Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Ilustrasi banjir/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Sleman berharap sekolah memiliki inisiatif untuk membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Hal ini dikarenakan dari Pemkab Sleman tidak ada anggaran untuk pembentukan SPAB pada 2025.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Henry Dharma Wijaya, menjelaskan untuk 2025, tidak ada penganggaran untuk pembentukan SPAB maupun Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana). “Hanya ada anggaran untuk penguatan kapasitas Kaltana,” ujarnya, Sabtu (7/12/2024).
Pada Kaltana, BPBD Sleman sudah tidak lagi membentuk karena memang pada akhir 2024 sudah terpenuhi 86 kaltana di semua kalurahan di Sleman. Sedangkan untuk SPAB sebenarnya masih ada kekurangan cukup banyak. “Sekolah di Sleman ada lebih dari 2.000 sekolah, sementara baru ada 91 yang terbentuk SPAB,” katanya.
91 sekolah yang sudah memiliki SPAB tersebut terdiri dari tingkat SD, SMP, SMA dan SMK. Ia mengaku untuk membentuk SPAB di semua sekolah di Sleman akan sangat sulit jika hanya bergantung pada BPBD Sleman.
Dalam program BPBD Sleman, pembentukan SPAB memakan anggaran cukup besar karena dilaksanakan selama tujuh hari. Setiap harinya, harus dianggarkan setidaknya konsumsi untuk seluruh pihak yang terlibat. “Anggaran untuk sekali pembentukan SPAB itu Rp60 juta,” katanya.
Maka ia berharap dari pihak sekolah dapat menginisiasi pembentukan SPAB di sekolah masing-masing. “Kalau sekolah mau berinisiasi pembentukan SPAB, nanti BPBD akan memfasilitasi itu bisa. Tapi belum ada [sekolah] yang melakukan,” kata dia.
Dengan skema ini, BPBD Sleman bisa membantu menyediakan fasilitator dan narasumber. Sedangkan biaya operasional dibebankan ke sekolah. Jika inisiatif datang dari sekolah, anggarannya pun bisa menyesuaikan dengan kemampuan sekolah.
“Jadi mereka yang menginisiasi, terus kami datang ke sekolah sebagai fasilitastor atau narasumber. Kami juga bisa berkoordinasi dengan NGO [Non-Government Organization] yang bergerak di bidang kebencanaan,” paparnya.
Keberadaan SPAB ini penting mengingat bencana bisa terjadi di mana saja termasuk di lingkungan sekolah. Dengan sudah memiliki bekal yang cukup, diharapkan semua warga sekolah bisa melakukan mitigasi ketika bencana terjadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Rupiah ditutup melemah ke Rp17.655 per dolar AS. BI siapkan intervensi agresif di pasar valas dan obligasi.
DPR mendesak Kemenlu bergerak cepat menyelamatkan WNI yang ditangkap Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla ke Gaza.
Menkomdigi Meutya Hafid mengecam Israel usai menahan jurnalis Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Penembakan di Islamic Center San Diego menewaskan lima orang. KJRI San Francisco memastikan tidak ada WNI menjadi korban.