Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Foto ilustrasi tanah longsor dibuat menggunakan artificial intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA— Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPBD DIY) tengah menelusuri penyebab tanah bergerak yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Bantul, yakni di Pajangan, Sedayu, dan Imogiri pada akhir Februari 2026. Curah hujan tinggi diduga menjadi salah satu pemicu peristiwa tersebut.
Kejadian paling parah terjadi di Guwo RT 03, Triwidadi, Pajangan pada 26 Februari 2026. Pergerakan tanah tersebut berdampak pada sebuah kawasan perumahan dengan 20 unit rumah terdampak dan estimasi kerugian mencapai Rp4 miliar.
Kepala BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menjelaskan curah hujan tinggi diduga memicu terjadinya pergerakan tanah. Saat ini BPBD DIY bersama BPBD Bantul dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melakukan asesmen langsung di lokasi.
“Nanti kemudian ditindaklanjuti dengan kajian kira-kira penyebabnya apa. Supaya dari sisi ilmiah itu kita bisa pertanggungjawabkan dan juga nanti kita bisa memetakan mana-mana yang sebenarnya daerah itu merupakan kawasan rawan untuk pergeseran tanah di sekitarnya itu cakupannya sampai ke luasan berapa itu nanti kita bisa dapatkan setelah ada kajiannya,” ujar Ruruh, Selasa (10/3/2026).
Perumahan di Kawasan Perbukitan
Lokasi tanah bergerak tersebut berada di kawasan perbukitan yang telah dibangun perumahan. Namun, BPBD belum dapat memastikan apakah kejadian ini juga dipengaruhi oleh faktor konstruksi bangunan.
“Kami belum bisa memastikan, karena baru ke lapangan hari ini bersama-sama dengan BPBD Bantul dan juga PVMBG, tapi yang harus kita cermati terlebih adalah dari aspek alamnya dulu,” katanya.
Menurut Ruruh, faktor alam menjadi perhatian utama karena potensi dampaknya bisa meluas ke wilayah sekitar.
“Karena bagaimanapun kalau dari aspek alam ini nanti kan cakupannya luas, yang kita khawatirkan supaya kemudian kita bisa antisipasi bersama supaya tidak meluas,” paparnya.
Hujan Diduga Jadi Pemicu
Ruruh menambahkan hujan memang menjadi salah satu pemicu terjadinya tanah bergerak. Namun, karakteristik geologi dan kondisi alam setempat masih perlu diteliti lebih lanjut.
“Salah satu pemicunya hujan. Cuman dari sisi karakteristik alamnya yang perlu kita coba teliti lebih dalam,” katanya.
Dari total 20 rumah yang terdampak, sebagian besar mengalami kerusakan berat bahkan satu unit rumah dilaporkan roboh. Para penghuni juga telah mengungsi karena rumah mereka tidak lagi aman untuk ditempati.
“Pergerakan tanah masih berpotensi meluas, kondisi iklim masih di musim penghujan,” ujarnya.
Ruruh menyebut fenomena tanah bergerak seperti ini baru pertama kali terjadi di DIY. Sebelumnya, kejadian serupa yang pernah tercatat di wilayah tersebut lebih banyak berupa sinkhole atau tanah amblas yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul.
“Kalau tanah bergerak ini baru kali ini, fenomenanya kok baru kali ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Pemda DIY buka peluang bantuan lampu Stadion Mandala Krida, namun masih menunggu persetujuan KPK sebelum realisasi.
Googlebook resmi diperkenalkan sebagai laptop AI Gemini generasi baru. Simak fitur, keunggulan, dan jadwal rilis 2026.
Sebanyak 1.738 SPPG disuspend untuk perbaikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah perketat pengawasan dan buka kanal pengaduan.
Kejagung tegaskan auditor kerugian negara tidak hanya BPK. Simak isi surat edaran terbaru dan penjelasan lengkap terkait Putusan MK 2026.
Bank Jateng resmi meresmikan Kantor Cabang Pembantu (KCP) UNS dan Gedung UNS Smart yang berlokasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret