Masuk Bursa Gubernur BI, Purbaya Ikuti Keputusan Presiden Prabowo
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum menerima arahan Presiden Prabowo terkait bursa calon Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Panen padi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menyebut ada empat kapanewon di wilayahnya yang menjadi sentra produksi padi. Pada Januari hingga September 2024, produksi padi di Sleman mencapai sebanyak 178.899 ton yang diperoleh dari luas panen 29.749 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3 Kabupaten Sleman Suparmono, mengatakan rincian panen padi sawah seluas 29.279 hektare dan padi ladang seluas 470 hektare.
"Produksi panen padi 178.899 ton tersebar di 17 kapanewon, dengan sentranya di Sayegen, Moyudan, Minggir dan Godean," katanya, Jumat (11/10/2024).
Ia mengatakan produksi padi di Kabupaten Sleman diperoleh dari budi daya pada lahan sawah atau disebut padi sawah dan dari budi daya padi lahan kering/ladang.
Budi daya padi sawah mengandalkan air irigasi dan air hujan. Khusus padi lahan kering/ladang hanya ada di wilayah Prambanan yang hanya mengandalkan adanya air hujan, karena memang tidak adanya irigasi air yang memungkinkan untuk diambil.
"Kami mengupayakan irigrasi pipanisasi untuk mendongkrak produksi padi dan indeks pertanian," katanya pula.
Sebelumnya, Peneliti Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM Wahyudi Kumorotomo mengatakan wilayah Moyudan ini banyak lahan bero (tidak ditanami). Hal ini disebabkan petani hanya berpikir, tanaman pangan hanya padi. Tapi dengan adanya hama tikus, tim peneliti dari UGM mengubahnya dengan tanaman talas.
BACA JUGA: Pembebasan Lahan Tol Jogja-Bawen Dikebut, Seksi 1 Tembus 95,29%, Seksi 6 Capai 78,06%
Selain itu, alasan dipilihnya talas karena pemeliharaannya mudah, dan tidak terlalu sulit. Di Moyudan ini, ketersediaan air irigasi cukup melimpah. Sehingga cocok untuk tanaman talas.
"Kami perlu meyakinkan kepada petani bahwa tanaman talas ini juga sangat menghasilkan seperti tanaman padi," katanya.
Namun demikian, Wahyudi mengakui masa tanam talas relatif lama, yakni sekitar tujuh bulan. Sedangkan tanaman pagi hanya tiga bulan sudah panen.
Menurutnya, menanam talas dengan waktu enam bulan jauh lebih menghasilkan dari pada padi. Terlebih hanya dibiarkan bero. "Dengan adanya tanaman talas ini, jauh lebih menguntungkan," katanya.
Lebih lanjut, Wahyudi mengatakan permintaan talas ini sangat tinggi. Nanti, tim dari UGM akan mendampingi petani menjual hasil panen tanaman talas ini. "Permintaannya cukup banyak. Peluang pasar sangat terbuka," katanya lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum menerima arahan Presiden Prabowo terkait bursa calon Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Jalan Jetis-Karangsemut Bantul ditutup 29-31 Juli 2026 untuk pemasangan box culvert dan pengaspalan. Simak jadwal serta jalur alternatifnya.
Produksi perikanan budidaya Sleman mencapai 29.167 ton dengan nilai Rp810,7 miliar hingga Juni 2026. Pemkab mewaspadai dampak musim kemarau.
Seorang PNS Dinkes Kulonprogo rutin bersepeda ontel ke kantor untuk menjaga kebugaran sekaligus mendukung efisiensi BBM usai harga Pertamax naik.
Pelajari cara membuat gambar dan mengedit foto dengan Gemini AI menggunakan prompt yang tepat agar hasil visual lebih akurat dan menarik.
Coba 4 gerakan olahraga ringan setelah bangun tidur selama 5–10 menit untuk membantu tubuh lebih bugar, lentur, dan siap beraktivitas.