PKB Sleman Santuni Anak Yatim, Perkuat Kepedulian Sosial di Muharam
PKB Sleman menggelar santunan anak yatim dan doa Asyura pada Muharam sebagai wujud kepedulian sosial serta memperkuat semangat berbagi kepada masyarakat.
Data riset terkait belanja dengan sistem online dan offline. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Hasil riset terbaru Populix menunjukkan tren belanja secara offline masih cukup tinggi di tengah terus meningkatkan belanja dengan sistem online. Sebanyak 34% masyarakat memilih belanja bahan makanan secara offline atau konvensional dan 46% masyarakat belanja produk fesyen dan kecantikan secara online.
Riset Populix membandingkan preferensi belanja konsumen dalam tiga periode, yaitu sebelum, saat, dan setelah terjadinya pandemi. Sebanyak 54% dari total responden yang aktif berbelanja online dan offline lebih memilih melakukan aktivitas belanja online selama pandemi berlangsung. Setelah pandemi berakhir, 49% di antaranya juga masih lebih sering melakukan aktivitas belanja online.
BACA JUGA : Editage Dukung Peningkatan Reputasi Kampus Jogja Melalui Riset Berkualitas
Berbeda dari persentase aktivitas belanja online yang mengalami sedikit penurunan, konsumen yang lebih memilih aktivitas belanja offline setelah masa pandemi berakhir mengalami kenaikan hingga lebih dari 2 kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tren belanja online cukup populer, konsumen Indonesia juga masih tetap gemar berbelanja offline.
"Secara umum, konsumen Indonesia telah memiliki preferensi saat melakukan pembelian kategori produk tertentu. Riset ini menemukan bahwa produk fesyen dan kecantikan masing-masing sebanyak 46 persen dibeli secara online. Adapun kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan tercatat 34 persen lebih dominan dibeli secara offline [sistem konvensional]," kata Head of Research Populix Indah Tanip dalam rilisnya Jumat (19/4/2024).
Riset ini juga menyoroti faktor pendorong yang membuat konsumen memilih melakukan pembelian baik secara online maupun offline. Masyarakat lebuh memiliki belanja secara online karena alasan praktis sebanyak 67%, kemudahan membandingkan harga 66%, ketersediaan beragam metode pembayaran 60% dan kemudahan pengembalian barang di angka 25%. Adapun alasan masyarakat memiliki belanja secara offline karea bisa melihat produk secara (77%), tidak ada biaya pengiriman (66%) dan jarak dekat dengan toko (62%).
BACA JUGA : Buruan Submit! BRIN dan LPDP Buka 8 Skema Pendanaan Riset Senilai Total Rp700 Miliar
"Transaksi belanja offline maupun online memiliki peranan yang sangat penting dalam mendorong kemajuan perekonomian di Indonesia. Sinergi antara ritel offline dan online menjadi hal yang penting dalam mengakomodasi kebutuhan konsumen," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PKB Sleman menggelar santunan anak yatim dan doa Asyura pada Muharam sebagai wujud kepedulian sosial serta memperkuat semangat berbagi kepada masyarakat.
Balita tewas setelah terjebak lubang proyek di Manggarai, Tebet. Evakuasi berlangsung empat jam sebelum korban dibawa ke rumah sakit.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 29 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 dengan 16 jadwal keberangkatan.
BPS menjamin data Sensus Ekonomi 2026 hanya untuk statistik, bukan pajak. Pendataan menjadi dasar kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Menteri Rosan Roeslani menilai kolaborasi riset dan industri menjadi kunci mempercepat hilirisasi serta memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Mensos Syaifullah Yusuf menegaskan validitas data menjadi kunci Program Sekolah Rakyat agar bantuan pendidikan tepat sasaran bagi keluarga miskin.