Jemaah Haji Gunungkidul Tiba di Makkah, Siap Jalani Puncak Ibadah
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, SLEMAN—BMKG DIY mengimbau kepada masyarakat di Jogja dan sekitarnya untuk mewaspadai potensi cuaca esktrem yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi. Pasalnya, dalam beberapa hari ke depan berpotensi terjadinya hujan dalam intesitas sendang hingga lebat.
Kepala Stasiung Meteorologi, BMKG DIY, Warjono mengatakan, hasil analisis terkini mengidentifikasi adanya Bibit Siklon 91S di Samudera Hindia Barat Daya Lampung dan Bibit Siklon 93S di barat Australia. Hal yang sama juga terjadi di perairan NTT terlihat Bibit Siklon 94S.
BACA JUGA: Seluruh Wilayah di Pulau Jawa Harus Siaga Bencana hingga Awal 2025
Kondisi ini yang membentuk wilayah konvergensi atau daerah pertemuan angin di sepanjang Pulau Jawa yang membuat penambahan uap air di Pulau Jawa termasuk di wilayah DIY.
Di sisi lain, hangatnya suhu permukaan air laut di sekitar perairan Jawa menunjukkan adanya potensi penambahan massa uap air didukung kelembapan massa udara di lapisan 850 mb-700mb yang basah 80% - 98%.
Kondisi ini yang dapat meningkatkan aktivitas pertumbuhan awan sehingga berpotensi terjadinya hujan dalam beberapa hari ke depan. “Akan ada potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan,” kata Jojo, sapaan akrabnya saat dihubungi Kamis (12/12/2024).
Menurut dia, berdasarkan hasil Analisa yang dilakukan, maka pada Jumat (13/12/2024) ada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan juga angin kencang di Kota Jogja, Sleman, Bantul bagian Timur, Kulonprogo bagian Utara dan Gunungkidul.
Hal yang sama juga terjadi pada Sabtu (14/12/2024), hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di Kota Jogja, Sleman, Bantul bagian Timur, Kulonprogo bagian Utara dan Gunungkidul.
“Kami mengimabu kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang, khususnya untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana,” katanya.
BACA JUGA: Sudah 355 Kejadian, Magelang Waspada Bencana Hidrometeorologi
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, untuk antisipasi bencana saat musim hujan sudah menetapkan siaga darurat bencana hidromterologi hingga akhir Februari 2025.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, personel BPBD sudah disiapkan untuk diterjunkan pada saat terjadi musibah yang dapat terjadi kapan saja. Untuk mengurangi dampak dari bencana, Bambang juga meminta kepada Masyarakat untuk mewaspadai hujan deras yang disertai dengan angin kencang. Pasalnya, fenomena ini berpotensi mengakibatkan pohon tumbang.
Oleh karena itu, sebagai bentuk dari mitigasi bencana di awal penghujan, Bambang meminta kepada Masyarakat untuk berhati-hati. Selain itu, juga ada imbauan memangkas dahan dan ranting pohon di sekitar rumah yang telah rindang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko adanya pohon tumbang.
“Dahan-dahan yang telah lapuk juga dipotong. Selain itu, saluran air juga dibersihkan agar tidak memicu terjadinya genangan air saat hujan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Sebanyak 1.021 warga Sleman gagal donor darah awal 2026, mayoritas karena Hb rendah. PMI pastikan stok aman.
Keributan misa GMS Bantul dipicu izin belum lengkap. Polisi mediasi kedua pihak, situasi kini kondusif dan tetap jaga toleransi.
Tawuran remaja di Magelang dipicu tantangan Instagram. Dua pelajar luka parah, lima pelaku diamankan polisi.
Polemik GMS Bantul berujung kesepakatan. Ibadah tetap boleh, namun wajib lengkapi izin. Polisi siap tindak pelaku intimidasi.
Survei Abacus Data: 80% warga Kanada nilai AS di jalur salah. Faktor Trump dan kondisi global jadi pemicu kekhawatiran.