Progres Tol Jogja-Solo Tembus 85 Persen, Ruas Sleman Segera Tersambung
Progres Tol Jogja-Solo Seksi Trihanggo-Junction Sleman capai 85%. Ditargetkan selesai Oktober 2026 dan segera tersambung ke Tol Jogja-Bawen.
Foti ilustrasi seismograf gempa bumi - StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah Marliyani menjelaskan keberadaan sesar aktif sulit dipetakan.
Hal ini tidak lepas kondisi wilayah Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi menyebabkan tingkat erosi dan pelapukan batuan yang juga tinggi. Dampaknya, bukti-bukti keberadaan sesar aktif di permukaan menjadi sulit ditemui.
Namun Gayatri mengungkapkan kejadian gempa dengan magnitudo besar maupun kecil bisa menjadi petunjuk keberadaan sesar aktif. Petunjuk ini dapat didedah dan dijadikan fokus penelitian serta pemetaan yang lebih terperinci.
"Untuk sesar yang sudah teridentifikasi, potensi dampak yang timbul harus dipetakan dengan baik sehingga area terdampak bisa mempersiapkan diri. Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi sesar aktif juga harus meningkatkan kewaspadaan," kata Gayatri, Selasa (24/9/2024).
BACA JUGA: KAI Beri Tenggat hingga Jumat Besok Warga untuk Mengosongkan Bong Suwung
Sebelumnya gempa magnitude 5,0 terjadi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024). Sehari berselang, Gempa juga terjadi di Morotai, Maluku Utara dengan magnitude 5,6.
Tiga hari kemudian tepatnya Sabtu (21/9/2024), Kabupaten Gianyar, Bali, juga dilanda gempa dengan kekuatan 4,8 magnitude. Selanjutnya di Kalimantan Barat, pada Minggu (22/9/2024), Kabupaten Sanggau juga tidak luput dari gempa bumi dengan kekuatan 4,4 magnitude.
Lalu pada Selasa (24/9/2024), gempa bumi dengan magnitude 6,4 mengguncang Gorontalo selama beberapa detik.
Kejadian gempa yang terjadi sepanjang bulan September di Indonesia disebut Gayatri berasal dari sistem sesar dan mekanisme yang berbeda atau dengan kata lain gempa-gempa tersebut tidak saling terkait.
Dia menambahkan Indonesia yang ada pada wilayah tektonik aktif dan berada pada pertemuan banyak lempeng bumi sehingga kejadian gempa di hampir seluruh wilayah Indonesia umum dijumpai.
"Sumber gempa ada yg berada di zona subduksi di laut, dan ada yang berasal dari sesar aktif di darat. Kejadian gempa di kedua zona ini tidak saling mempengaruhi," katanya.
Kendati dihimpit oleh banyak sesar aktif daratan dan zona megathrust, Gayatri mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Dia justru menekankan pada pentingnya edukasi dalam beradaptasi dan memitigasi dampak dari bencana gempa.
Langkah awal yang bisa dilakukan dalam menghadapi gempa yakni selalu waspada dengan mengetahui ancaman gempa yang mungkin terjadi.
Gayatri juga meminta agar masyarakat melakukan perencanaan di berbagai level hingga ke lingkungan keluarga.
"Melakukan persiapan pribadi tentunya, jadi kita sudah paham, kalau terjadi gempa apa yang harus kita lakukan. Minimal kita sudah siap tas siaga bencana," katanya.
Di sisi lain kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan dalam menghadapi bencana gempa dinilai Gayatri perlu ditingkatkan agar bisa optimal.
Sebagai langkah konkret, Gayatri menggarisbawahi pentingnya edukasi kebencanaan yang konsisten dan terus-menerus dilakukan oleh pemerintah bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya.
"Edukasi ini bertujuan untuk menjaga kesiapsiagaan masyarakat tanpa menimbulkan ketakutan yang berlebihan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Progres Tol Jogja-Solo Seksi Trihanggo-Junction Sleman capai 85%. Ditargetkan selesai Oktober 2026 dan segera tersambung ke Tol Jogja-Bawen.
Daftar mobil listrik murah 2026 di Jogja mulai Rp100 jutaan, cocok untuk mobilitas harian dan hemat biaya BBM
Lima pendaki tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Maros. Satu orang meninggal dunia dan empat lainnya selamat.
Pemkab Sleman bekerja sama dengan 34 perguruan tinggi DIY untuk memperluas akses pendidikan melalui Beasiswa Sleman Pintar 2026.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp81.300 per kg berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia, Senin (25/5/2026)
Kemenkes mencatat 1.443 kasus pemasungan penderita skizofrenia hingga triwulan I 2026 dan mendorong penguatan layanan jiwa