Hanya di Jogja Festival Budaya Wujud Kolaborasi Lestarikan Kebudayaan

Media Digital
Media Digital Minggu, 21 April 2024 21:17 WIB
Hanya di Jogja Festival Budaya Wujud Kolaborasi Lestarikan Kebudayaan

Penjabat Wali Kota Jogja, Singgih Raharjo saat menyerahkan penghargaan Best Inpiring Alpha Woman kepada empat perempuan terpilih pada gelaran Hanya di Jogja Festival Budaya, Minggu (21/4/2024). Harian Jogja/Alfi Annissa Karin

JOGJA—Festival Budaya digelar di Taman Embung Giwangan, Minggu (21/4/2024). Kegiatan yang diberi tajuk Hanya di Jogja Festival Budaya ini di dalamnya berisi berbagai penampilan dan perlombaan seni budaya hingga talk show. Ada juga lomba pakaian adat yang diikuti anak hingga remaja.

Hanya di Jogja Festival Budaya diinisiasi oleh G Production selaku salah satu pelaku seni Jogja yang berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dinas Pariwisata Provinsi DIY, Pupuk Indonesia dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia serta berbagai pihak pendukung lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja, Yetti Martanti menuturkan kegiatan ini menjadi wadah untuk mempresentasikan dan melestarikan seni dan budaya. Dalam agenda ini Disbud menggandeng pelaku seni, komunitas, dan lainnya. Menurutnya, Hanya di Jogja Festival Budaya menjadi pembuktian budaya yang berkelanjutan bisa terwujud dengan dibarengi kolaborasi berbagai pihak.

"Kami menunjukkan kepada masyarakat bahwa kerja budaya itu harus ada kolaborasi untuk memberikan efek keberlanjutan dari kebudayaan itu sendiri," ujar Yetti di Taman Embung Giwangan, Minggu.

Menurutnya, ada berbagai jenis tampilan pada gelaran Hanya di Jogja Festival Budaya, mulai dari pertunjukan seni, kuliner, hingga berbagai kebudayaan kekinian yang tengah berkembang. Peran masyarakat mulai dari anak hingga dewasa juga dilibatkan dalam festival ini. "Kolaborasi tidak hanya pemerintah, swasta, komunitas, pelaku seni, tetapi juga berbagai lembaga. Kolaborasi itu yang membuat kegiatan ini lebih meluas," katanya.

Dijelaskan Yetti, Taman Embung Giwangan dipilih menjadi lokasi karena kawasan ini menjadi ruang bertemunya masyarakat untuk mempresentasikan karya seni budaya di Jogja.

"Ini cara kami untuk memperluas jangkauan informasi tentang kebudayaan yang ada di Jogja, dan menjadi bukti bahwa budaya luar Jogja juga bisa dipresentasikan di sini," katanya.

Salah satu seniman yang hadir, Yati Pesek mengaku senang dan terkesan dengan perhatian pemerintah terhadap seni budaya. Penyiapan Taman Embung Giwangan sebagai salah satu tempat eksplorasi seni, menurutnya, menjadi bentuk keseriusan pemerintah dalam melestarikan kebudayaan.

"Saya bangga Taman Embung Giwangan ini menjadi taman budaya. Anak cucu saya yang bisa seni bisa berkiprah di sini. Tidak hanya indah tapi juga megah," katanya.

Ketua Bidang II Srikandi BUMN, Endang Suraningsih mengatakan kolaborasi diperlukan untuk upaya pelestarian budaya. Misalnya, dengan melibatkan akademisi, pelaku bisnis, swasta, hingga komunitas maayarakat, dan komunitas seni budaya. "Pemerintah tugasnya memfasilitasi, sehingga diharapkan budaya tak hanya urip [hidup], tetapi juga urup [memberikan kehidupan]," katanya. (***)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online