PMI Siapkan Operasi Besar Tangani Gempa NTT
Palang Merah Indonesia (PMI) menyiapkan operasi kemanusiaan berskala besar untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di NTT
Warga Kalurahan Mangunan Kapanewon Dlingo mengikuti kirab dalam Festival Abhinaya Reksa Buwana 2023 di kalurahan setempat, Sabtu (2/12/2023). - Harian Jogja/Stefani Yulindriani
BANTUL—Gelaran festival Abhinaya Reksa Buwana 2023 diselenggarakan dengan mengusung visi menjaga kelestarian alam. Visi tersebut sejalan dengan upaya Dinas Pariwisata (Dispar) DIY menggencarkan pariwisata berkualitas (quality tourism) untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
Plt Kepala Dispar DIY, Kurniawan menyampaikan Festival Abhinaya Reksa Buwana 2023 sengaja diselenggarakan di kawasan Mangunan, Dlingo guna menghadirkan konsep sustainable tourism yang selama ini telah diusung Dispar DIY. Menurut dia, penyelenggaraan festival tersebut telah menunjukkan upaya menjaga, dan melestarikan alam yang selama ini digunakan sebagai destinasi wisata.
“Memang festival ini lebih membawa visi semangat menjaga alam kaitannya dengan sustainable tourism. Karena itu penyelenggaraannya paling tepat di Mangunan, karena posisinya merupakan hutan lindung,” kata Kurniawan, di Mangunan, Dlingo, Sabtu (2/12/2023).
Menurut Kurniawan konsep quality tourism yang diusung saat ini tidak menyasar pada banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata, namun pada kualitas yang dihadirkan destinasi wisata tersebut untuk meningkatkan spending money wisatawan. Dengan konsep tersebut, menurutnya sustainable tourism di DIY dapat diwujudkan. Menurut dia sustainable tourism merupakan konsep mempertahankan keberlanjutan alam, ekonomi dan sosial budaya.
“Tentu penting saat ini karena jumlah penduduk dan wisatawan semakin banyak, dan destinasi memiliki daya dukung [carrier capacity] artinya pasti ke depan tantangannya dengan carrier capacity terbatas dan jumlah kunjungan semakin banyak, itu perlu pemikiran untuk kita semuanya [sustainable tourism],” kata dia.
Menurut dia, dalam sustainable tourism terjadi pergeseran strategi dari mass tourism yang berorientasi kepada jumlah wisatawan ke quality tourism, yang berorientasi pada kualitas, sehingga tidak memerlukan wisatawan yang banyak, namun dapat menghasilkan belanja wisatawan [spending money] yang relatif lebih besar.
“Sama-sama carrier capacity yang satu belanjanya lebih besar yang satu lebih kecil, tentu kita mau yang spending money-nya lebih banyak,” katanya.
Menurut dia quality tourism memiliki peluang yang tinggi untuk menarik wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara. Event tersebut menarik karena ada sendratari yang hanya di Mangunan. Dispar DIY di sisi lain perlu terus mendampingi pengelola wisata agar kualitas atraksi yang ditampilkan semakin baik.
Dia pun berharap pelaku wisata setempat meningkatkan kapasitas untuk terwujudnya quality tourism di DIY. “[Pelaku wisata] Harus sesuai standar pelayanan yang semakin baik. Desa wisata harus meningkatkan kapasitasnya, hospitality dan fasilitasnya yang dimiliki. Sekarang live in di desa wisata tren-nya semakin meningkat, ujung-ujungnya spending money-nya naik. Perlahan quality tourism kita wujudkan,” katanya. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Palang Merah Indonesia (PMI) menyiapkan operasi kemanusiaan berskala besar untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di NTT
Harga buyback emas Antam hari ini Rp2,505 juta per gram, naik 6,14% sejak awal 2026 namun masih di bawah rekor Januari.
Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi
Pembangunan ruas Kretek-Girijati yang dikenal sebagai Kelok 23 ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2026. Meski konstruksi segera rampung.
mpatkan kesejahteraan guru sebagai salah satu perhatian pemerintah. Salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
Pegadaian bergerak cepat membantu pemulihan pascagempa di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)