Pemkab Magelang Perkuat Data Kependudukan, Kunci Tekan Kemiskinan
Pemkab Magelang perkuat data kependudukan untuk tekan kemiskinan. Inovasi pelayanan cepat hingga 1 jam terus dikembangkan.
Perwakilan pedagang Pasar Godean menggelar audiensi dengan Ketua DPRD Sementara Sleman Gustan Ganda di Gedung DPRD Sleman, Rabu (25/9/2024).
Harianjogja.com, SLEMAN–Ratusan pedagang Pasar Godean menggelar aksi di Gedung DPRD Sleman, Rabu (25/9/2024). Aksi dipicu lantaran para pedagang dipaksa oleh Pemkab Sleman pindah ke dalam pasar meski belum ada fasilitas dan sarana parkir yang memadai.
Hal itu terungkap saat sejumlah perwakilan pedagang melakukan audiensi dengan Ketua DPRD Sementara Sleman Gustan Ganda terkait proses pemindahan para pedagang ke Pasar Induk Godean.
BACA JUGA: Pasar Godean Baru Disebut Belum Layak Digunakan, Ini Tanggapan Disperindag Sleman
Untuk diketahui, pasar Godean telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus silam. Hanya saja, sejumlah fasilitas lainnya seperti lahan parkir yang menjadi tanggungjawab Pemkab Sleman belum dibangun.
Meski belum ada lahan parkir dan sejumlah fasilitas lainnya yang dijanjikan, para pedagang diminta untuk pindah dari pasar relokasi ke dalam pasar induk tersebut. Para pedagang akan dipindahkan oleh Pemkab ke Pasar Induk Godean pada Oktober 2024. Namun, para pedagang mengaku belum siap.
"Kalau tidak pindah, kami diancam dicoret [sebagai pemilik kios/los] ini menimbulkan kekhawatiran bagi para pedagang," ujar Bayu, perwakilan pedagang di Ruang Badan Musyawarah Kantor DPRD Sleman, Rabu (25/9/2024) siang.
Menurut Bayu ada sejumlah poin yang jadi bahan alasan para pedagang belum bisa pindah ke pasar induk. Selain tempat parkir, gledek untuk menyimpan barang, pedagang juga meminta troli untuk mengantarkan barang belanja pembeli.
“Satu poin yang perlu kami garis bawahi adalah bahwa pasar sebesar itu belum ada media parkir. Padahal lahan parkir belum ada, fasilitas lainnya seperti troli juga belum ada, jaminan keamanan juga belum ada,” ujar Bayu.
Dijelaskan Bayu, pedagang pasar di kios masih harus memasang rolling door untuk menjaga barang dagangannya. Adapun pedagang los terbuka masih harus membuat pagar penutup pakai strimin dan sebagainya. Hal itu, lanjut Bayu, membutuhkan modal tidak sedikit.
Begitu juga dengan troli yang tujuannya untuk membantu distribusi saat berjualan. Sebab selama ini, keunggulan pasar Godean salah satunya pedagang membawakan barang dagangan yang dibeli sampai ke tempat parkir. "Ini salah satu bentuk layanan kami ke pembeli," katanya.
Dia juga meminta agar DPRD Sleman bisa menghentikan proses sosialisasi yang saat ini berjalan karena dari poin 1, 2, 3 belum disediakan oleh Pemkab. “Karena belum ada kejelasan dari pihak Pemkab, kami mau ditempatkan di mana belum tahu, kok sudah disosialisasikan untuk segera pindah," kata Bayu.
Karena belum lengkapnya fasilitas yang tersedia, para pedagang minta agar proses pemindahan diundur pada 2025 atau setelah seluruh fasilitas tertata dengan baik. Dia berharap perpindahan dilakukan pada tahun depan yakni setelah Lebaran agar pelanggan masing-masing pedagang tidak lari.
"Karena Lebaran jujur kami momen penting, kami butuh modal banyak, kami mohon hentikan sosialisasi pemindahan pedagang Pasar Godean," katanya.
Koordinator Aksi, Paryanto mengatakan, demo dilakukan agar aspirasi para pedagang bisa diperhatikan. Pasalnya, lokasi Pasar Godean yang dibangun dinilai belum layak untuk dipergunakan aktivitas jual beli. Menurut dia, ada beberapa alasan kenapa pedagang di pasar darurat belum mau pindah. Alasan pertama, di lokasi Pasar Godean hingga sekarang belum ada fasilitas parkir yang memadai.
Di sisi lain, pedagang di los pasar juga meminta diberikan fasilitas tempat penyimpanan barang dan troli untuk mempermudah pengangkutan barang dagangan. Paryanto berpendapat, kondisi pasar yang baru berbeda dengan sebelum dilakukan pembangunan.
Ketua Sementara DPRD Sleman, Gustan Ganda, mengatakan aduan yang telah disampaikan oleh para pedagang akan menjadi bahan pertimbangan bagi Pemkab untuk mengambil keputusan. Data-data tersebut akan dijadikan bahan diskusi dan pertimbangan sebelum keputusan diambil.
“Tentunya dalam mengambil keputusan ini, kami mempertimbangkan data-data fakta lapangan, dan catatan besar adalah tidak kembali menimbulkan permasalahan lanjutan. Kami akan pakai data dari para pedagang ini untuk berdiskusi mencari langkah terbaik yang akan kita putuskan,” ujar Gustan.
Terkait penolakan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan boyongan pedagang dari lokasi pasar darurat ke Pasar Godean Baru dijadwalkan dilakukan Oktober 2024. “Maaf belum bisa memberikan tanggapan [soal penolakan oleh pedagang] karena belum mendapatkan informasinya,” kata Mae.
Disinggung mengenai lokasi parkir yang belum ada, Mae tidak menampik tempat parkir permanen baru dibangun di tahun depan. Kendati demikian, hal tersebut bukan menjadi masalah dikarenakan, sudah ada koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk penyiapan kantong parkir sementara bagi pedagang maupun pengunjung di Pasar Godean.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Magelang perkuat data kependudukan untuk tekan kemiskinan. Inovasi pelayanan cepat hingga 1 jam terus dikembangkan.
Polisi mengungkap tarif day care ilegal di Pakem Sleman mencapai Rp50 ribu per hari. Orang tua mengaku menitipkan bayi karena sibuk bekerja.
Kejagung masih menyelidiki dugaan pengurusan perkara yang menyeret Aspidum Kejati Sumsel Atang Pujiyanto.
Afgan menyiapkan 30 lagu hit untuk konser Retrospektif di Jakarta pada Juli 2026, termasuk Terima Kasih Cinta hingga Panah Asmara.
KNKT masih menyelidiki penyebab kecelakaan KRL di Bekasi Timur dengan memeriksa CCTV, black box, dan sistem persinyalan kereta.
IDAI mengingatkan bahaya monkey malaria yang menular lewat nyamuk dari monyet ke manusia dan bisa memicu infeksi berat hingga kematian.