Lurah Terpilih di Bantul Harus Rangkul Warga yang Berbeda Pilihan
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Pemakaman salah satu korban keracunan makanan di Kalurahan Playen, Playen, Gunungkidul, Senin (27/5/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY meminta masyarakat untuk menjaga kebersihan tempat pengolahan makanan. Imbauan ini merespons munculnya peristiwa dua warga yang meninggal dunia akibat keracunan makanan di Padukuhan Tumpak, Kalurahan Ngawu, Playen, Gunungkidul.
Kepala Dinkes DIY, Pembajun Setyaningastutie mengaku akan melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus di Playen itu. Akan teteapi lantaran masih dalam suasana berduka, petugas belum diperbolehkan masuk ke dalam tempat pengolahan makanan yang merupakan rumah warga itu.
"Yang kami sayangkan karena petugas belum diizinkan untuk masuk di tempat karena itu makanan olahan rumahan bukan olahan pihak ketiga," katanya, Selasa (28/5/2024).
Pembajun menjelaskan kasus itu bermula dari acara syukuran. Sejumlah warga dan tetangga diundang untuk mengikuti acara itu. Kurang lebih ada sebanyak 15 orang kerabat yang hadir di acara itu. Empat orang lainnya tidak hadir tapi diberi hantaran. "Masakan itu sendiri tentunya dibuat sebelum maghrib ya pas acara berlangsung dan menurut beberapa korban yang kami tanya memang tidak ada rasa atau bau yang aneh dari makanan itu," ujarnya.
Acara syukuran itu digelar pada Kamis 23 Mei lalu. Para kerabat yang menghadiri syukuran baru merasakan gejala diare dan demam pada Jumat 24 Mei pagi.
Dari 19 orang yang mengkonsumsi makanan syukuran itu tujuh di antaranya menjalani rawat jalan, lima rawat inap dan tujuh lainnya tidak bergejala. "Memang yang jadi sampel makanannya tidak ada. Waktu kami turun ke lapangan sudah tidak ada lagi sisa karena memang sudah lama juga. Kami turun hari Senin, 27 Mei karena baru dapat informasi Minggu, 26 Mei," katanya.
Adapun makanan yang dikonsumsi para kerabat itu di antaranya urap, ayam goreng, tempe dan nasi putih. Ada pula sambal terasi dan bawang serta air mineral. "Yang tidak bisa kami telusuri, apakah keracunan makanan atau minuman itu mohon maaf berasal dari tempat pengolahannya? Karena kami tidak bisa masuk melihat tempat pengolahannya. Belum diperkenankan dari pihak keluarga," ujarnya.
Di sisi lain, petugas juga belum bisa mendeteksi penyebab keracunan yang berasal dari feses para korban. Petugas tidak bisa membedakan apakah itu dari makanan, minuman atau dari bakteri lain. Fenomena ini, kata dia menjadi pekerjaan rumah bagi lintas sektor untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas.
"Memang sekarang olahan makanan itu harus diolah dengan baik. Tidak hanya kualitas makanan tetapi juga tempat pengolahan harus jadi perhatian," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Hasto Wardoyo meminta seluruh kemantren di Jogja meniru program Bapak Asuh Trotoar untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan trotoar
Amnesty International mendesak negara-negara menentang sanksi AS terhadap ICC demi menjaga akuntabilitas dan keadilan internasional.
Presiden ICAO mengapresiasi keselamatan penerbangan Indonesia. Skor audit mencapai 78,85%, di atas rata-rata global 70,6%.
Kejagung mengungkap kerugian negara Rp863,84 miliar dalam dugaan korupsi pengadaan motor listrik BGN yang melibatkan lima tersangka.
Mario Suryo Aji mengevaluasi gaya membalap setelah kecelakaan di Tikungan 1 dan bersiap menghadapi Q1 Moto2 GP Indonesia 2026.