Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Ilustrasi petani./Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Tahun ini di Bantul terdapat penurunan jumlah petani hingga mencapai 4.000 orang. Penurunan itu ditengarai karena minimnya minat generasi muda pada pertanian, lantaran dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan secara finansial.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo menjelaskan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis beberapa waktu lalu, tahun ini penurunan petani mencapai 4.000 petani. “Pada 2022 ada 62.297 petani sekarang tinggal sekitar 58.000 petani,” ujarnya, Senin (11/12/2023).
Menurutnya salah satu faktor penurunan jumlah petani ini karena regenerasi yang minim. Merespons hal ini, pihaknya mendorong pengenalan dunia pertanian kepada generasi muda. “Kami baru mencoba pendekatan lewat SMK Pandak, karena itu SMK yang bergerak di sektor pertanian,” katanya.
Di SMK tersebut para alumni digerakkan untuk memotivasi para siswa agar mau terjun ke dunia pertanian. Ia berharap generasi muda tidak malu untuk bertani. “Kalau milenial terjun di pertanian bisa sebagai pengusahanya, bukan hanya terjun di sawah,” ungkapnya.
Walau jumlah petani berkurang, Pemkab Bantul tetap berupaya agar produktivitas pertanian selalu meningkat dengan berbagai inovasi. “Beberapa daerah kelompok tani padi ada yang mencapai hasil panen 10,9 ton. jadi sudah ada peningkatan. Ratra rata di Bantul 8,8 ton. Tetapi banyak kelompok yang produktivitasnya lebihd ari 10 ton,” katanya.
Ketua Gapoktan Patalan, Sumantri, mengatakan regenerasi petani minim karena pekerjaan bertani dianggap tidak menguntungkan. “Karena pekerjaan sebagai petani sekarang tidak menguntungkan, harga pupuk mahal, harga jual saat panen murah,” paparnya.
BACA JUGA: Penjelasan Pakar Terkait Meningkatnya Persentase Petani Tua di DIY
Biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil yang didapat saat panen membuat generasi muda tidak tertarik pada sektor ini. “Sulitnya mencari regenerasi yang mau masuk anggota Gapoktan, karena tidak ada petani muda,” katanya.
Adapun para petani yang tergabung dalam gapoktannya saat ini rata-rata sudah berusia tua. Ia berharap pemerintah dapat mengupayakan regenerasi petani. “Saat ini kurangnya sosialisasi dari pemerintah untuk menjadi petani penerus,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Polri mengungkap jaringan judi daring dengan omzet Rp7,5 miliar per bulan dan memblokir 42 rekening terkait perkara tersebut.
Bansos cash transfer akan diuji coba awal 2027. Luhut menyebut pemerintah juga melibatkan Pemda dalam pendataan penerima bansos.
Pendapatan Kulonprogo diproyeksikan turun Rp97,25 miliar. DPRD mendorong Pemkab mengoptimalkan potensi YIA dan kawasan industri.
Kejagung mendalami dugaan aliran Rp40 miliar dari Tan Kian kepada Febrie Adriansyah dalam perkara korupsi dan TPPU.
BSI memperluas akses pembiayaan rumah pekerja peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui BSI Griya MLT dengan skema syariah hingga 30 tahun.