6 Kalurahan Gunungkidul Dapat SPAM, Anggaran Capai Rp1,15 Miliar
Enam kalurahan di Gunungkidul mendapat pembangunan SPAM dengan anggaran Rp1,159 miliar untuk menambah 215 sambungan rumah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto / Ist
Harianjogja.com, JOGJA—Pengamat politik UGM Arya Budi menjelaskan ada dua hal pokok yang menurutnya jadi alasan pengunduran diri Airlangga Hartarto dari kursi Ketua Umum (Ketum) Golkar.
Padahal empat bulan lagi partai itu akan menggelar Musyawarah Nasional dan kepemimpinan Airlangga terbukti sukses membawa Golkar meraih penambahan kursi di Pileg 2024 lalu.
Arya menilai, faktor pertama yang menjadi alasan Airlangga Hartarto mundur ada di dalam video pernyataannya yang tersebar luas belum lama ini. Dalam video itu, Airlangga menyinggung soal soliditas Partai Golkar, sehingga dinamika organisasi internal menurut Arya jadi salah satu penyebab Menko Perekonomian RI itu melepas jabatannya.
"Dalam video pengunduran diri, kalau pakai semiotik itu sebenarnya ada dua variabel. Pertama Airlangga mengatakan sebelum mundur, dia bicara kesolidan partai Golkar, ini tentu variabel internal," jelasnya, Senin (12/8/2024).
Selanjutnya faktor yang kedua adalah pengaruh eksternal. Airlangga juga sempat menyinggung soal pemerintahan dan keberlanjutan, sehingga Arya menilai ada keterkaitan eksekutif dengan langkah yang diambil Airlangga itu. "Karena Airlangga menggunakan narasi berdasarkan, atau melihat dan seterusnya sebelum menyatakan mundur," ungkapnya.
Arya menambahkan, dua hal itu hanya berdasarkan analisisnya terhadap video pengunduran diri yang dirilis Airlangga. Namun alasan utamanya tentu hanya Airlangga dan elit yang berkepentingan yang tahu. Di sisi lain para petinggi, senior dan pengurus Golkar pun mengaku terkejut dengan aksi pengunduran diri Airlangga itu.
Di sisi lain, Arya menyebut mundurnya Airlangga juga membuktikan bahwa Golkar bukan partai patron seperti partai lainnya yang mengandalkan satu sosok saja. Kemudian ada pula isu soal tokoh Golkar yang berada di lingkaran kekuasaan Presiden Jokowi yang ikut serta dalam memberikan dinamika di dalam kepemimpinan partai.
"Tidak menutup kemungkinan beberapa kandidat yang sudah direkomendasikan di bawah Airlangga akan mengubah peta pencalonan juga di Pilkada. Implikasinya bisa kompleks," katanya.
Arya juga mengomentari soal sosok di luar Golkar yang kemungkinan bakal menggantikan posisi Airlangga sebagai Ketum baru. Hal itu menurut dia sulit terealisasi, sebab harus ada upaya merubah AD/ART partai dan mengkonsolidasikan berbagai faksi yang ada di tubuh Golkar saat ini agar semuanya satu suara.
"Kalau terjadi, kecil kemungkinannya meski mungkin harus mengkonsolidasikan seluruh faksi di Golkar, karena senior Golkar kan juga punya kepentingan," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Enam kalurahan di Gunungkidul mendapat pembangunan SPAM dengan anggaran Rp1,159 miliar untuk menambah 215 sambungan rumah.
Sebanyak 212 orang berhasil dievakuasi dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok. SAR melanjutkan pencarian pada Kamis.
Heatstroke dapat mengancam nyawa saat cuaca panas. Kenali gejala, pertolongan pertama, dan kelompok yang lebih rentan mengalaminya.
Djumari, 76, meninggal saat tadarus Al-Qur'an di Masjid Nurul Huda Semarang. Detik-detik kepergiannya terekam CCTV dan viral.
Polisi menangkap dua orang terkait dugaan penistaan agama di The Sounds Project Ancol. Enam saksi telah diperiksa.
Destry Damayanti diusulkan menjadi Gubernur BI oleh Prabowo. Simak profil, pendidikan, perjalanan karier, dan rekam jejaknya di Bank Indonesia.