Isu Iklim dan Lingkungan Belum Menarik Jadi Komoditas Politik, Ini Penyebabnya

Sunartono
Sunartono Minggu, 11 Februari 2024 20:37 WIB
Isu Iklim dan Lingkungan Belum Menarik Jadi Komoditas Politik, Ini Penyebabnya

Diskusi dan nonton bersama dua film berjudul Laut Masih Memakan Daratan dan Bersama Membangun Negeri dugelar di Sleman Creative Space, Depok, Sleman, Sabtu (10/2/2024). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Diskusi dan nonton bersama dua film berjudul Laut Masih Memakan Daratan dan Bersama Membangun Negeri dugelar di Sleman Creative Space, Depok, Sleman, Sabtu (10/2/2024). Kedua film ini berisi tentang kritik terhadap isu lingkungan.

Menariknya dari diskusi tersebut terungkap isu iklim dan lingkungan belum menjadi komoditas politik. Oleh karena itu sangat jarang seorang politikus membawa isu lingkungan untuk mengarak ke kepentingan elektoral. Pakar Politik Pemerintahan Fisipol UGM Abdul Gaffar Karim menjelaskan setiap politikus pasti akan membuat pertimbangan isu yang diangkap seperti halnya pedagang, dia tidak akan menjual barang dagangan yang tidak ada pembelinya.

Setiap isu untuk kepentingan elektoral yang diangkat sangat mempertimbangkan permintaan di masyarakat. Di sisi lain isu lingkungan dan iklim jarang ada permintaan dari masyarakat.

BACA JUGA  Pemda DIY Ingatkan Soal Investasi Raffi Ahmad di Gunungkidul, Harus Perhatikan Lingkungan

"Inilah yang menjadi penyebab isu iklim dan lingkungan tidak pernah atau jarang dibawa oleh para politikus untuk kepentingan elektoral. Kalau disurvei hasilnya mengabaikan isu lingkungan, hanya 15 persen saja yang ingin ada isu lingkungan, rata-rata yang demand tinggi isu lowongan kerja dan pemenuhan kebutuhan primer lainnya," katanya dalam diskusi pemutaran film tersebut.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Solidaritas Perempuan (SP) Kinasih, Sana Ullaili. Bukan pekerjaan mudah untuk menjadikan isu lingkungan sebagai permintaan kolektif masyarakat agar bisa menjadi komoditas politik elektoral. Bahkan di ranah pemerintahan sekalipun sangat minim program lingkungan. Salah satunya sangat jarang pemerintahan yang menganggarkan untuk pengelolaan bank sampah yang sejatinya sangat penting untuk lingkungan.

"Kalau isu lingkungan ini bisa ditempatkan sebagai collective demand sangat mungkin dalam 2-5 tahun yang akan datang kita bisa membatalkan semua regulasi yang mengeksploitasi alam, tapi kita butuh kekuatan masyarakat atau people power," ujarnya.

Co-inisiator pilahpilih.id Michelle Winowatan menyatakan pada 20 hingga 30 tahun ke depan anak muda akan berhadapan dengan berbagai bencana dan dampak lin jika krisis iklim dan lingkungan tidak ditangani secara serius. Oleh karena itu isu lingkungan dan iklim seharusnya menjadi prioritas agenda politik yang berkompetisi satu sama lain.

BACA JUGA : Sampah di Sepanjang Sumbu Filosofi Jogja Bakal Dikelola Mandiri

"Kami bekerja sama dengan sineas muda untuk membuat iklan layanan masyarakat yang bertujuan mendorong pemilih muda menggunakan hak pilihnya dengan bijak. Termasuk dengan memilih pemimpin yang memprioritaskan isu iklim
dalam visi misi mereka," katanya.

Direktur Eksekutif KDM Cinema dan inisiator Youth Screen, Suluh Pamuji pemutaran film itu bertujuan untuk mendekatkan film pendek dengan pemilih muda khususnya setingkat SMA/SMK dan sederajat. Sehingga mereka bisa mendapatkan akses
tontonan yang muatannya mengandung pendidikan, hiburan dan memantik daya kritis. "Di volume lima ini isu lingkungan menjadi penting karena di setiap daerah itu punya masalahnya sendiri-sendiri,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online