Rekomendasi Laptop Murah untuk Mahasiswa yang Worth It
Simak rekomendasi laptop kuliah 2026 dengan harga Rp4 juta hingga Rp8 juta. Cocok untuk tugas, kelas online, presentasi, hingga kebutuhan multitasking mahasiswa
Pohon tumbang akibat angin kencang di wilayah Tempel, Sleman, beberapa waktu lalu. - Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Stasiun Meteorologi Jogja mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem dan angin kencang serta puting beliung, khususnya untuk wilayah Sleman.
Selain itu, Stasiun Meteorologi Jogja juga mengingatkan masyarakat Sleman, utamanya yang ada di lereng Gunung Merapi untuk mewaspadai fenomena banjir lahar hujan menjelang masuknya musim penghujan.
Kepala Stasiun Meteorologi Jogja Warjono mengatakan wilayah Sleman memiliki potensi bencana hidometerologi berupa angin kencang juga badai petir hingga menyebabkan pohon, baliho, atap rumah, papan reklame rusak akibat angin kencang. Selain itu pihaknya juga meminta kepada masyarakat Sleman utamanya yang ada di lereng Gunung Merapi untuk mewaspadai fenomena banjir lahar hujan.
BACA JUGA: Beredar Kabar Bihun Asal Tiongkok Bercampur Plastik Dijual di Indonesia, Cek Faktanya
"Untuk itu, masyarakat harus melakukan langkah mitigasi bencana. Masyarakat harus memperbaiki drainase untuk mencegah atau mengurangi risiko banjir, memangkas pohon yang dahan nya dirasa terlalu lebat, tidak membuang sampah di sungai yang dapat menghambat aliran air, dan mengikuti perkembangan terkini seputar kondisi cuaca," kata Warjono, Kamis (9/11/2023).
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, pihaknya telah siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi. Sebab, diakuinya, Sleman memang rawan mengalami bencana, termasuk bencana hidrometeorologi selama musim hujan.
Kerawanan itu tidak hanya mencakup angin kencang, tapi juga tanah longsor dan pohon tumbang. Selain itu ada potensi aliran sungai meluap, genangan, dan banjir. "Kami meminta masyarakat untuk waspada cuaca ekstrem dari musim kemarau ke musim hujan," katanya.
Untuk potensi angin kencang, Makwan menyebut tidak hanya berpotensi terjadi di Mlati, tapi juga daerah lainnya, seperti Prambanan dan sejumlah Kapanewon di Sleman. "Merata. Karena semua pernah mengalaminya. Untuk itu kami minta mereka waspada," jelas Makwan.
Makwan meminta kepada masyarakat yang atap rumahnya terbuat dari seng dan galvalum untuk lebih waspada. "Kami minta mereka untuk memperkuat atap mereka," kata Makwan.
Selain itu, Makwan juga meminta kepada masyarakat melakukan langkah kesiapsiagaan, paling tidak sekarang sudah mulai memeriksa lingkungan rumah dan sekitarnya. Makwan juga menyarankan warga memangkas ranting dan dahan pohon yang sudah rapuh di sekitar lingkungan rumah.
"Jika pohon [milik] pribadi bisa dilakukan pemangkasan sendiri, tetapi kalau pohon perindang jalan maka bisa minta bantuan Dinas Lingkungan Hidup Sleman," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Simak rekomendasi laptop kuliah 2026 dengan harga Rp4 juta hingga Rp8 juta. Cocok untuk tugas, kelas online, presentasi, hingga kebutuhan multitasking mahasiswa
Bangkai pesawat kargo Boeing 737-400 yang hilang di Laut Arab ditemukan setelah operasi pencarian 12 jam. Pencarian lima awak masih berlanjut.
Erick Thohir memastikan klub di Indonesia tak punya alasan menolak pemanggilan Timnas usai jadwal Super League 2026/2027 diundur.
Polri membekukan dua ruangan di de'Clan Signature dan money changer usai penggeledahan kasus korupsi serta TPPU, menyita hampir Rp60 miliar.
Geopark Night Specta 8.0 di Nglanggeran digelar 10-11 Juli 2026 dengan target rekor MURI senam Penthol Tembem dan konser Roy Jeconiah.
Setahun hilang, Mozza Axillia Gunarsa belum ditemukan. Polisi masih menyelidiki, sementara keluarga terus berharap gadis calon mahasiswi Undip itu pulang.