Panen Raya Bawang Merah Bantul Melimpah, Harga Justru Anjlok

Kiki Luqman
Kiki Luqman Jum'at, 31 Juli 2026 14:17 WIB
Panen Raya Bawang Merah Bantul Melimpah, Harga Justru Anjlok

Ilustrasi panen bawang merah. - Antara

Harianjogja.com, BANTUL—Panen raya bawang merah yang mulai berlangsung di kawasan lahan pasir pantai selatan (Pansela) Bantul belum sepenuhnya membawa kabar menggembirakan bagi petani. Meski hasil panen tergolong baik, harga jual komoditas tersebut justru mengalami penurunan tajam sehingga keuntungan petani menipis.

Saat ini bawang merah di tingkat pedagang atau penebas hanya dihargai sekitar Rp15.000 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga pada awal musim panen bawang merah di lahan sawah sekitar satu setengah bulan lalu yang sempat mencapai Rp25.000 per kilogram.

Salah seorang petani bawang merah lahan pasir Pansela Bantul, Andika Nur Cholis, mengungkapkan panen raya mulai berlangsung sekitar sepekan terakhir. Produksi yang dihasilkan petani relatif memuaskan, namun kondisi pasar tidak berpihak kepada mereka.

Menurut Andika, harga yang berlaku saat ini membuat margin keuntungan petani jauh berkurang dibandingkan musim panen sebelumnya.

"Sekitar 1,5 bulan yang lalu atau saat awal panen bawang merah yang ditanam di areal persawahan (tanah sawah) harganya masih Rp25 ribu per kilogram sehingga petani untung cukup banyak," katanya saat dihubungi, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan penurunan harga terjadi ketika panen bawang merah berlangsung hampir bersamaan di berbagai daerah sentra produksi nasional. Melimpahnya pasokan membuat harga di tingkat petani tidak mampu bertahan.

Menurutnya, bawang merah dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur hingga sejumlah daerah di Sulawesi saat ini juga sedang memasuki masa panen. Kondisi tersebut menyebabkan stok di pasar meningkat signifikan.

"Ya akhirnya hukum ekonomi berjalan, pasokan melimpah akhirnya harga turun," ujarnya.

Meski demikian, Andika menyebut petani masih dapat bertahan karena biaya produksi tidak setinggi beberapa tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang membantu adalah penggunaan sistem elektrifikasi untuk kebutuhan irigasi lahan pasir.

Pemanfaatan listrik untuk penyiraman tanaman mampu memangkas biaya operasional yang sebelumnya cukup besar ketika petani masih mengandalkan metode lain untuk mengairi lahan.

Efisiensi tersebut membuat petani tidak mengalami kerugian besar meskipun harga jual sedang rendah. Namun keuntungan yang diperoleh tetap sangat terbatas dan dalam beberapa kasus hanya cukup untuk menutup biaya produksi.

"Ya elektrifikasi untuk penyiraman bawang merah menekan biaya yang tinggi untuk irigasi," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo, mengatakan panen raya bawang merah secara umum diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan Agustus 2026. Meski demikian, sebagian petani di kawasan lahan pasir telah lebih dulu melakukan panen.

Joko membenarkan harga bawang merah yang diterima petani saat ini berada pada kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

Menurutnya, anjloknya harga bukan hanya terjadi di Bantul, melainkan dipengaruhi kondisi pasar nasional yang sedang dibanjiri pasokan dari berbagai sentra produksi.

Selain Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejumlah daerah di Sulawesi juga sedang memasuki masa panen raya sehingga suplai bawang merah meningkat tajam.

Akibatnya, harga di tingkat pasar ikut terkoreksi dan berdampak langsung pada harga yang diterima petani.

"Kondisi ini dipicu karena berbarengan dengan panen raya petani bawang merah di Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan daerah Sulawesi juga sedang panen raya bawang merah hingga harga bawang merah merosot tajam," ujar Joko.

Meski harga sedang tertekan, pemerintah berharap produktivitas yang baik serta efisiensi biaya produksi dapat membantu petani tetap bertahan hingga kondisi pasar kembali membaik. Petani juga berharap harga bawang merah dapat berangsur pulih setelah pasokan dari berbagai daerah mulai berkurang dalam beberapa pekan ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online