Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Ilustrasi panen padi - ist/ngawikab.go.id
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja melibatkan daerah penyangga untuk memenuhi ketahanan pangan Kota Jogja. Hal ini diperlukan karena Kota Jogja tidak memiliki lahan yang cukup untuk ketercukupan persediaan pangan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Sukidi, menjelaskan pemerintah bersama semua elemen masyarakat memiliki tanggung jawab dalam menjamin ketersediaan pangan bagi setiap individu dengan jumlah dan mutu yang layak, sehingga dapat terwujud ketahanan pangan pada suatu daerah.
Ketahanan pangan diukur dengan tiga aspek yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatannya.
“Ketiga aspek tersebut tidak bisa dipenuhi secara mandiri oleh Pemkot Jogja, mengingat luas lahan pertanian yang terbatas hanya 25 hektare, dengan produktivitas gabah kering panen 5,8 ton dengan konversi beras 63,8 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/11/2024).
Aspek penting yang dilakukan selama ini, lanjut Sukidi, adalah menjaga distrbusi serta stabilisasi pasokan dan harga pangan. Melalui kerja sama yang dijalin dengan daerah-derah penyangga di DIY maupun luar DIY.
“Untuk kerja sama dengan daerah penyangga, yang dilakukan adalah menjaga aspek distribusi agar ketika sampai di Kota Jogja harga pangan tidak terlalu tinggi. Tapi juga tetap menjaga stabilitas di sektor pertanian dari hulu sampai hilir supaya tidak ada yang dirugikan,” terangnya.
BACA JUGA: Ekspor Vaksin, Bio Farma Teken Kontrak Rp1,4 Triliun untuk 2025
Sejalan dengan itu, Ketua Tim Kerja Pengembangan Dunia Usaha Bidang Perekonomian Badan Perencanaaan Pembangunan (Bappeda) Kota Jogja, Prillia Astuti, mengatakan terwujudnya ketahanan pangan bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan.
“Kondisi ketahanan pangan juga berkaitan dengan kondisi kemiskinan suatu daerah, di mana kemiskinan akan mendorong kesenjangan konsumsi pangan, yang juga berdampak pada peningkatan prevalensi stunting karena tidak mendapat pangan bergizi dan berkualitas,” katanya.
Maka strategi Pemkot dalam peningkatan ketersediaan pangan, dilakukan melalui upaya peningkatan produksi pangan beragam, penyediaan pangan yang aman dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah daerah yang optimal.
Akademisi Universitas Widya Mataram, Bangun Putra Prasetya, memaparkan ketahanan pangan dapat terwujud jika didukung dengan akses fisik, sosial dan ekonomi yang memadai untuk mendapatkan makanan yang bermutu, bergizi dan beragam.
“Aspek ekonomi berkaitan dengan kemampuan keuangan untuk membeli pangan yang cukup dan bergizi. Pada aspek fisik bicara soal keberadaan infrastruktur untuk mencapai sumber pangan. Kemudian aspek sosial tentang modal sosial yang digunakan untuk mendapatkan dukungan informal dalam mengakses pangan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 29 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
Pemilih lintas domisili diminta diatur dalam revisi UU Pemilu, termasuk soal representasi politik bagi warga yang mencoblos jauh dari daerah asal.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengingatkan 87 calon lurah untuk menghindari politik uang menjelang Pilur 2026.