Sertifikasi CPLA Jadi Nilai Tambah Pencari Kerja
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Tangkapan layar saat narasumber Sarasehan Macapat, Muhammad Bagus Febrianto dan para peserta menembang macapat, dalam Sarasehan dan Pagelaran Macapat pada Kamis (30/5/2024)./Youtube BPK Wilayah X
JOGJA—Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X menggelar Sarasehan dan Pagelaran Macapat pada Kamis (30/5/2024). Gelaran bertema Wulang Bratasunu: Menyemai Kebijaksanaan Hidup Sejak Dini ini menjadi upaya pelestarian seni budaya macapat sekaligus memberikan nilai-nilai kebijaksanaan kepada anak.
Pamong Budaya Ahli Madya BPK Wilayah X, Asmara Dewi menjelaskan kegiatan ini dihadiri sekitar 112 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah hingga paguyuban komunitas macapat di wilayah DIY. “Kegiatan ini bertujuan menjaga kelestarian tradisi lisan dan manuskrip yaitu macapat, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tembang macapat, serta menggugah apresiasi, dari siswa SD, SMP, pelestari kebudayaan,” ujarnya.
Macapat merupakan produk seni budaya tradisioonal Jawa, yang memiliki banyak makna dan filosofi mendalam, sehingga menjadi salah satu kekayaan budaya ayang harus dijaga dan dilestarikan. “Macapat dalam bidang pemajuan kebudayaan, memiliki fungsi dan peran pada pelestarian budaya dan mengatur manusia, agar mempunyai tata nilai sosial budaya yang baik,” katanya.
Dia berharap apa yang dituturkan dalam macapat bisa diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. “Tembang macapat jangan sampai punah. Kami mengajak adek-adek dari SD supaya memahami dan mengenal kemudian akan tentunya melaksankan dalam suatu nilai perilaku yang baik,” ujar dia.
BACA JUGA: Pergelaran Macapat Rikat Rakit Raket 2024, Tekad Kuat Untuk Menjaga Identitas Yogyakarta
Narasumber Sarasehan Macapat, Muhammad Bagus Febrianto, mengatakan dalam membedah Piwulang Bratasunu, para peserta membuka kembali dhawuh leluhur dulu seperti apa. “Perlu dipahami jika Bratasunu diserat dari Kanjeng Tumenggung Yosodipuro II. Penulisnya Yosodipuro, pemrakarsanya Susuhunan Pakubuwono IV Surakarta Hadiningrat,” ungkapnya.
Dahulu, kata dia, keluarga kerajaan dalam mendidik anak-anaknya, menyampaikan pedoman hidup melalui serat. “Kalau kita ke Kraton Jogja, Surakarta, Mengkunegaran, Pakualaman, banyak naskah yang isinya bab piwulang. Itu untuk menginggali pedoman hidup kepada para penerusnya,” kata dia.
Dalam serat ini, disampaikan jika adab lebih luhur daripada ilmu. Ia melihat saat ini adab banyak yang dikesampingkan dan orang-orang lebih mementingkan punya ilmu saja. “Adab itu yang utama. Anak anak yang pertama harus kita didik adalah adab, unggah-ungguh. Kepada siapapun, lebih-lebih kepada orang tua dan guru,” ungkapnya.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik adab anak-anaknya di rumah. Hal ini diperlukan karena orang tua lah yang paling lama bertemu dengan anaknya. “Kalau guru ketemu di sekolah hanya beberapa jam. Bapak-ibu lebih lama ketemu di rumah. Orang tua harus menjadi guru di rumah masing-masing,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.