Galian Drainase Mulai Muncul di Kotagede, Rp6 Miliar Digelontorkan

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Jum'at, 31 Juli 2026 08:07 WIB
Galian Drainase Mulai Muncul di Kotagede, Rp6 Miliar Digelontorkan

Ilustrasi drainase/Ist-WSBT

Harianjogja.com, JOGJA—Pekerjaan peningkatan Saluran Air Hujan (SAH) mulai berjalan di kawasan Jalan Nyi Pembayun, Kemantren Kotagede. Proyek yang menjadi salah satu paket strategis Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja pada 2026 tersebut merupakan bagian dari alokasi anggaran lebih dari Rp6 miliar untuk memperkuat jaringan drainase di Kotagede dan Kelurahan Rejowinangun.

Di lokasi pekerjaan, alat berat telah melakukan penggalian saluran di sisi barat Jalan Nyi Pembayun, tepatnya dari simpang tiga HS Silver menuju arah utara. Sejumlah box culvert beton juga sudah mulai dipasang bersamaan dengan pembangunan Sumur Peresapan Air Hujan (SPAH) di sepanjang jalur tersebut.

Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Jogja, Rahmawan Kurniadi, menjelaskan peningkatan SAH di Kotagede memperoleh anggaran sekitar Rp3,08 miliar. Pekerjaan dibagi menjadi dua segmen, yakni di Jalan Nyi Pembayun sepanjang kurang lebih 375 meter dan Jalan Kemasan sepanjang sekitar 179 meter.

Menurut Rahmawan, pekerjaan saat ini difokuskan terlebih dahulu di Jalan Nyi Pembayun. Saluran lama diganti menggunakan box culvert beton karena kapasitas yang ada dinilai tidak lagi memadai untuk menampung aliran air.

"SAH [Jalan Nyi Pembayun] yang lama jelas sudah sering rusak. Itu karena kapasitasnya cuma pasangan batu kali. Ini kita tingkatkan kapasitas dan juga kualitasnya," katanya, Jumat (31/7/2026).

Selama proses pembangunan berlangsung, akses kendaraan di kawasan tersebut tetap dibuka. Pemkot Jogja menerapkan sistem buka tutup arus lalu lintas agar pekerjaan dapat berjalan tanpa menutup ruas jalan sepenuhnya.

Rahmawan mengatakan tidak ada kebijakan penutupan jalan selama proyek berlangsung. Pengaturan lalu lintas dilakukan secara bergantian hingga pekerjaan selesai sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

"Tidak ada penutupan jalan, hanya pengaturan lalu lintas buka tutup bergantian. Target sesuai kontrak selesai pada September. Kami mengimbau masyarakat menghindari ruas ini selama pekerjaan berlangsung. Namun jika harus melintas, kami harap berhati-hati karena sudah dipasang papan informasi proyek," ujarnya.

Setelah segmen Jalan Nyi Pembayun rampung, pekerjaan akan bergeser ke Jalan Kemasan sisi utara. Lokasi tersebut berada di dekat simpang berlampu lalu lintas dan menjadi jalur yang dilalui armada Trans Jogja. Karena kondisi tersebut, pengerjaan di Jalan Kemasan direncanakan berlangsung pada malam hari sesuai rekomendasi Dinas Perhubungan Kota Jogja.

Selain meningkatkan kapasitas drainase, proyek ini juga mengintegrasikan pembangunan SAH dengan SPAH. Melalui sistem tersebut, sebagian air hujan yang masuk ke saluran tidak langsung dialirkan menuju sungai, tetapi terlebih dahulu ditampung dan diresapkan kembali ke dalam tanah.

"Melalui sistem ini, sebagian air hujan yang mengalir di saluran tidak langsung dibuang ke hilir, melainkan ditampung dan diresapkan kembali ke dalam tanah. Jadi hanya limpasan air saja yang ke sungai. Fungsi drainase tidak hanya sebagai sarana pengaliran air, tetapi juga sebagai media konservasi sumber daya air," katanya.

Program pembangunan sumur resapan tersebut telah berjalan di berbagai wilayah Kota Jogja. Hingga saat ini Dinas PUPKP Kota Jogja mencatat sudah membangun 4.159 titik SPAH. Pada 2026, pemerintah kembali menargetkan pembangunan sekitar 350 titik SPAH baru yang diintegrasikan dengan pembangunan maupun peningkatan SAH.

Peningkatan drainase juga dilakukan di Kelurahan Rejowinangun. Dinas PUPKP mengalokasikan anggaran sekitar Rp3 miliar untuk melanjutkan pembangunan SAH di akses menuju Kampung Karangsari. Program tersebut merupakan kelanjutan pembangunan saluran yang sebelumnya dikerjakan pada 2025 dari Jalan Kebun Raya ke arah timur.

Saluran baru yang dibangun di Kelurahan Rejowinangun nantinya akan dihubungkan dengan jaringan drainase yang telah tersedia. Konektivitas jaringan tersebut disiapkan sebagai bagian dari upaya penanganan genangan yang selama ini terjadi di kawasan tersebut, sekaligus memperkuat sistem pengelolaan air hujan di wilayah permukiman Kota Jogja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online