Hadapi Kekeringan, Pemkab Sleman Siapkan Anggaran dan Dropping Air
Pemkab Sleman menyiapkan anggaran dan memantau pasokan air di 17 kapanewon untuk menghadapi potensi kekeringan musim kemarau.
Koin Jagat. /Playstore.
Harianjogja.com, SLEMAN—Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Nurul Aini menanggapi fenomena permainan Koin Jagat yang banyak dimainkan oleh para penggemarnya.
Fenomena permainan Koin Jagat bukanlah hal baru. Di Indonesia fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi kala demam pokemon booming dengan konsep yang serupa dengan Koin Jagat. Dari waktu ke waktu permainan seperti ini selalu menarik antusiasme tinggi dari masyarakat.
Waktu luang yang tersedia dan akses teknologi yang tidak terbatas menambah laku permainan ini. Ditambah lagi moda permainan yang berhadiah uang tunai tentu saja menarik minat. "Literasi digital yang rendah menyebabkan maraknya fenomena ini," kata Aini dalam siaran tertulis Kamis (23/1/2025).
Aini menilai overstimulasi terhadap hiperrealitas akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial. Pasalnya kehidupan sosial sendiri lanjut Aini merupakan realitas sehingga manusia tidak dapat melakukan interaksi-interaksi di dunia nyata.
Tak hanya itu, aspek adiksi atau kecanduan juga dianggap Aini ada dalam permainan koin ini. Padahal kecanduan dalam sosiologi merupakan suatu problem sosial. Ada banyak sekali problem sosial yang menyebabkan kecanduan seperti alkohol, judi, pinjol yang memiliki efek adiksi dan apabila tidak dikelola akan menyebabkan adiksi.
"Efek kecanduan ini meningkatkan kriminalitas dan konflik serta merugikan tidak hanya dari segi material tetapi juga dari segi emosional," ujarnya.
Bagi Aini seluruh pihak wajib turut aktif dalam menanggulangi masalah ini. Pihak developer kata Aini punya tanggung jawab utama dalam mengembangkan permainan yang lebih aman dan tidak merugikan masyarakat. "Terutama hak pengguna fasilitas umum adalah yang paling utama dan wajib dilindungi," ujarnya.
Pemerintah sebagai pemegang regulasi menurut Aini wajib mengontrol perkembangan gim yang ada di Indonesia. Selain itu pemerintah juga harus mendorong masyarakat untuk lebih melek teknologi dan memiliki literasi digital yang baik. Sebab, masyarakat yang sudah mendapatkan literasi akan lebih mudah untuk memfilter apa yang mereka mainkan.
"Apabila dirasa membahayakan lebih baik untuk menghindari saja karena ini bukanlah sebuah prestasi kerja sehingga tidak selayaknya kita mengejar itu," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman menyiapkan anggaran dan memantau pasokan air di 17 kapanewon untuk menghadapi potensi kekeringan musim kemarau.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan berdasarkan data resmi KAI Access.
BMKG memprakirakan mayoritas wilayah di DIY cerah pada Kamis 13 Agustus 2026. Bantul berpotensi berawan, sementara Kota Jogja terpanas.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.