Dua Wakil Indonesia Lolos, Drama Warnai Kualifikasi Malaysia Masters
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Ilustrasi sapi perah./ bisnis.com
Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Ketahanan Pangan dan Petenakan (DKPP) Kabupaten Bantul berharap ada bantuan sapi perah dari Kementrian Pertanian dalam waktu dekat. Pasalnya, pada 2023 dan 2024, DKPP Kabupaten Bantul menyebut jika populasi sapi perah sangat sedikit dan bahkan tidak ada.
"Padahal pada era 1980an, banyak sapi perah di Kabupaten Bantul. Namun, dalam perkembangannya saat ini, populasinya tidak ada," kata Kepala DKPP Kabupaten Bantul Joko Waluyo, Rabu (13/11/2024).
Sementara berdasarkan data BPS, jumlah sapi perah di Kabupaten Bantul terus mengalami penurunan. Pada 2021, BPS mencatat ada 68 ekor sapi perah. Jumlah tersebut menurun menjadi 29 ekor sapi perah pada 2022. Lalu pada 2023 ada 28 ekor sapi perah dan 2024 tidak ada.
Joko sendiri enggan menyebutkan kenapa sapi perah di Bantul terus menurun, bahkan saat ini tidak ada. Meski demikian, Joko mengaku pihaknya tetap berkeinginan agar mendapatkan bantuan sapi perah tersebut, kata Joko, sampai saat ini belum terealisasi. DKPP akan berusaha meminta bantuan dari Kementan agar mendapatkan bantuan berupa sapi perah secepatnya.
"Karena kami melihat, di Bantul potensial untuk bagi pengembangan sapi perah," jelas Joko.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bantul Novriyeni mengatakan, saat ini sejatinya populasi sapi perah di Kabupaten Bantul masih ada. Hanya saja jumlahnya tidak sampai belasan.
"Sejauh ini hanya ada beberapa. Seperti di Banguntapan itu ada dengan skala kecil, sekitar 10an sapi perah. Itu pun, kandangnya dilakukan modifikasi, karena sapi perah butuh treatmen khusus, utamanya dalam hal suhu," katanya.
Yeni mengungkapkan, sejatinya Bantul pernah berjaya dengan sapi perahnya pada 1980an. Hanya saja, dalam perkembangannya, para peternak memilih membudidayakan sapi potong, ketimbang sapi perah. Sebab, selain karena kondisi alam yang tidak cocok, harga susu yang dibeli oleh para tengkulak cenderung rendah.
"Oleh karena itu, akhirnya populasinya terus menurun. Peternak lebih suka membudidayakan sapi potong. Karena perawatannya juga lebih mudah dan harganya cenderung tinggi," ungkapnya.
Meski ada kendala dalam hal cuaca, Yeni mengaku pengembangan sapi perah di Bantul sejatinya masih memungkinkan. Para peternak yang ingin mengembangkan sapi perah harus melakukan modifikasi kandang, karena sapi perah butuh suhu ideal antara 22 °C–24 °C. Selain itu, sapi perah pun khusus yang merupakan sapi peranakan sapi negara sub tropis dengan lokal.
"Tinggal dimodifikasi saja kandangnya. Ditambah kipas, agar suhunya tetap terjaga. Selain itu, hijauan pakannya harus lebih banyak, karena diambil susunya dan minumnya juga harus banyak,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Kemhan siapkan Bandara Kertajati menjadi pusat MRO pesawat Hercules Asia untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia
Prabowo ungkap alasan turun langsung menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.
Menlu Sugiono memastikan Indonesia terus berkoordinasi untuk menyelamatkan 9 WNI peserta flotilla kemanusiaan Gaza yang ditangkap Israel.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sidang DPR RI untuk menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan RAPBN 2027
Dinkes Kota Jogja memastikan belum ada kasus hantavirus pada 2026 dan mengimbau warga waspada penularan dari tikus