Petani Gunungkidul Dapat Bantuan Program Mina Padi Rp1 Miliar
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Penjual beras di Pasar Tradisional. - Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Perdagangan Gunungkidul terus menggencarkan program Gerakan Kembali Belanja ke Pasar (Gebyar). Program ini dengan tujuan untuk menggeliatkan roda perekonomian di pasar tradisional.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan, pasar tradisional memiliki peran yang penting di Masyarakat. Ia tidak menampik dengan adanya perkembangan teknologi maupun persaingan dengan toko modern, maka eksistensi dari pasar ini mulai berkurang.
BACA JUGA: Bulan Imunisasi di Gunungkidul Capai 93 Persen
Oleh karena itu, pihaknya melakukan inisiasi dengan program Gebyar agar Masyarakat kembali mau berbelanja ke pasar sehingga geliat perekonomian tetap bisa berjalan. “Dengan Gebyar, kami ingin mengajak Masyarakat kembali meramaikan pasar,” kata Kelik kepada wartawan, Minggu (21/9/2025).
Menurut dia, pasar tradisional bukan sekadar tempat berjual beli. Namun, keberadaannya juga sebagai tempat berinteraksi sosial Masyarakat, baik antar pedagang, pedagang dengan pembeli atau sesama pembeli.
“Tentunya kami juga mendukung dengan beberapa program untuk menyukseskan Gebyar. Sebab, juga ada program rehabilitasi pasar tradisional agar representatif bagi pembeli maupun menjual,” katanya.
Ditambahkan Kelik, program gebyar tidak hanya untuk menjaga omzet para pedagang. Namun, dampak dari peningkatan pedagang inilah juga ikut berperan dalam menjaga keberlangsungan roda perekonomian di Bumi Handayani.
“Jadi banyak dampaknya karena roda ekonomi tetap terjaga,” katanya.
Kelompok Subtansi Pendapatan, Bidang Pengelolaan Pasar, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ramelan Supama mengatakan, program Gebyar merupakan langkah untuk menjaga eksistensi pasar tradisional di Bumi Handayani. Ia tidak menampik, dari tahun ke tahun ada penurunan tingkat kunjungan ke pasar sehingga berpengaruh terhadap aktivitas jual beli maupun pendapatan para pedagang.
“Memang tren menurun. Makanya, ada program agar Masyarakat bisa kembali membeli ke pasar,” katanya.
Menurut Ramelan, menurunnya tingkat kunjungan ke pasar tidak lepas perubahan pola perilaku Masyarakat. Di tengah perkembangan informasi dan teknologi ikut memberikan dampak karena jual beli secara online berkembang dengan pesat.
“Masyarakat sekarang banyak yang membeli secara online sehingga jarang ke pasar. Kondisi ini juga makin diperparah dengan tingkat daya beli yang menurun sehingga makin berdampak terhadap kunjungan ke pasar trandisional,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Libur sekolah 2026 diprediksi mendongkrak wisata Karanganyar. The Lawu Group perketat keamanan, hadirkan promo, dan optimistis kunjungan meningkat.
Investigasi mengungkap dugaan hacker Rusia berada di balik peretasan Jaguar Land Rover yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar.
Prabowo Subianto mengungkap pertanyaannya kepada profesor tentang gandum, sawit, dan industri mobil Indonesia dalam Sarasehan Kebangsaan.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.