Ribuan Pohon Ditanam di Kawasan Rawan Longsor Lereng Jono
Sebanyak 3.000 pohon ditanam di lereng rawan longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Senin (18/5).
Suasana peluncuran buku teater Lacak Jejak Teater Yogyakarta di Ruang Seminar TBY, Selasa (28/11/2023)./Harian Jogja-Arief Junianto
Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah buku berjudul Lacak Jejak Teater Yogyakarta diluncurkan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (28/11/2023). Buku ini berisi tentang perkembangan seni teater di DIY dari masa ke masa.
Buku setebal 258 halaman tersebut ditulis oleh lima orang penulis, yakni Budi Sarjono (novelis), Toto Sugiharto (jurnalis), Odi Shalahudin (penulis dan kolektor arsip), Suroso Khocil Birowo (jurnalis), dan Arief Junianto (penulis dan jurnalis).
Salah satu penulis Buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta, Suroso Khocil Birowo menuturkan buku yang merupakan edisi pertama ini berisi tentang perjalanan teater di DIY pada medio 1950-1970.
"Edisi pertama masih teater-teater perjuangan. Berteater itu masih belum tersentuh digital, tata artistik juga masih belum seperti anak-anak sekarang," ujar Khocil saat ditemui di TBY, Selasa (28/11/2023).
Tak hanya itu, dia bersama lima penulis lainnya juga mengajak pembaca untuk mengetahui hal-hal teknis dalam sebuah pementasan teater. Misalnya, siluet yang diciptakan dengan memanfaatkan layar dan lampu.
Perjalanan teater di DIY, lanjut Khocil, tak hanya berhenti di era 1970. Pelan tetapi pasti, teater terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi yang juga semakin canggih.
Ini akan tertuang dalam buku Jejak Lacak Teater Yogyakarta edisi kedua yang akan diluncurkan selanjutnya. "Kami hanya mengambil highlight-nya, tetapi orang akan melihat perkembangan teater dari tahun ke tahun," kata Khocil yang sehari-hari juga berprofesi sebagai jurnalis ini.
Dia menuturkan perencanaan soal pembuatan buku ini telah dilakukan sejak 2021. Saat itu, dia coba berkomunikasi dengan TBY.
Lalu, realisasi baru bisa dilaksanakan pada 2023 ini. Buku ini, lanjutnya, menjadi pelengkap dari literasi tentang teater yang telah ada sebelumnya.
Selain itu, keberadaan buku ini juga turut menguatkan DIY sebagai embrio kesenian teater. Hal ini lantaran banyak seniman teater kondang yang menimba ilmu dan berproses di DIY.
BACA JUGA: Sarasehan Teater TBY, Gandeng Generasi Muda Demi Keberlanjutan Teater di Jogja
Sebut saja misalnya Si Burung Merak, WS. Rendra dan Putu Wijaya yang memang awal karier panggungnya dimulai dari Jogja hingga sejumlah nama-nama lain macam Landung Simatupang, dan Butet Kertaradjasa.
Tak mau berpuas hati, Kochil berharap akan terus berinovasi. Perjalanan teater di DIY yang telah terdokumentasi dalam sebuah buku ini diharapkan bisa dibentuk kembali dalam audio visual. "Mumpung tokoh-tokohnya masih ada, jadi kesaksian-kesaksian dibikin semacam feature dengan durasi yang tidak perlu panjang-panjang," harapnya.
Kepala TBY, Purwiati mengapresiasi peluncuran buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta. Dia menuturkan para penulis yang merupakan pelaku seni teater ini punya semangat yang patut diacungi jempol.
Dia bahkan tak bisa menampung semua tulisan. Sebagian tulisan yang tak bisa diluncurkan saat ini, akan diluncurkan pada waktu selanjutnya. "Ini menjadi bahan masukan atau edukasi teman-teman generasi muda bahwa seniman, budayawan yang ada di DIY sudah sangat luar biasa dan akhirnya kita wujudkan dalam bentuk buku," ungkapnya.
Dalam peluncuran buku tersebut, digelar diskusi dengan menghadirkan tiga orang narasumber. Dua narasumber merupakan penulis buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta, yakni Budi Sarjono dan Odi Salahudin, serta satu narasumber lainnya, yakni pelaku teater Elyandra Widharta.
Elyandra mengaku buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta memiliki peran penting, khususnya bagi dirinya yang merupakan pelaku teater dari kalangan generasi muda. Menurut dia, Lacak Jejak Teater Yogyakarta bisa menjadi pelengkap atas buku serupa yang sudah terbit sebelumnya.
"Buku ini jelas sangat penting, khususnya bagi orang-orang seperti generasi saya ini, generasi 1990-an. Dengan begitu, kami ini bisa meneladani dan menjaga spirit berteater seperti yang telah dilakukan para pelaku teater sebelum kami," kata aktor sekaligus sutradara kelompok Sedhut Senut itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 3.000 pohon ditanam di lereng rawan longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Senin (18/5).
Jadwal KRL Jogja–Solo 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Yogyakarta hingga Palur. Cek jam berangkat terbaru di sini.
Israel kembali menyerang armada bantuan Gaza di laut internasional. Puluhan kapal disita dan ratusan aktivis ditahan.
Jadwal KRL Solo–Jogja 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Palur ke Tugu. Cek jam berangkat terbaru dan tarif Rp8.000.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.