Persiapan Paskah, Gereja Kotabaru Disterilisasi
Jelang hari raya Paskah Gereja St Antonius Padua Kotabaru disterilisasi untuk mencegah keberadaan benda-benda berbahaya selama pelaksanaan ibadah paskah
Suasana Pasar Beringharjo, Selasa (16/4/2024) - Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin
Harianjogja.com, JOGJA—Pasar Beringharjo menjadi salah satu destinasi di Kota Jogja yang diburu oleh wisatawan. Biasanya, wisatawan akan membawa pulang oleh-oleh baik itu pakaian, batik, makanan, hingga pernak-pernik usai menghabiskan waktu liburan di Kota Jogja.
Lurah Pasar Beringharjo Barat Aroni Fasah menuturkan puncak kepadatan Pasar Beringharjo utamanya di sisi barat terjadi mulai 12-14 April.
Akumulasi wisatawan yang datang pada waktu-waktu tersebut mencapai lebih dari 40.000 wisatawan. Pada 12 April kunjungan mencapai lebih dari 12.000. Lalu, meningkat pada 13 April sebanyak lebih dari 14.000 dan mencapai puncaknya pada 14 April sebanyak lebih dari 15.000.
"Sejak H-3 dan H-4 Lebaran itu pengunjung sudah menggeliat. Dari yang biasa, menjadi 100% kenaikannya untuk intensitas pengunjung," ujar Aroni saat dihubungi, Selasa (16/4/2024).
BACA JUGA: Wisata DIY Lesu, Pengamat: Tol Belum Rampung, Daya Beli Juga Turun
Jumlah kunjungan pada puncak libur Lebaran jauh melonjak jika dibanding beberapa hari sebelum Lebaran. Setiap hari sebelum Lebaran, Pasar Beringharjo sisi barat hanya didatangi oleh wisatawan 4.000 hingga 6.000 pengunjung.
Meski terjadi kepadatan di Pasar Beringharjo, tapi dari sisi jumlah kunjungan ternyata lebih rendah dari momentum yang sama pada tahun lalu. Menurut Aroni, ini disebabkan oleh masifnya penjualan di aplikasi market place dan sosial media. Ini menjadikan masyarakat memilih untuk tidak membeli baju secara langsung.
Dari sisi perputaran uang, Aroni mengatakan belum mengantongi data sehingga belum bisa menyimpulkan. Namun, dia menyadari perputaran uang memang tidak terjadi sama atau merata di setiap pedagang.
"Perputaran uang kita belum merata. Ada yang Alhamdulillah [melebihi tahun lalu], ada yang tidak sesuai jika dibanding tahun kemarin. Itu ada di tengah lebih tinggi lakunya, beda dengan yang samping-samping," katanya.
Sementara, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat Ahmad Zainul Bintoro mengakui penjualan saat libur Lebaran kali ini juga tak seramai tahun lalu. Penurunan terjadi setidaknya hingga 30-40% dibanding tahun lalu.
"Mungkin karena kondisi sekarang beda dengan tahun-tahun kemarin. Kalau sekarang mungkin baru banyak musibah salah satunya mungkin itu ya, ada banjir, dan situasi iklim di Indonesia tidak menentu sehingga kemudian tidak begitu banyak seperti tahun-tahun dulu," jelasnya.
Bintoro menambahkan, jenis pakaian daster, setelan, hingga celana batik masih menjadi produk paling favorit. Sebab, dari sisi harga terbilang terjangkau dan cocok untuk oleh-oleh. Setiap harinya, para pedagang meraup jumlah untung yang berbeda-beda.
"Kalau tempat saya sekitar bisa 50 pieces [potong]. Ramainya H+3 sampai hari Minggu. Puncaknya di Hari Sabtu, Minggu bisa 50 sampai 60 pieces, tetapi lainnya ada yang di bawah itu," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jelang hari raya Paskah Gereja St Antonius Padua Kotabaru disterilisasi untuk mencegah keberadaan benda-benda berbahaya selama pelaksanaan ibadah paskah
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.
Meta menghadirkan fitur Incognito Chat AI di WhatsApp dengan teknologi Pemrosesan Privat untuk menjaga kerahasiaan percakapan pengguna.
KPK memperpanjang penahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terkait dugaan korupsi pemerasan OPD.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.
Kemenkes mengingatkan cara aman menyimpan dan mengolah daging kurban agar terhindar dari bakteri dan penyakit zoonosis saat Iduladha.