BEDAH BUKU: Gunungkidul Cocok Menerapkan Patbo Super

Media Digital
Media Digital Senin, 29 April 2024 23:47 WIB
BEDAH BUKU: Gunungkidul Cocok Menerapkan Patbo Super

Suasana bedah buku berjudul Budi Daya Padi di Lahan Tadah Hujan dengan Teknologi Patbo Super di Pedukuhan Bendungan, Kalurahan Bendungan, Karangmojo, pada Senin (29/4).

GUNUNGKIDUL—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama Komisi A DPRD Gunungkidul menggelar bedah buku berjudul Budi Daya Padi di Lahan Tadah Hujan dengan Teknologi Patbo Super di Pedukuhan Bendungan, Kalurahan Bendungan, Karangmojo, pada Senin (29/4/2024).

Dalam bedah buku tersebut, dua narasumber yang merupakan praktisi dan peneliti menyampaikan gagasan mereka mengenai cara mengoptimalkan lahan pertanian tadah hujan. Akademisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Hari Haryadi mengatakan tekonologi patbo super dalam dunia pertanian dikembangkan pertama kali di Jawa Barat. Penerapan tekonologi tersebut diklaim berhasil dan dapat meningkatkan hasil pertanian.

“Teknologi patbo super bisa diterapkan di Gunungkidul karena kondisi lahan di Gunungkidul kering kekurangan air. Cocok pertanian tandah hujan dengan tekonologi itu,” kata Hari ditemui di Pedukuhan Bendungan, Senin (29/4/2024).

Hanya, menurut Hari perlu pendekatan komprehensif baik dari akademisi, praktisi maupun pemerintah daerah agar petani mau memulai dan serius menekui teknologi patbo super.

Praktisi Pertanian, Rohadi melihat kebiasaan masyarakat dari sisi sosiologis. Menurut dia, petani di Indonesia sulit mengubah kebiasaan yang telah lama ada termasuk sistem pertanian.

“Perlu ada contoh keberhasilan. Petani baru mau mengikuti dan berubah. Perlu ada tokoh masyarakat yang mendorong terjadinya perubahan penggunaan teknologi pertanian,” kata Rohadi.

Rohadi menambahkan pemerintah daerah perlu mengawal sosialisasi penggunaan teknologi patbo super. Tekonologi tersebut dapat menjadi inovasi yang menyejahterakan masyarakat apabila berhasil diterapkan. Pasalnya, luas lahan tadah hujan di Gunungkidul dua kali dari luas sawah irigasi.

Dia menegaskan penggunaan tekonologi patbo super menambah keuntungan Rp3 juta per satu hektare lahan tadah hujan daripada lahan pertanian biasa.

“Mestinya Dinas Pertanian punya konsentrasi luar biasa terkait penerapan tekonologi patbo super. Persoalan saat ini kan praktisi dari Dinas Pertanian kurang jumlahnya,” katanya.

Anggota Komisi A DPRD Gunungkidul, Sugeng Nurmanto mengatakan Kabupaten Gunungkidul memiliki keterbatasan perihal sumber air untuk mengairi lahan pertanian. Sebab itu, selain intervensi pembuatan sumur irigasi, petani juga perlu terlibat dengan berinovasi untuk mengoptimalkan pertanian.

Menurut dia, petani Gunungkidul memiliki kecenderungan bercocok tanam secara monoton dengan hanya mengandalkan lahan tadah hujan.

 

“Hasilnya tidak sesuai harapan. Modal lebih besar dan hasil kurang maksimal berkaitan dengan pola tanam yang belum pakai pola modern,” kata Sugeng.

Dengan adanya bedah buku maka petani dapat memperoleh pengetahuan baru. Dari situ, petani memiliki alternatif pilihan dalam mengolah lahan untuk mengoptimalkan hasil pertanian. Hasil akhirnya, kata dia pendapatan petani dapat lebih besar, tidak hanya merugi.

Namun, tantangan yang merentang sampai saat ini di Gunungkidul, kata Sugeng yaitu kemauan dan kebiasaan membaca. Minat membaca yang turun perlu didongkrak dengan diskusi literasi secara aplikatif. Hal ini menjadi tujuan perpustakaan inklusif.

“Petani juga perlu membaca karena teknologi dan pola pertanian selalu berkembang,” katanya. (***)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online