas, dapa dilakukan dengan penaburan benih ikan di lokasi-lokasi yang terdeteksi larva anpoheles.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Kasus dugaan penganiayaan di Daycare Jogja bertambah jadi 27 tersangka, dengan 103 anak korban. Polisi masih kembangkan penyidikan.
Bantul lanjutkan restorasi Gumuk Pasir Parangkusumo dengan penebangan vegetasi demi mengembalikan fungsi alami kawasan langka.
Prof Dante tegaskan obesitas adalah penyakit serius yang meningkatkan risiko jantung dan kanker, perlu penanganan menyeluruh.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.