Cakupan UHC Bantul Turun Jadi 98,67 Persen, Dinkes Pastikan Masih Aman
Cakupan UHC Bantul turun tipis menjadi 98,67 persen pada Juli 2026. Dinkes memastikan angka tersebut masih di atas target minimal 98 persen dengan dukungan angg
Sejumlah warga mengakses layanan dapur umum yang bisa difungsikan saat bencana terjadi dalam program IDEAKSI di Bonhargo, Kretek, Bantul, Kamis (12/2/2026). - Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL—Program mitigasi bencana berbasis masyarakat di Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Bantul, menarik perhatian delegasi lima negara yang datang untuk belajar langsung praktik pengurangan risiko bencana dan krisis iklim yang telah berjalan tiga tahun terakhir.
Kehadiran warga negara asing (WNA) dari Filipina, Guatemala, Jepang, Inggris, dan India menegaskan Tirtohargo mulai dilirik sebagai rujukan mitigasi bencana berbasis komunitas.
Rombongan tersebut difasilitasi oleh Yakkum Emergency Unit (YEU) dalam skema kemitraan inovasi lintas negara, dengan komposisi perwakilan hub inovasi Indonesia, Filipina, dan Guatemala serta negara koordinator Jepang dan Inggris.
Di pesisir selatan Bantul yang akrab dengan ancaman gempa dan tsunami, para delegasi tidak hanya mengikuti forum diskusi. Mereka turun langsung ke lapangan, menyusuri titik rawan, berdialog dengan warga, serta mendengar pengalaman para penggerak lokal yang membangun kesadaran mitigasi bencana dari tingkat keluarga hingga kalurahan.
Project Manager YEU, Jessica Novia, menjelaskan kunjungan tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama antarnegara mengenai inovasi berbasis masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Program itu merupakan bagian dari IDEAKSI (Ide, Inovasi, Aksi, Inklusi) yang menyasar Kebon Tirtohargo atau Bonhargo.
“Program ini mempertemukan mitra dari beberapa negara untuk berbagi pembelajaran dan pendanaan. Di Indonesia, kami memperkenalkan inovasi yang sudah berjalan dan peserta bisa melihat serta mendengar langsung dari para inovator di lapangan,” ujar Jessica, Kamis (12/2/2026).
Selama berada di Tirtohargo, delegasi mengikuti kunjungan ke sejumlah titik kegiatan sekaligus membahas strategi keberlanjutan program dan peluang replikasi di wilayah lain. Kolaborasi lintas negara ini dinilai penting untuk memperluas jejaring sekaligus memastikan praktik mitigasi bencana berbasis masyarakat tidak berhenti pada satu desa saja.
Di Tirtohargo, khususnya Bonhargo, program berjalan dengan dukungan pemerintah kalurahan sehingga kesinambungannya relatif terjaga. Inovasi masyarakat bahkan telah mengakses pendanaan dari dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memperkuat fondasi program secara kelembagaan dan pembiayaan.
“Kami berharap praktik baik ini semakin dikenal luas dan bisa direplikasi di desa-desa lain,” katanya.
Koordinator Sanggar Edukasi Pengurangan Risiko Bencana Inklusi Bonhargo, Agus Maksum, menuturkan selama tiga tahun pelaksanaan, program mitigasi bencana telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Anak taman kanak-kanak (TK), pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), masyarakat umum, lansia, hingga kelompok perempuan menjadi sasaran edukasi berkelanjutan.
Di tingkat kalurahan, warga telah menyusun Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) dan rutin menggelar simulasi. Edukasi juga dilakukan secara berkala, termasuk saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
“Karena wilayah kami pesisir, ancaman utamanya gempa dan tsunami, juga angin kencang serta banjir. Sosialisasi kami lakukan rutin, baik kepada anak-anak maupun masyarakat,” ujar Agus.
Menurutnya, kekuatan mitigasi bencana di Tirtohargo terletak pada pendekatan inklusif. Edukasi tidak hanya menyasar kelompok rentan, tetapi juga para pendamping atau caregiver mereka, sehingga saat bencana terjadi, para pendamping memahami prosedur penyelamatan yang tepat. Pendekatan inklusi inilah yang membuat model mitigasi bencana Tirtohargo dinilai layak menjadi referensi pengurangan risiko bencana di tingkat internasional, seiring meningkatnya perhatian global terhadap ketahanan komunitas pesisir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cakupan UHC Bantul turun tipis menjadi 98,67 persen pada Juli 2026. Dinkes memastikan angka tersebut masih di atas target minimal 98 persen dengan dukungan angg
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 11 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan. Cek jadwal lengkap Palur-Yogyakarta dan tarif KRL Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 11 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur dan tarif Rp8.000.
Sopir taksi online berinisial ARA ditahan setelah dilaporkan atas dugaan pelecehan terhadap penumpang perempuan di Jakarta Barat.
Nusron Wahid menyebut integrasi data dan percepatan pelayanan pertanahan dapat mempersempit celah mafia tanah.
KAI Daop 6 Yogyakarta menyediakan Wi-Fi gratis di 33 stasiun dengan kecepatan hingga 400 Mbps. Simak daftar stasiun yang mendapat fasilitas